Eksotisme Reruntuhan Candi Beng Mealea


Morning Sunshine at Beng Mealea

Morning Sunshine at Beng Mealea

Beng Mealea! Candi yang ditambahkan ke UNESCO World Heritage Tentative List pada tanggal 1 September 1992 di dalam kategori Kultural ini, merupakan reruntuhan Candi yang paling eksotis yang pernah saya kunjungi dari seluruh Candi yang ada di Kamboja. Kondisinya yang luar biasa berantakan, dengan bebatuan bertumpuk-tumpuk bekas galeri dan menara-menara yang benar-benar telah runtuh dan berada tersembunyi di tengah hutan, dengan akses jalan yang cukup terbatas, ditambah dengan waktu berkunjung yang dilakukan pada saat matahari masih malu-malu memancarkan sinarnya karena baru terbit, memberikan suasana Candi Beng Mealea benar-benar eksotis beraroma magis, jika tidak boleh mengatakan sebagai spektakuler. Saya memang sengaja berangkat dari Siem Reap pada pk 05.00 pagi untuk berkunjung ke Candi Beng Mealea.

Candi ini terletak sekitar 80 km di sebelah timur Siem Reap, Cambodia, mengarah ke Candi Preah Khan yang ada di Kompong Svay. Beberapa waktu lalu, akses ke Candi Beng Mealea masih sangat sulit dicapai karena sangat terpencil dan belum dibangun jalan kearah candi. Namun dengan dibukanya jalan kearah Candi Koh Ker dan Tbeng Mancheay dan jalan ini melewati Candi Beng Mealea, otomatis jumlah turis yang berkunjung ke Beng Mealea meningkat pesat walaupun masih termasuk Candi yang remote dari wilayah Angkor.

Beng Mealea sendiri dalam bahasa Khmer berarti kolam bunga teratai (lotus) dan ahli percandian sepakat bahwa candi ini memiliki gaya bangunan yang menyerupai Angkor Wat. Dan walaupun  sejarahnya belum diketahui secara pasti, berdasarkan gaya arsitekturnya, diduga Candi ini dibangun pada jaman kekuasaan Raja Suryavarman II pada awal abad 12. Sepertinya dibuat sesudah Baphuon dan sangat dekat dengan pembangunan Angkor Wat. Aslinya merupakan sebagai Candi Hindu, namun didalamnya terdapat pula penggambaran motif-motif Buddha.

Penyebab kehancurannya juga belum diketahui dengan kondisinya yang berantakan, apakah alami atau karena sebab lain. Dugaan ini datang karena banyaknya bebatuan yang runtuh disamping bangunan yang benar-benar bertahan hingga kini.

Menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan merasakan aura serta atmosfir Candi Beng Mealea, sungguh saya sangat terkesan dengan Candi ini. Sebagian besar berupa reruntuhan dan belum direstorasi, dengan pepohonan, semak dan lumut yang tebal menyelimuti, berakar di hampir seluruh bangunan. Bebatuan candi tampak tergeletak bertumpuk-tumpuk di tanah. Luar biasa berantakan tapi meninggalkan jejak-jejak kemegahan. Sebuah Mahakarya yang sungguh Eksotis. Tidak dapat dipungkiri fakta yang terbentang adanya ambisi membangun sebuah Candi megah di kondisi iklim tropis, tempat tumbuhan bisa jadi mendukung tetapi lebih banyak yang merusak, dan jejak bangunannya dapat bertahan selama 8.5 abad. Luar Biasa!

Dan berbeda dengan Candi Ta Prohm di Angkor Thom, yang pepohonan dan semak-semaknya diatur pemotongannya, Candi Beng Mealea benar-benar dalam keadaan aslinya bersama pepohonan yang tumbuh. Kondisi ini memang bagi saya sangat luar biasa, lagi-lagi eksotis, sesuatu yang benar-benar menantang untuk dijelajahi. Tetapi tentu saja demi keamanan pengunjung, akan lebih baik menggunakan seorang pemandu yang mengerti lokasi ini.

Salah satu yang saya sukai dari Candi Beng Mealea ini, adalah ukurannya yang manusiawi. Memang lebih kecil daripada Angkor Wat, tetapi bukan berarti sepele.  Sebagai monumen Raja, konon Candi Beng Mealea ini merupakan salah satu Candi terkenal yang pernah ada dalam periode Kerajaan Khmer. Dari para ahli percandian dikatakan gallery paling luarnya memiliki panjang hampir 200meter. Selain itu pula, Candi ini tadinya berada di tengah-tengah ibukota, dan dikelilingi oleh kolam buatan yang sangat besar sepanjang 1 kilometer! Terjadi 8.5 abad yang lalu…

Secara garis besar Candi Beng Mealea yang menghadap Timur ini dapat digambarkan sebagai bangunan satu lantai di dalam wilayah persegi yang berbatasan dengan kolam selebar hampir 50meter yang mengelilinginya. Terdapat empat jalur lurus konsentris berpusat pada tengah Candi membentuk sebuah jalan pelintasan (walkway) dengan balustrada tubuh Naga dengan kepala berjumlah tujuh pada pada ujung-ujungnya hingga ke teras. Dilanjutkan dengan jalan pelintasan yang ditinggikan dengan kolom kecil hingga ke Gapura. Di bagian dalam dari dinding keliling bergapura dibagi lagi menjadi area-area persegi yang saling bersilangan dengan library di kanan kiri dengan Pusat Candi yang memanjang. Di bagian Selatan terdapat bangunan tambahan.

Beng Mealea South Gopura and Walkway

Beng Mealea South Gopura and Walkway

Narin, pemandu saya, mengajak memasuki kompleks Candi dari arah Barat yang atmosfir hutannya lebih terasa. Dari jalan setapak yang masih tanah hingga akhirnya terbuka makin luas yang menunjukkan sebuah jalan pelintasan (walkway) lebar namun sedikit terbengkalai. Balustrada tubuh Naga sudah terpotong-potong dan Naga berkepala tujuh sudah tergeletak di tanah. Walaupun demikian, kondisi bilah batu kecil yang dipress sebagai dasar jalan masih tetap terjaga. Sampai di teras yang bersilang, terbentang jalan pelintasan yang ditinggikan diatas kolom-kolom kecil dengan batu yang dipotong lebar melintang.  Tumpukan batu menghalangi saya ke Gapura Barat. Ada pohon fig yang cukup besar tumbuh tepat di depan Gapura Barat.

Pengunjung tidak mungkin masuk ke dalam area Candi melalui Gapura manapun karena semua Gapura telah runtuh, sehingga saya mengikuti Narin untuk turun dari teras bersilang tadi kearah kiri dan menyusuri bagian dari dinding (galleri) Utara yang masih berdiri. Disudut Barat laut tampak batu-batu besar bertumpuk bercampur pohon fig, dan gundukan tanah rayap. Matahari hanya menyentuh bagian atas pepohonan. Hanya ada kesunyian dan terlihat dekorasi Devata didalam ceruk berpahat indah.

Yang menyenangkan, ada cabang pohon tumbuh lentur melengkung rendah sangat dekat dengan tanah sehingga dapat diduduki. Narin mengatakan bahwa banyak turis lain menganggapnya sebagai ayunan sehingga sering kali dijadikan spot foto.

Saya terus melangkah diatas tanah pelataran menuju gerbang utara. Situasi hening karena saya merupakan pengunjung pertama Candi. Terdengar suara kicauan burung diantara binatang hutan lainnya. Di depan Gapura Utara yang juga runtuh, saya melihat anak kecil memanjat bebatuan dengan sangat lincahnya. Saya bertanya kepada Narin, apakah dia melihat apa yang saya lihat? Si anak kecil itu?😀 Diantara yang runtuh ke tanah itu terdapat pahatan indah Dewa Wisnu yang mungkin menjadi hiasan ambang pintu gapura.

Karena semua gapura dan pintu masuk runtuh, saya memasuki area dalam candi melompati dinding pembatas Utara dari tangga yang tersedia tidak resmi. Di baliknya terdapat sebuah library yang dilekati oleh pohon fig. Saya juga melihat adanya jalan pelintasan yang ditinggikan untuk sampai ke library bagian utara

Berjalan pelan-pelan di bagian dalam dinding (enclosure) dan di atas tanah di dekat library tadi, saya menemukan sebuah kotak yang berbentuk tidak biasa. Cukup terkejut mendapat jawaban dari Narin, bahwa menurutnya kotak batu itu merupakan sebuah peti mati yang berpindah tempat dan biasanya terletak di bagian pusat. Tetapi siapakah yang memindahkan batu besar itu? Entahlah!

Perjalanan masih dilanjutkan dengan menikmati pemandangan library yang mendapat kelembutan matahari pagi. Saya sangat menyukai pencahayaannya yang lembut menerpa dinding library. Puas menikmati, kaki melangkah lagi menyusuri bagian luar dari dinding enclosure dalam. Akar-akar pohon yang menjuntai biasanya dimanfaatkan pengunjung untuk bergaya seperti Lara Croft dalam Tomb Raider yang mengambil adegan di Candi ini pula.

Candi-candi Angkor memiliki kekhasan yaitu bentuk kisi-kisi pengaman dari jendela berbentuk silinder berulir. Sangat indah makna ketidakpresisiannya, yang menunjukkan kehebatan tangan pembuatnya lebih dari delapan ratus tahun yang lalu.

Kekaguman akan keindahan Candi Beng Mealea ini kian menjelma. Di ujung jalan yang saya susuri, tidak ada jalan lain kecuali menuruni tumpukan blok batu berlumut hingga sejajar permukaan tanah, untuk sampai di pintu gallery berkubah. Sebuah lorong cukup gelap langsung menyambut saya. Hebatnya, struktur lorong ini terjaga dengan sangat baik, dengan plafon melengkung seperti kubah. Udara yang terasa mengalir lancar serta dinding polos tak didekorasi.

Diujung lorong saya siap menerima kejutan lain lagi. Saya menaiki tangga kayu yang tersedia di pintu keluar dan voila! Saya telah berada di bagian dalam dari enclosure dalam, di area tengah Candi Beng Mealea. Di hadapan saya terbentang tumpukan batu berlumut diantara pohon-pohon yang tumbuh bebas. Lalu apa menariknya sebuah tumpukan batu tak beraturan itu? Bagi saya, tumpukan batu yang runtuh diantara vegetasi dan lumut sangat mengundang rasa ingin tahu atas suatu kemegahan yang telah bertahan dan menyesuaikan diri terhadap alam selama ratusan tahun. Bongkahan blok batu berbobot ton-ton dengan ukuran super besar itu menimbulkan pertanyaan, bagaimana cara blok batu itu bisa sampai kesini, diangkat dan diletakkan pada tempatnya yang menghasilkan sebuah bangunan megah?

Pelan-pelan saya menyusuri jalan kayu yang disediakan Apsara Authority yang bertanggungjawab atas Candi ini sehingga kelestarian Candi bisa terjaga. Di sebuah sudut dalam enclosure, terdapat pohon yang telah mati ditumpangi oleh pohon fig, sang predator. Pohon inangnya ini sudah keropos berlubang sementara pohon fig justru tumbuh subur tegak diatas dinding candi.

Setelah menyusuri dinding enclosure dalam di sisi Barat dan memutar Pusat Candi, di sudut Barat Daya, jalan kayu itu membentuk tangga ke atas dan sampailah saya pada sebuah titik tertinggi di dinding Selatan dari enclosure dalam. Saya berada pada garis aksial pusat Candi dan sejajar pula dengan Gapura Selatan yang runtuh itu. Dari balik lengkung sisa-sia Gapura Selatan terlihat Walkway lebar. Membayangkan 8.5 abad yang lalu, hanya bangsawan yang berkesempatan melihat jalan lintas masuk dari arah Pusat Candi yang tertinggi ini.

Di posisi tempat saya berdiri menghadap Selatan dapat disaksikan dua buah ruangan tertutup di sebelah kanan dan kiri, yang diduga menjadi ruang tambahan dengan dekorasi Pintu Palsu, yaitu pahatan berupa bentuk pintu yang tidak bisa dibuka. Pedimen diatas pintu menunjukkan Varuna menaiki Naga dengan para penari di bagian bawahnya.

Ruang tambahan di sebelah timur merupakan sebuah ruangan berdinding empat halaman kecil dan dinding yang sebagian menyatu ke ruang dalam dan memiliki lorong sempit diantaranya. Sedangkan ruang tambahan di sebelah Barat mirip dengan yang ada di bagian Timur namun hanya terdiri dari dua halaman. Konon di sini merupakan tempat pertunjukan tutur/lisan tanpa musik atau tarian sakral. Sisi lainnya diduga sebagai ruang penyucian diri karena ditemukan jejak talang air dan sisa-sisa gerabah.

Penyusuran Candi terus dilakukan dengan menyeberangi Pusat Candi yang dahulu berfungsi sebagai pusat pemujaan dan kini berupa tumpukan batu tak beraturan. Di sudut Timur Laut dinding dalam enclosure dalam terdapat lintel Dewa Wisnu dalam perannya dalam Churning of Sea Milk. Di bagian tengah terdapat potongan batu dengan relief Dewata dengan kain bergaris vertical, pahatan yang sangat indah dan detil. Ada juga relief makhluk dengan gesture kaki yang membuka. Lintel yang lain adalah Dewa Wisnu yang sedang menaiki Garuda.

Beng Mealea Stone and Trees

Di sebuah sisa dinding yang masih berdiri, Narin meminta saya untuk memperhatikan sebuah balok batu yang penuh dekorasi dan diselimuti oleh pohon fig. Batu itu tampak cemerlang berwarna hijau kebiruan seperti baru. Cukup aneh. Tetapi alam menunjukkan kearifannya. Reaksi kimia akibat pemeliharaan alam yang tak tersentuh campur tangan manusia pada batuan Candi yang terbuat dari batuan pasir kehijauan, membuatnya menjadi balok batu dengan pahatan cantik yang tampak bersih dan warnanya semakin indah. Para ahli percandian menduga, batuan pasir kehijauan diambil dari Phnom Kulen, pusat pengambilan batuan pasir dan dikirim melalui kanal buatan karena candi ini  hanya berjarak 7 km dari Phnom Kulen.

Jalan selanjutnya di sudut Timur Laut ini telah dipenuhi tumpukan batu reruntuhan atap. Ada pilihan memutar atau mengambil jalan pintas. Banyak turis dengan adrenalin tinggi justru memilih yang belakangan, dengan memanjat, menaiki batuan dan melompat. Seperti Temple Run!

Dalam perjalanan, saya melihat banyak kondisi. Pohon fig yang menempel pada blok batu itu kadang lurus, kadang melengkung. Ada sebuah posisi yang membuat saya tersenyum.

Beng Mealea – Face from tree

Ranting cabang pohon fig itu membentuk kotak layang-layang dengan dua lubang batu diantara kotak itu menimbulkan kesan mata. Ditambah daun untuk hidung dan mulut, voilaa… jadilah gambar manusia di blok batu. Lucu!

Saya berjalan terus dan mengarah keluar. Lagi-lagi terdapat pintu palsu dengan pahat hiasan diatas ambang pintu yang sangat detil dan indah. Seperti Dewa Indra yang sedang duduk di atas gajah berkepala tiga, Dewa Wisnu naik Garuda dan lain-lain. Selain itu pada titik Tenggara ini, ada pedimen luar biasa di atas pintu di kanan, yang menampilkan dewa naik badak. Ini adalah Dewa Agni, dewa api, penjaga arah Tenggara, yang bertanggung jawab menjaga posisinya di bagian Tenggara candi. Di seberangnya tampak sebuah library yang telah runtuh sebagian.

Sambil berjalan mengakhiri perjalanan mengelilingi Candi, saya melihat di bagian dasar dinding, akar pohon fig tampak menembus dinding Selatan Candi sehingga dinding tampak melengkung. Bahkan disudut barat daya, Narin menunjukkan saya pohon yang sekarat ditempeli oleh dua pohon fig.

Setelah keluar, saya masih menyusuri dinding Selatan dan menemukan Naga berkepala lima terpahat cantik dan detil. Kerumitan dekorasi ini mengingatkan akan Candi Banteay Srei yang juga sangat detail, halus dan luar biasa indah. Di sudut Barat Daya terlihat devata dengan kain dan hiasan yang lengkap.

Meninggalkan Candi Beng Mealea, saya bertemu dengan anak-anak lokal yang sedang menggembala sapi yang dibiarkan bebas merumput di sekitarnya. Saya pernah membaca bahwa sejak dahulu hutan Candi ini memang menjadi tempat fauna yang cukup beragam dan bahkan dulu dijadikan tempat berburu. Berminat?

Satu pemikiran pada “Eksotisme Reruntuhan Candi Beng Mealea

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s