Ladang Pembantaian: Semoga Tak Akan Terjadi Lagi


Mengunjungi Cheoung Ek berarti menyiapkan hati melangkah di atas neraka yang pernah terjadi di Kamboja. Sebuah neraka yang diciptakan oleh manusia yang telah berlaku seakan-akan menjadi Tuhan atas kehidupan manusia lainnya demi sebuah ideologi.

Karena dalam periode yang sangat kelam dalam kehidupan bangsa Kamboja selama 3 tahun 8 bulan dan 20 hari, -dari tahun 1975 hingga 1979-, mereka yang terjebak dalam situasi dan kondisi yang berseberangan ideologi saat itu harus menemui ajalnya setelah melalui penderitaan lahir batin yang panjang. Tidak hanya pria dewasa, melainkan perempuan, anak-anak bahkan bayi sekalipun. Tak pandang siapapun dan Cheoung Ek menjadi salah satu saksi bisunya. Di sana terkubur secara massal manusia-manusia yang tak beruntung pada periode yang sangat kelam itu.

Lalu setelah tiga dekade setelah neraka itu berhasil dilumpuhkan, saya mendatangi Cheoung Ek, dan seperti yang saya katakan di atas tadi. Mengunjungi Cheoung Ek berarti menyiapkan hati untuk bisa menerima bahwa sebuah peristiwa yang sangat buruk pernah terjadi di dunia ini.

Tak sebanding dengan derita para korban yang telah mendahului meninggalkan kita semua, melangkah di Cheoung Ek, seperti melangkah penuh kengerian seakan-akan kehidupan berhenti. Bisa jadi itu adalah langkah-langkah terpaksa dari Sovann, Phala, Narin, Heng atau siapapun mereka yang didorong dengan senjata terhunus dalam keadaan mata tertutup menuju akhir hidupnya

Mereka telah mengalami begitu banyak derita di penjara Tuol Sleng atau penjara-penjara mengerikan lainnya di seluruh negeri. Dengan dipaksa menaiki truk, mereka menuju Cheoung Ek hanya untuk dimusnahkan. Bagi penguasa saat itu, mereka bukan lagi manusia, melainkan sampah yang harus dibuang.

Di Cheoung Ek, mereka yang dianggap serendah binatang, diturunkan dengan paksa dari truk. Mereka yang tak bisa berbuat apa-apa kecuali diam seribu bahasa, diperlakukan tak selayaknya sebagai manusia.

The place where the truck stopped
300 per day

Sebagian besar dari mereka yang diturunkan dari truk langsung diakhiri hidupnya oleh manusia-manusia kejam yang menjunjung tinggi ideologinya yang tak lagi punya rasa kemanusiaan. Dan karena semakin banyak manusia tak beruntung yang diturunkan dari truk, para algojo itu kewalahan untuk membunuhnya. Maka sebagian kecil dari para korban mendapat tambahan waktu hidup dengan dipenjara sementara. Entah adakah gunanya mendapat tambahan nafas untuk sekian jam itu…

Bahkan manusia kejam itu tak mau repot dengan  menghabisi hidup para korban dengan tenaganya. Mereka para algojo itu tinggal menyiramkan DDT dan bahan kimia lainnya ke tanah untuk memastikan orang-orang yang dikubur hidup-hidup itu akan kehilangan nyawanya, lagipula bagi manusia tak berhati itu, DDT itu penting untuk membaurkan bau yang timbul.

Dan dalam lubang-lubang, -akhirnya setelah tahun 1979 diketahui merupakan kuburan massal-, ditemukan begitu banyak korban dengan kondisi yang sangat tidak layak. Ada sebuah lubang yang menampung 450 jasad manusia. Bahkan saat meninggal pun, manusia-manusia tak berhati itu pun tak memperlakukannya dengan baik. Bagaimana mungkin 450 jasad manusia ditumpuk bersama-sama padahal lubang itu juga tak luas?

Dan di sebuah lubang lain ditemukan 166 jasad manusia yang tak lengkap karena tak ada kepalanya. Lagi pula untuk apa memisahkan kepala dari badannya ketika sudah kehilangan nyawa? Tetapi saat mereka masih hidup saja, mereka sudah dianggap seperti sampah, maka tak heran saat meninggalpun mereka tak peduli.

Dan kesedihan, kehancuran rasa itu berlangsung ketika mengetahui ada sebuah lubang yang berisi lebih dari 100 korban perempuan dan anak-anak. Tidak hanya itu, karena kebanyakan dari para korban di lubang itu tak berbusana.

Bahkan jika pohon bisa bicara, ia akan menyampaikan keluhannya karena batangnya yang besar dan keras itu digunakan untuk memukulkan bayi dan anak-anak hingga mereka meregang nyawa.

Mengunjungi Cheoung Ek membuat diri merasa bersalah, karena rasanya saya melangkah di atas baju-baju dan tulang-tulang para korban yang terangkat ke permukaan tanah karena hujan terus menerus yang menimbulkan banjir dan menggerus tanah. Bahkan setelah berdekade, sisa tubuh korban masih berserakan di sana.

Berjalan di Cheoung Ek adalah menapak di atas sebuah neraka dunia tempat manusia tak memiliki nilai karena sebuah ideologi. Menapak di atas sebuah penderitaan yang sangat hebat, tempat hilangnya kemanusiaan.  

Semoga tak akan pernah terjadi lagi dimanapun.


This post was written in response to the bi-weekly challenge from Celina’s Blog, Srei’s Notes, Cerita Riyanti, and also A Rhyme In My Heart, which is the 5th challenge of 2021 has the theme of Napak Tilas, Following the Footprints so we are encouraged ourselves to write articles weekly. If you are interested to take part in this challenge, we welcome you… and of course we will be very happy!

2 thoughts on “Ladang Pembantaian: Semoga Tak Akan Terjadi Lagi

  1. Aku speechless Mba. Bener banget, kadang berjalan di Choeung Ek itu bikin merasa bersalah. Selama ini aku selalu mikir kenapa ya ada rasa yg gak enak di hati, lebih dari sekedar ngeri atau sedih. Ternyata benar, itu rasa bersalah.. 😭😢

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.