Menyaksikan Mentari Tenggelam dari Tebing Preah Vihear


Preah Vihear

Preah Vihear

November tahun 2012 lalu, akhirnya saya berkesempatan untuk mengunjungi Preah Vihear, Candi Khmer yang memukau yang terletak di atas tebing 600 meter di wilayah Pegunungan Dangrek, Cambodia bagian Utara. Tidak itu saja, bahkan bisa menyaksikan sunset di situ! Memang Preah Vihear merupakan sebuah destinasi yang sudah lama berada dalam angan-angan saya untuk dapat diinjak dengan kaki, dilihat dengan mata dan disentuh dengan seluruh jiwaraga. Kesempatan datang begitu saja, ketika acara yang tadinya harus saya hadiri di Phnom Penh dibatalkan, sehingga perjalanan bisa saya ubah ke Siem Reap. Dan itinerary disiapkan secepat kilat, karena perubahan acara itu datang tidak mengetuk pintu dahulu.

Untungnya arsip lama saya tentang Preah Vihear tidak banyak berubah. Pertanyaan pertama yang selalu muncul : Apakah AMAN berkunjung ke Preah Vihear sekarang ini? Dan itu juga berlaku untuk saya, apalagi saya seorang female independent traveler.

Pertanyaan apakah AMAN itu memang wajar karena Candi Preah Vihear termasuk dalam wilayah konflik antara Thailand dan Cambodia. Banyak sumber di Internet yang dapat dijadikan referensi mengenai konflik perbatasan yang juga melingkupi wilayah Candi Preah Vihear ini. Problematik antara dua negara bertetangga yang memiliki akar budaya yang saling terkait ini memang telah berlangsung berkepanjangan. Dalam beberapa tahun terakhir ini kadang memanas dengan beberapa tembakan dan serangan terjadi lintas perbatasan, kadang hubungan dua negara ini membaik dengan dibukanya perbatasan Thailand – Cambodia yang terletak di tepi bawah Candi Preah Vihear, namun sepertinya lebih sering berada dalam situasi saling siaga. Kehidupan sehari-hari di wilayah konflik ini berjalan sepertinya normal, tetapi atmosfir tetap siaga terasakan dengan kehadiran tentara-tentara bersenjata lengkap.  Situasi seperti inilah yang akan saya hadapi di Candi Preah Vihear ini, sehingga pertanyaan berikutnya yang muncul adalah… beranikah saya menghadapinya? Saya hanya percaya pada Yang Maha Memiliki Kehidupan, jadi biarlah Dia yang memelihara kehidupan saya. Saya hanya menjalani.

Kemudian pertimbangan berat lainnya adalah transportasi untuk ke Candi Preah Vihear dalam waktu yang terbatas. Candi Preah Vihear masih termasuk destinasi dengan transportasi yang sangat terbatas dan kondisi jalan yang belum sepenuhnya mulus teraspal. Ada dua kemungkinan, yaitu dari Siem Reap menuju kota Anlong Veng dengan bus dan dilanjutkan dengan menyewa motor. Opsi lain adalah perjalanan yang lebih mulus karena beraspal namun memutar lebih jauh, yaitu dari Siem Reap kearah Timur ke Kompong Thom lalu ke arah Utara ke Tbeng Meancheay dan selanjutnya bisa menyewa kendaraan motor, yang secara keseluruhan bisa ditempuh lebih dari 1 hari.

Kedua opsi di atas bukan pilihan bagi saya yang punya keterbatasan waktu. Tidak ada jalan lain kecuali membayar lebih untuk perjalanan yang lebih singkat dan padat. Saya menyewa kendaraan dan sekaligus tourguide untuk ke Candi Preah Vihear. Dengan sedikit tambahan harga, saya ditawarkan untuk pergi ke Kompleks Candi Koh Ker dan Candi Beng Mealea dalam sehari perjalanan, yang langsung saja saya setujui. Ya! Memang ketiga destinasi remote yang luar biasa itu bisa dicapai dalam 1 hari! Berangkat subuh sebelum matahari terbit, dan sampai lagi di penginapan di Siem Reap, malam harinya.

Jadi, pada hari-H-nya setelah setengah hari dihabiskan di area Candi Koh Ker dan Beng Mealea, akhirnya menjelang sore saya sampai di lokasi parkir dan bangunan seperti sekolah yang berfungsi sebagai kantor untuk administrasi, yang berada tepat di kaki bukit yang pada puncaknya terdapat Candi Preah Vihear. Tiket masuk USD5 saya bayarkan kepada gadis Khmer yang menjaga loket di ruang kelas, kemudian saya bayarkan juga USD 5 lagi untuk sewa motor ke atas bukit. Memang untuk sampai ke Candi, turis dapat memilih untuk menyewa motor(USD5 pp) dan kendaraan 4WD (USD 20pp) untuk naik ke atas.

Melalui jalan yang teraspal mulus saya dibonceng si abang ojek dan sempat foto-foto sambil jalan. Saya bertanya-tanya mengapa mobil tidak boleh naik walaupun jalannya mulus dan pertanyaan langsung terjawab setelah beberapa saat berkelok-kelok mengikuti punggung bukit.

Jalan teraspal mulus itu baru setengah pengerjaan. Di akhir ujung aspal, si abang ojek langsung mengambil jalan pintas yang kondisi jalannya aduhai. Jalan selebar 1 mobil itu berupa jalan tanah yang berdebu, berbatu lengkap dengan lubang disana sini dan tentu saja sambil menanjak curam dengan sudut kemiringan lebih dari 40 derajat. Kondisi ini membuat saya berhenti mengambil foto dan berdoa semoga tidak jatuh! Tidak lucu jika ada adegan perempuan Indonesia terjungkal dari motor dan terpampang di media😀 Dalam keadaan seperti itu, di tempat-tempat yang strategis saya lihat tentara bersikap siaga, lengkap dengan senjata, yang tampak memperhatikan siapa saja yang lalu lalang. Akhirnya si abang ojek berhenti juga. Lega rasanya bisa turun setelah berjuang mengalahkan ngerinya ngebut di jalan jelek yang menanjak curam. Namun saya perlu memberi dua jempol kepada si abang ojek karena telah berhasil melewati segala rintangan dengan baik sekali dan selamat sampai di pintu gerbang.

P1020779aJalan masuk terhalang oleh sebuah portal. Di sisinya terdapat tulisan I have pride to be born as Khmer. Baiklah! Terasa sekali atmosfer pembangkitan rasa Nasionalisme Khmer di tempat ini. Wajar, karena berada dalam situasi konflik selalu ditekankan perjuangan bahwa tanah tempat Candi Preah Vihear berada adalah milik Cambodia. Walaupun demikian, sebagai turis saya diterima dengan baik dan penuh senyum, begitu tahu saya dari Indonesia. Tadinya saya mengira karena peran Indonesia sebagai mediator dalam pertikaian ini. Tetapi belakangan pemandu saya mengatakan karena mereka cukup terkejut, karena tebakan mereka bahwa saya adalah perempuan Khmer, salah sama sekali! Mungkin tertipu oleh penampilan wajah saya yang sangat ASEAN.🙂

Melewati portal saya harus berjalan kaki yang sedikit mendaki, memotong jalan agar sampai ke Gapura 1. Candi Preah Vihear ini memiliki 5 Gapura yang jarak antar Gapura cukup jauh. Dan berjalan kaki di bawah mentari sore yang masih terik ini membuat keringat mengucur juga.

Di pinggir jalan, sambil beristirahat, Narin, pemandu saya, menunjukkan bahwa hutan kehijauan di perbukitan seberang merupakan wilayah Thailand. Tampak bendera Thailand berkibar di atas sebuah bangunan pemantau. Saya memperkirakan bahwa posisi saya berdiri masih berada dalam jangkauan tembak mereka. Cukup dekat kan? Masih berani kesini?🙂

UNESCO & CAMBODIA Flag

UNESCO & CAMBODIA Flag

Berjalan sedikit, sampailah saya di bawah bendera UNESCO yang berwarna biru muda disamping bendera Cambodia yang berkibar. Hati saya berdesir, akhirnya bisa juga menginjakkan kaki di Candi Preah Vihear yang agung ini, sebuah destinasi UNESCO World Heritage Site saya yang ke sekian yang telah berhasil saya kunjungi. Walaupun masih sangat sedikit, tetapi ini merupakan another achievement for me!.

Candi Preah Vihear yang dibangun di puncak bukit 100 tahun mendahului Angkor Wat ini, memiliki sejarah yang tidak terlalu jelas. Candi yang didedikasikan kepada Dewa Siwa ini diperkirakan dibangun pada masa kekuasaan Suryavarman I (1002-1050) hingga masa Suryavarman II (1113-1150). Dan tidak seperti candi Khmer umumnya, Candi yang memiliki pemandangan indah ini dibangun pada sumbu utara-selatan yang sangat panjang, dan bukan berbentuk persegi panjang. Dan lokasi saya berdiri adalah diujung awal kaki Candi dan untuk sampai ke badan Candi masih harus berjalan mendaki cukup jauh.

Karena saya mengambil jalan pintas, maka saya bisa langsung sampai ke puncak tangga yang berhiaskan Naga dan Gapura, tidak jauh dari bendera PBB dan Cambodia yang berkibar tadi. Tampak ratusan anak tangga di bawah saya dan tidak jauh dari kaki anak tangga terbawah merupakan perbatasan Cambodia dengan Thailand yang sekarang ditutup. Sehingga apabila datang dari Thailand, kita harus mendaki ratusan tangga hingga ke posisi saya berdiri. Bersyukurlah saya! Di Gapura 1, tempat saya berdiri terdapat reruntuhan bangunan yang sangat cantik dengan lengkung atap yang mengingatkan saya pada Candi Banteay Srei. Pemandu saya, Narin meminta saya berdiri tepat di suatu titik dan dari sakunya ia mengeluarkan lembaran 50.000 Cambodian Riel, dengan gambar Raja Norodom Sihanouk, kemudian ia membaliknya dan saya terkejut, dari posisi saya berdiri, saya melihat pemandangan Candi yang sama dengan yang ditampilkan pada lembaran uang tersebut.

Saya menikmati suasana Candi yang sepi dari turis namun penuh keindahan dan keagungan, lalu sambil jalan Narin dengan santainya membagikan beberapa rokok kepada para penjaga Candi. Memang demikianlah aturan tidak tertulisnya. Sekali dua kali mereka bicara lebih panjang dengan Narin yang kemudian diteruskan kepada saya sambil agak tersipu. Ia mengatakan bahwa sesungguhnya mereka juga menginginkan arak, tetapi dia tidak mau memberikan karena tidak sesuai dengan agama yang dianutnya untuk bermabuk-mabukan.

Angin sore bertiup sepoi-sepoi saat menapaki jalan pelintasan (walkway) yang lebarnya sekitar sepuluh meter sambil melangkah terus menuju ke Gapura 2 dengan kondisi agak menanjak landai. Di sebelah kiri bendera UNESCO biru muda berkibar. Dan pemandangan yang terbuka lebar kearah Gapura yang terletak di atas dengan halaman rumput kehijauan di kanan kiri menambah keanggunan Candi. Jalan pelintasannya sendiri terbuat dari batuan pasir yang dipotong lebar melintang.

Menjelang Gapura 2, di sebelah kiri jalan terdapat kolam yang cukup lebar, sebesar kolam renang ukuran olympiade. Menurut penuturan pemandu saya, air kolam itu digunakan untuk makan, minum, mandi dan cuci oleh tentara dan keluarganya yang ada di sekitar Candi, mengingat air susah didapat dan satu-satunya sumber air yang melimpah adalah dari kolam yang ada di dekat Gapura 2 ini. Keberadaan kolam ini menambah kekaguman saya kepada para pendiri Candi di atas pegunungan, yang tetap membuat kolam penampung sebagai bagian dari ritual bahwa sejak jaman dulu air telah menjadi bagian penting proses ibadah.

Pelan-pelan akhirnya saya sampai ke Gapura 3 yang merupakan reruntuhan bangunan yang melebar tanpa atap dan karena pintu utama Gapura 3 tertutup kayu penahan runtuh maka saya mengambil jalan samping. Saya bertemu dengan banyak anak Khmer disitu dan seperti biasanya, anak-anak selalu memiliki dunia sendiri dengan teriakan dan tawa serta seribu satu permainan. Saya hanya berpikir, bagaimana dengan perlindungan mereka apabila terjadi serangan ke Candi? Bukankan daerah ini masih daerah konflik yang tidak aman untuk anak-anak? Ah, para malaikat penjaga kanak-kanak tentu bekerja keras untuk itu…

Kerusakan karena Konflik

Kala pikiran sedang memikirkan keselamatan anak-anak itu, Narin mengajak saya berjalan ke ujung satunya dan memperlihatkan bagian-bagian tembok Candi yang rusak karena artileri perang, yang terlihat baru. Lubang-lubang peluru dan dampak pecahan mortir tampak memenuhi dinding Candi, meninggalkan catatan bahwa Candi ini menjadi saksi sejarah pertikaian dua negara yang saling melupakan kelangsungan situs warisan budaya dunia ini yang harusnya dipelihara ini. Hati saya berdenyut melihat kerusakan ini. Manusia dan hasil karyanya…

Kemudian di ujung jalan pelintasan (walkway) antara Gapura 3 dan Gapura 4, pada saat itu disediakan  tempat persembahan dan doa bagi rakyat Cambodia yang mau mendoakan almarhum Raja Norodom Sihanouk yang mangkat bulan Oktober tahun lalu. Memang saat saya ke Preah Vihear, Cambodia masih dalam suasana duka. Sebuah foto besar Sang Bapa Raja yang meninggal di Beijing ini tampak menghiasi diatas tempat persembahan ini.

Berdiri membalikkan badan tepat di depan Gapura 4 yang berada di ketinggian atau ke arah Utara membuat nafas tertahan. Sumbu lurus utara selatan yang dibuat berpusat di setiap pintu Gapura memungkinkan kita melihat pemandangan luar biasa. Karena Gapura 4 sudah dekat dengan pusat Candi yang berada di puncak ketinggian, maka dari melalui pintu-pintu Gapura kita bisa melihat awan yang bergerak perlahan di bagian bawah. Luar biasa sekali.

Akhirnya saya berada di area halaman dalam dari Candi Preah Vihear yang agung setelah melalui Gapura 4. Pahatan di atas pintu masih terawat dengan baik. Antara Gapura 4 dan Gapura 5 terdapat halaman yang cukup luas.

Dan setelah melalui Gapura 5, saya kini berada di bagian yang paling sakral dari Candi Preah Vihear. Di sebelah kanan dan kiri terdapat galeri tertutup dengan plafon lengkung yang masih terpelihara dengan baik dengan jendela terbuka kearah tengah. Di bagian tengah terdapat ruang pemujaan dengan patung Buddha di dalamnya. Ya, walaupun Candi Preah Vihear pada awalnya merupakan candi Hindu, dalam perjalanan waktunya, candi ini mengalami konversi ke candi Buddha, seperti juga terjadi pada Candi-candi Hindu lainnya di Cambodia, mengingat kuatnya pengaruh Buddha di Cambodia hingga sekarang.

Preah Vihear Temple

Preah Vihear Temple

Puas menikmati bagian dalam Candi, Narin mengajak saya keluar. Begitu melangkah keluar, mungkin inilah kekuatan UNESCO World Heritage Site untuk Preah Vihear. Saya benar-benar terpukau dengan pemandangan luar biasa di depan saya. Dataran rendah Cambodia membentang luas sejauh mata memandang. Narin mengajak lebih dekat lagi, ke bibir tebing. Benar-benar speechless. Disinilah yang disebut dengan Pei Ta Da Cliff, tebing 600 meter ke bawah langsung. Jika tidak berhati-hati, tubuh Anda akan jatuh melayang sebelum terhempas ke batu atau menabrak pepohonan dan semak-semak.

Narin juga mengajak saya melihat sebuah cekungan di bawahnya yang berbentuk seperti gua. Ada sebuah tempat pemujaan di situ yang didedikasikan untuk seorang tokoh legenda yang hingga sekarang jasadnya tidak pernah ditemukan. Bagi orang lokal yang percaya, tokoh legenda ini tidak pernah meninggal karena ia memiliki keabadian, ia hanya hilang karena berpindah dimensi. Bagi yang percaya, kadang ia tampak dan hadir dalam kehidupan sehari-hari. Anda percaya atau tidak, terserah…

Saya kembali ke atas dan Narin membiarkan saya menikmati pemandangan dari atas tebing. Berkali-kali ia mengingatkan agar saya berhati-hati berjalan di tebing. Dan saya sangat sangat senang, karena saya bisa duduk di pinggir tebing dengan kaki berayun-ayun ke bawah. Narin seperti berhenti bernafas melihat saya dengan cueknya berjalan dan duduk di tepi tebing dengan kaki menggantung di udara.🙂

Disinilah saya duduk diam menyambut sang mentari menuju peraduannya, sepenuh hati dengan berbagai perasaan. Duduk menyaksikan matahari terbenam di tepi tebing 600 meter dan dataran rendah Cambodia terbentang luas sejauh mata memandang, dengan segala keindahannya, memang benar-benar luar biasa. Memang tidak bisa berbentuk matahari bulat karena awan yang menghalangi, tetapi nuansa oranye kuningnya menghias langit dengan luar biasa. Saya sungguh bersyukur. Target saya hanya sampai di Candi Preah Vihear yang Agung, tetapi Yang Maha Kuasa memberi tambahan kepada saya, sebuah pengalaman bisa melihat Sunset di tempat yang sangat luar biasa ini. Seperti biasa, airmata mengembang merasakan anugerah luar biasa yang tak tergantikan ini.

Sunset Dangrek Mt.

Sunset Dangrek Mt.

Saya ingin berlama-lama tetapi Narin mengingatkan bahwa si abang ojek menunggu kita dan tidak mudah turun dalam keadaan gelap. Saya tersadarkan, dengan sangat berat hati saya tinggalkan tempat dengan pemandangan spektakuler tersebut.

Dan setelahnya, bersama Narin, saya berjalan cepat berpacu dengan datangnya gelap untuk turun ke tempat abang ojek. Untunglah ada truk pick up terbuka yang lewat dan mengajak untuk ikut. Narin dan saya langsung loncat ke bak terbukanya dan mobil langsung tancap gas lagi. Kali ini guncangannya lebih hebat, karena menginjak rem tidak ada dalam kamus si sopir dan menganggap orang-orang di bak belakangnya adalah karung beras. Saya terpental-pental sambil memaki dalam hati. Walaupun demikian, saya masih sempat berfoto dengan tentara yang sama-sama terguncang-guncang seperti karung beras. Tetapi gelap yang cepat datang itu menyadarkan betapa beruntungnya saya mendapatkan kendaraan untuk turun ke tempat si abang ojek menunggu. Si abang ojek tampak tidak sabar menunggu dan langsung tancap gas turun. Kali ini jalannya lebih seram karena gelap! Tetapi setelah diguncang-guncang tak berperikemanusiaan laksana karung beras itu, apapun yang dilakukan si abang ojek malah terasa enteng. Saya bahkan sempat mengambil foto langit kemerahan yang luar biasa.

Kegelapan terasa cepat sekali menyelimuti tempat parkir. Listrik di Cambodia memang masih terbatas apalagi daerah-daerah yang masih remote. Setelah menambahkan tip pada abang ojek karena bersedia menunggu dan juga memberikan tambahan tip pada penjaga kendaraan, Narin langsung bersiap-siap untuk kembali kearah Siem Reap melalui Anlong Veng. Sesaat akan meninggalkan tempat parkir, saya menengadah menatap ke atas ke tempat Candi Preah Vihear yang diselimuti malam. Sampai berjumpa lagi Candi Preah Vihear yang agung… entah kenapa, saya yakin, saya akan kesini lagi. Mau ikut???

3 pemikiran pada “Menyaksikan Mentari Tenggelam dari Tebing Preah Vihear

  1. Reblogged this on Cerita Riyanti and commented:

    Sebagai salah satu World Heritage Site, Candi Preah Vihear di perbatasan Thailand – Cambodia memang masih berada di daerah rawan konflik antar kedua negara, Tetapi tidak menyurutkan saya untuk datang kesana tahun 2012 lalu. Candi ini memang luar biasa keren, dan tempatnya awesome…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s