Tanda Kasih Mancanegara untuk Angkor Wat


Angkor Wat, yang terletak di kawasan Angkor Archaeological Park sekitar 7 km di utara kota Siem Reap, Kamboja, memang laksana primadona di antara candi-candi di sekitarnya. Ia menjadi ‘kembang desa’, yang kecantikannya diabadikan dalam bendera negara Kamboja. Ia juga menjadi ikon negeri, yang langsung mengacu kepada Kamboja ketika disodorkan gambarnya. Ia menjadi tujuan utama bagi wisatawan yang datang ke kompleks percandian itu dan banyak dari mereka bersedia bangun lebih pagi agar bisa melihat matahari terbit dari balik menara-menara Angkor Wat atau sekedar melihat bayang refleksi Angkor Wat di kolam kecil berhias tanaman lotus. Tak terhindarkan lagi, Angkor Wat adalah Kamboja.

Tahun 1992 Kamboja bergembira karena Angkor Wat ditetapkan sebagai salah satu UNESCO World Heritage Site, -sebuah monumen pusaka dengan nilai historis yang tinggi-, yang tidak hanya dimiliki Kamboja semata melainkan menjadi kewajiban bangsa-bangsa di dunia untuk turut serta menjaganya. Dunia perlu memberikan dukungan agar generasi selanjutnya masih bisa menyaksikan betapa megah monumen yang didirikan manusia-manusia hebat dari ratusan tahun yang lalu 

Angkor Wat at Sunrise

Dan seperti juga manusia yang hidup dalam prioritas-prioritasnya, memang tidak semua negara mampu mengguyur sejumlah dana dan tenaga untuk mendukung kemegahan Angkor Wat. Mungkin paling tidak, dukungan tidak langsung dan intangible bisa diberikan dunia. 

Seperti juga negeri-negeri lain yang cermat memelihara peninggalan dari masa lalu, saat ini Kamboja telah memiliki badan resmi yang berwenang menjaga kelestarian peninggalan kepurbakalaan, yang lebih dikenal dengan APSARA. Melalui badan ini, penanganan konservasi dan perlindungan bangunan candi di seluruh Kamboja dapat ditangani dan dipantau secara terpusat. Melalui badan ini pula, setiap dukungan dari organisasi atau pemerintahan negara asing dapat disalurkan dan dikelola dengan baik. 

Tapi mengingat Kamboja lebih sering didera pertikaian politik dan berbagai macam perang sejak pertengahan akhir abad ke-20, bahkan sempat mengalami masa sangat kelam selama hampir empat tahun dalam peristiwa genosida oleh Khmer Merah sehingga membuat ekonomi negeri ini carut marut, membuat banyak pemerintahan negara lain, organisasi, badan, yayasan dari berbagai kalangan internasional selama bertahun-tahun seakan berlomba memberi bantuan dan kontribusi dalam hal konservasi, penjagaan dan perlindungan benda-benda kepurbakalaan termasuk Angkor Wat. 

Siapa saja mereka? Memang belum semuanya, namun paling tidak bisa menjadi gambaran

India

Sebagai negara dengan penduduk beragama Hindu terbesar di dunia, dapat dipahami jika India melalui ASI (Archaeological Survey of India) telah lama campur tangan dalam restorasi besar-besaran di Angkor Wat antara tahun 1986 dan 1992, mengingat pada awalnya Angkor Wat adalah candi Hindu yang beraliran Vaishnavism (Dewa Wisnu merupakan dewa utama yang dipuja) sebelum akhirnya dikonversi ke candi beraliran Budha pada abad ke-14. 

Kondisi awal sebagai candi Hindu, menyebabkan Angkor Wat berlimpah hiasan dan filosofi yang terkait dengan agama Hindu. Pekerjaan yang dilakukan ASI dari India ini tidak sembarangan karena mencakup pembersihan dinding terluar, juga melakukan rekonstruksi bangunan-bangunan yang strukturnya dinilai tidak stabil seperti library yaitu bangunan pendukung candi yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan kitab-kitab agama. Selain itu, ASI juga melakukan rekonstruksi bas-relief yang berlatar agama Hindu yang dikenal dengan nama Samudra Manthana, -dalam bahasa Inggeris lebih dikenal sebagai The Churning of The Ocean of Milk-, sebuah kisah dalam kitab Purana tentang upaya kolaborasi pada dewa dan asura untuk memperoleh air keabadian (tirta amerta) dalam proses pengadukan samudra susu-. 

The Churning of The Ocean of Milk at Angkor Wat

Tak hanya dinding luar dan bas-relief, ASI juga melakukan perbaikan struktur di galeri dan di Bakan (tempat tertinggi di Angkor Wat yang terletak pada lantai tiga dari struktur utama). 

By the way, selama ini ada pertanyaan mendasar mengapa hiasan dinding di Angkor Wat itu disebut bas-relief bukan relief saja. Dari hasil googling sana-sini, baru tersadar rupanya ‘bas-relief’ yang konon berakar dari kata Italia (basso-relievo) yang artinya relief yang dangkal atau tidak dalam, karena faktanya, hiasan Angkor Wat itu memang dangkal, hampir-hampir tidak terlihat kedalamannya sehingga lebih menyerupai penggambaran 2D. Jadi jika dibandingkan, di Angkor Wat memang tidak sedalam relief di Borobudur yang membuat jelas imajinasi akan penggambaran 3D-nya. 

Perancis

Perancis termasuk negara yang sigap sejak awal dalam menjaga kelestarian Angkor Wat. Melalui badan Ecole Française d’Extrême Orient (EFEO), negara ini membantu melakukan restorasi pada sisi selatan dari jembatan pelintasan kuno yang terbuat dari batu, jauh sebelum peristiwa genosida di Kamboja terjadi. Setelah terhenti akibat perang sipil dan peristiwa genosida serta dilanjutkan setelahnya, maka pada tahun 2000 tim EFEO bersama APSARA memulai lagi pekerjaan pemeliharaan terhadap perlintasan batu itu. 

Bagi yang pernah ke Angkor Wat, setelah berjalan melalui pelintasan batu lalu berjalan ke arah Barat Daya untuk memasuki area Angkor Wat, bisa jadi pernah melihat patung Dewa Wisnu berselimut kain keemasan berdiri dengan anggunnya di depan pintu masuk. Patung original yang dalam bahasa lokal lebih dikenal dengan nama Neak Ta ini merupakan sebuah kontribusi penting dari tim EFEO Perancis karena berhasil direkonstruksi dengan delapan tangan dalam berbagai posisinya. Sayangnya, bagian kepala yang orisinal tidak dapat dipertahankan dan perlu dilakukan penggantian.Meskipun demikian, hasil akhirnya tetaplah indah seperti asli. 

Selanjutnya, negeri yang terkenal dengan Menara Eiffel-nya ini menambah dukungan pelestarian Angkor Wat dalam bentuk sumbangan alat penangkal petir yang dipasang di puncak menara utama yang berada di tengah-tengah Angkor Wat. Seperti yang diketahui, Bakan adalah lantai tertinggi yang bisa dipijak manusia di menara utama dan dari Bakan ini, dapat dinikmati puncak menara utama yang kini telah aman dari serangan petir. 

Jepang

Dalam dekade terakhir sebelum pergantian millenium, Universitas Sophia yang berkedudukan di Tokyo (tentu saja dengan dukungan Pemerintah Jepang) tidak mau ketinggalan dalam  mencadangkan dana untuk menyelesaikan restorasi sisi utara jembatan pelintasan kuno yang terbuat dari batu (causeway). Melalui jembatan batu yang merupakan akses utama ke Angkor Wat inilah wisatawan dapat menyeberangi kolam buatan (moat) yang menjadi simbol sebagai lautan kosmik. 

Pemerintah Jepang sendiri, melalui JSA (Japan for Safeguarding Angkor) menyelesaikan restorasi library sebelah utara, yang letaknya hanya selemparan batu dari jalan utama ke bangunan inti Angkor Wat. Pekerjaan restorasi ini sudah dimulai sejak tahun 1999. 

USA 

Melalui World Monuments Fund (WMF), -sebuah organisasi nirlaba yang berpusat di New York, USA-, pada awal millenium ini telah menginisiasi sebuah studi ilmiah tentang kestabilan struktur di galeri yang menampilkan bas-relief The Churning of The Ocean of Milk atau Samudra Mathana. Tujuannya sangat mulia, karena diperlukan kesadaran bersama atas problem di Angkor Wat yang disebabkan oleh faktor alam dan terjadi pada semua relief-relief cantik yang menghiasi permukaan dinding galeri. Belakangan, jumlah orang dalam tim WMF juga ditambah selaras perluasan cakupan studi ilmiah yang mempertimbangkan konservasi batuannya juga. Tentunya tidak bisa dihindari adanya campur tangan pelestarian yang kadarnya “demi melindungi bas-relief”. Nyatanya intervensi ini menahan gerakan struktur sekecil apa pun, sehingga dapat melestarikan salah satu artefak Khmer paling penting di Kamboja.

Yang perlu dicatat dan digarisbawahi terhadap apa yang dilakukan oleh WMF, -meskipun bukan secara khusus di Angkor Wat-, proses konservasi dan pelestarian di salah satu candi di dalam Angkor Archaeological Park ini berhasil dilakukan semuanya oleh bangsa Khmer sendiri. Hal ini tentu merupakan keberhasilan tim WMF melakukan supervisi terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh tim Khmer dan bagi bangsa Khmer sendiri hal ini pasti sangat membanggakan dan dapat menjadi batu loncatan yang besar untuk pelestarian candi-candi lainnya secara mandiri oleh tim lokal dari bangsa Khmer sendiri. 

Italia

Sebagai simbol Gunung Meru yang suci dan dikelilingi oleh lautan kosmik dalam filosofis Hindu, Angkor Wat dibangun dengan menara-menara yang tinggi dan kolam buatan (moat) yang mengelilingi candi mahakarya Raja Suryavarman II ini. Tentunya dalam pembuatan moat, dibangunlah tanggul-tanggul yang berfungsi untuk menjaga ketinggian air agar tidak mengering atau justru membanjiri lingkungan sekitar. 

Ketika tanggul di bagian Barat Daya dari jalan pelintasan utama runtuh ke dalam moat karena sebab alami, dengan dana dari UNESCO dan APSARA, tim ahli rekayasa struktural geoteknik dari Italia (Ingegneria-Strutturale-E-Geotecnica) langsung mengambil langkah perbaikan tanggul dengan menggunakan bahan material teknologi tinggi untuk menstabilkan tanah. Tentunya pekerjaan ini tidak mudah, tetapi hasilnya bisa dilihat dan sangat bermanfaat hingga kini.

Tapi mereka tidak hanya memperbaiki tanggul karena Italia juga mendukung program pemantauan pergerakan struktur dinding yang berhiaskan bas-relief, karena relief-relief yang memenuhi dinding Angkor Wat itu sangat berharga. 

Jerman

Jelang akhir millenium, sekelompok ahli ilmu terapan dari Fachochschule di kota Cologne, Jerman mengembangkan program konservasi yang dikenal dengan nama “Proyek Konservasi Apsara Jerman” (GACP) yang diimplementasikan di Angkor Wat dengan tujuan yang amat mulia yaitu melatih warga Khmer melestarikan permukaan bas-relief di Angkor Wat. 

Awalnya mereka berfokus hanya pada bas-relief cantik yang menghiasi permukaan dinding Candi yang jumlahnya ribuan sosok bidadari, lengkap dengan perhiasan indah di tubuh dan kepalanya, yang belakangan dikenal dengan nama Apsara. Bagi yang pernah ke Angkor Wat, mungkin bisa memahami mengapa mereka perlu dilestarikan. Bisa jadi karena jumlahnya yang begitu banyak dan begitu indah menghiasi dinding batu Angkor Wat. 

Belakangan tim GACP dari Jerman ini juga memberikan bantuan dan saran kepada banyak organisasi internasional tentang teknik melestarikan patung-patung dekoratif dan bas-relief indah yang tersebar di candi-candi lain di Angkor Archaeological Park. 

Pada akhirnya, memang tidak dapat dipungkiri bahwa sebagai World Heritage Site, Angkor Wat memang tidak hanya dimiliki oleh Kamboja saja melainkan juga oleh dunia Internasional. Dan beruntung hingga kini, badan resmi penjaga kepurbakalaan Kamboja, APSARA semakin berperan aktif memelihara seluruh peninggalan berharga negerinya. Mereka tak berhenti menyelenggarakan berbagai seminar dan kegiatan ilmiah serta koordinasi penelitian dan implementasinya di Angkor Wat dan candi-candi lain di dalam kompleks percandian Angkor Archaeological Park. Semoga saja pengelolaan konservasi di Angkor semakin baik karena Angkor Wat adalah Kamboja.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.