Kompleks Candi Koh Ker: Pesona Sebuah Keterpencilan


Prasat Thom, Koh Ker

Prasat Thom, Koh Ker

Pada bulan November 2012 lalu saya berkesempatan mengunjungi kompleks Candi Koh Ker yang merupakan reruntuhan candi Angkor abad 10 yang terletak sekitar 120 km timur laut Angkor (Siem Reap). Kompleks Candi yang terpencil ini memiliki lusinan candi mempesona yang berupa reruntuhan dan mungkin karena berupa reruntuhan itulah dan ditambah sedikit aura mistis, kompleks Koh Ker menjadi salah satu tujuan wisata candi yang dicari turis manca negara.

Dari beberapa sumber, menurut sejarahnya, ibu kota kerajaan Khmer sebenarnya terletak di Yasodharapura, Angkor, sejak abad ke 9 dan berlangsung selama 500 tahun berikutnya dengan beberapa dekade yang masih diperdebatkan. Periode yang masih diperdebatkan ini adalah mengenai pemindahan atau pendirian ibukota sebagai rival pada tahun 928 oleh penguasa saat itu, Raja Jayavarman IV, dari Yasodharapura, Angkor, ke Chok Gargyar, yang berarti Pulau Kejayaan, atau saat itu juga dikenal dengan nama Lingapura. Tempat ini sekarang dikenal dengan nama Koh Ker, yang letaknya 120 km di timur laut ibukota lama. Di tempat ini, Raja Jayavarman IV mendirikan sejumlah candi dan juga membuat reservoir sebagai tempat penampungan/penyerapan air yang disebut Rahal. Kelihatannya, sebelum pemindahan ibukota ke Koh Ker, Sang Raja sudah melakukan persiapan berupa pengiriman sumber daya manusia seperti kontraktor, arsitek dan seniman yang terus bekerja hingga proyek selesai dan memberikan peninggalan seperti apa yang kita lihat sekarang di Kompleks Candi Koh Ker. Setelah Raja Jayavarman IV mangkat pada tahun 941, penerusnya, Raja Harshavarman II yang juga merupakan anak dari Jayavarman IV, pada akhir masa kekuasaannya di tahun 944 memindahkan kembali ibukota kerajaan ke Angkor, yang dilanjutkan oleh penerusnya yaitu Raja Rajendravarman II.

Penemuan kembali Kompleks Candi Koh Ker oleh kaum pengelana Perancis terjadi pada akhir abad 19 yang kemudian dipublikasikan sehingga mendatangkan banyak orang untuk melakukan penelitian. Dari penelitian-penelitian yang dilakukan, pada tahun 1939 terbitlah sebuah buku mengenai Seni Klasik Khmer yang terkenal ke seluruh dunia. Berpuluh-puluh tahun kemudian, barulah EFEO bersama Departemen Kebudayaan dan Seni Kamboja melakukan pendataan ulang tentang situs arkeologi yang ada di wilayah Kamboja. Negara Jepang tidak mau ketinggalan untuk membantu, dengan menerbitkan peta situs-situs, sehingga peta arkeologi di seluruh negeri Kamboja dapat dipublikasikan dan proses penyelamatan kelestarian situs dapat segera dilakukan.

Kompleks Candi Koh Ker terkenal dengan candi utamanya yang bernama Prasat Thom, selain candi-candi kecil atau reruntuhan batuan lainnya yang disakralkan seperti beberapa Lingga dan Yoni dalam ukuran sangat besar, tersebar tidak jauh dari Prasat Thom.

Banyak candi dibangun dengan menggunakan batu bata yang direkati dengan getah pohon. Dan dengan teknologi seperti itu, banyak candi di wilayah Koh Ker ini masih dengan gagahnya berdiri mencoba mengalahkan sang waktu.

Sebagaimana saat itu wilayah Kamboja masih didominasi oleh pengaruh Hindu, maka seluruh Candi di dalam Kompleks Candi Koh Ker ini dibangun dan didedikasikan untuk Dewa Brahma, Wisnu dan Siwa. Banyak di antaranya dilengkapi oleh bangunan library dan ada juga yang dikelilingi oleh sungai buatan atau parit besar. Pada jamannya, penutup atap seluruh bangunan candi diduga terbuat dari kayu, bahan yang sangat mudah dimakan usia, sehingga saat ini hanya meninggalkan lubang besar pada bagian struktur atap.

Di bagian selatan tengah dari kelompok candi ini adalah yang disebut dengan Rahal, yakni sebuah kolam buatan dengan ukuran cukup besar sekitar 1200 meter kali 500 meter, yang berfungsi sebagai reservoir dan menampung air sungai dari Stung Sen untuk kebutuhan irigasi tanah pertanian. Sayang dengan berjalannya waktu, reservoir ini menyusut dan berkurang fungsinya.

Prasat Thom

Prasat Thom yang merupakan candi utama dari Jayavarman IV dan pastinya berdiri di tengah kotanya ini, menghadap ke arah Barat, searah dengan Kota Angkor. Candi yang dibangun dan didedikasikan kepada Treypuvaneswara, Dewa Kebahagiaan ini, memiliki tinggi sekitar 40 meter dengan sisi sekitar 50 meter. Prasat Thom berbentuk piramida 7 tingkat, serupa dengan arsitektur pada jamannya yang mengambil rupa Gunung Meru. Katanya, pemandangan sangat indah dari puncaknya, namun tentu saja saya tidak dapat menaikinya karena aksesnya ditutup sebagai salah satu cara penyelamatan Candi. Konon, Ada patung Garuda di puncak teratas sebagai representasi dari tokoh pelindung dan katanya, di sini ditemukan lebih dari 40 inskripsi yang bertanggal tahun 932 hingga 1010.

Dekorasi Candi pada bagian ambang pintu, tiang, kolom, bentuk makhluk penjaga dan lain-lain dilakukan dengan teknik luar biasa indah dan berbeda dari umumnya. Dekorasi dewata atau bentukan para pahlawan tidak hanya dilakukan di dinding berupa relief, tetapi juga dibuat ukiran batunya yang cantik, berwujud 3 dimensi yang memiliki ekspresi dinamis. Banyak patung dari Candi ini diselamatkan dan kini disimpan di Museum Nasional Phnom Penh.

Prasat Krahom Koh Ker

Prasat Krahom Koh Ker

Saya beruntung bisa beristirahat dan makan siang di rumah makan sederhana yang berhadapan langsung di depan Gapura Prasat Thom, sambil menikmati pemandangan Prasat Thom dengan santai. Uniknya, Candi ini dibangun simetris mengikuti sebuah garis imaji sepanjang 600 meter yang dimulai dari bagian timur. Gerbang Utama kiri dan kanan, kemudian dilanjutkan dengan Prasat Krahom, yang merupakan candi gerbang timur Candi Utama dan memiliki menara batu bata yang sangat besar lengkap dengan patung singa penjaga, dilanjutkan dengan jalan pelintasan (causeway) Timur yang memiliki banyak kolom dan Naga. Selanjutnya masih dalam simetri garis yang sama, adalah Candi Utama yang juga memiliki banyak menara dan yang ada di pusatnya bahkan memiliki mandapa (ruangan besar). Meninggalkan Candi utama, terdapat jalan perlintasan Barat yang menghubungkan Candi dan gerbang Piramida.  Di sebelah kiri dan kanan sebelum memasuki wilayah piramida Prasat Thom, terdapat kolam buatan. Pemandangan sangat menakjubkan dari arah causeway Barat yang penuh kesejukan rimbunnya pepohonan kearah Piramida yang terletak pada dataran terbuka luas.

Prasat Balang dan Prasat Thneng dalam kompleks Candi Lingga

Prasat Linga Koh Ker

Prasat Linga Koh Ker

Sekitar 1 km dari Prasat Thom, terdapat Candi yang masih cukup utuh dengan isinya yang terdiri dari Lingga yang berdiri tegak di atas sebuah Yoni, keduanya dalam ukuran raksasa. Ujung dari Yoni yang merupakan tempat mengalirnya air yang disucikan, menembus dinding candi dan memancur di bagian luar dinding. Biasanya masyarakat umum mendapatkan aliran air yang dipercaya telah disucikan dari pancuran yang ada di bagian luar dinding candi ini.

Dasar dari menara dan lingga didekorasi dengan singa-singa yang berdiri. Berdasarkan inskripsi, dimensi lingga dari dasar adalah 4.5 meter dan diameternya sebesar 1.5 meter. Bila terbuat dari batuan pasir, bisa diperkirakan beratnya yang mencapai 24 ton.

Berdampingan dengan Prasat Thneng dan Balang ini terdapat reruntuhan Lingga-Lingga yang tidak lagi memiliki Candi yang melingkupinya. Ada Lingga yang masih tegak berdiri, namun ada juga yang sudah berserakan di tanah tanpa Yoni. Tetapi kesemuanya dalam ukuran yang sangat besar.

Prasat Pram

Prasat Pram Koh Ker

Prasat Pram Koh Ker

Prasat Pram merupakan candi yang pertama kali ditemui setelah pos tiket masuk dan berada di bagian kiri jalan. Diberi nama sesuai dengan jumlah candinya. Pram dalam bahasa Khmer berarti lima. Candi ini memang berjumlah lima dan terbuat dari batu bata. Dua diantaranya subur dilengketi oleh pohon figs yang terus berkembang biak sehingga Candi seperti terkukung erat. Tetapi keadaan inilah yang membuat Candi terlihat sangat spektakuler.

Candi ini berjejer 2 di bagian depan dan 3 buah di bagian belakang yang menandakan penghormatan kepada Trimurti.

Prasat Neang Khmau (The Black Lady Temple)

Setelah mengunjungi Prasat Pram, maka berikutnya yang berada di sebelah kanan dari jalan masuk, adalah Prasat Neng Khmau. Disebut juga dengan Candi Perempuan Hitam, mungkin karena warna Candi yang cenderung kehitaman. Tanpa harus meneliti lebih jauh, candi ini memang cenderung hitam, seperti terbakar. Ada yang mengatakan bahwa kandungan materi bahan batu bata yang digunakan untuk membangun Candi ini, mengandung kadar besi yang tinggi, yang kemudian beroksidasi dengan berjalannya waktu.

Prasat Chen (The Chinese Temple)

Candi yang terdiri dari 3 menara ini berjarak tidak sampai sekilo dari tempat penjualan tiket dan berada di sebelah kiri jalan. Dari situs ini ditemukan patung manusia dan makhluk hewan dalam ukuran besar, yang kemudian disimpan di museum Phnom Penh, termasuk patung kera yang sedang bergulat. Menurut pemandu wisata, masyarakat lokal memberi nama Chhin karena candi ini dipelihara oleh penduduk keturunan etnis China. Di Prasat Chen terdapat pecahan dari Patung raksasa Wisnu yang menandakan bahwa Candi ini didedikasikan untuk Dewa Wisnu.

Prasat Damrei

Prasat Damrei Koh Ker

Prasat Damrei Koh Ker

Candi yang terletak dalam keteduhan pepohonan ini memiliki patung gajah dan singa yang penuh dengan hiasan indah pada sudut-sudutnya, dan karenanya Candi ini dinamakan demikian (Damrei adalah gajah dalam bahasa Khmer). Sayang sekali bagian-bagian tubuh gajah tidak lengkap lagi. Candi ini, walaupun candi utamanya masih dalam taraf perbaikan dengan sejumlah kayu dan besi menopang pintu dan dindingnya, adanya patung gajah dan singa membuat candi ini menarik untuk didatangi.

Prasat Krachap & Banteay Pitchean

Prasat Krachap Koh Ker

Prasat Krachap Koh Ker

Candi yang tidak jauh dari Candi Lingga ini dan berada dalam keteduhan pepohonan ini, memiliki dekorasinya sangat indah, dengan lengkung yang menghias atap Candi. Menurut pemandu wisata, candi ini dinamakan demikian karena terdapat banyaknya krachap yang ditemui pada candi ini. Dalam pengucapan bahasa Khmer, bentuk mengulir pada dinding atap candi itulah yang disebut krachap. Candi ini sangat cantik, sayang masih terbengkalai dalam banyak gundukan tanah. Candi ini dipercaya didedikasikan untuk Dewa Brahma dan Dewa Wisnu. Pada pilarnya masih dapat dilihat terdapat tulisan dalam Sanskrit mengenai Dewa Wisnu yang sedang mengendarai Nandi.

Saya mengunjungi kompleks Candi Koh Ker, yang tidak jauh dari Candi Beng Mealea ini, memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan dengan menggunakan mobil dari Siem Reap. Sebelum memasuki wilayah Koh Ker, terdapat peta yang memberitahu tentang wilayah yang telah dibersihkan dari ranjau darat. Memang wilayah Koh Ker, merupakan wilayah yang termasuk banyak penanaman ranjau darat selama perang sipil dan Khmer Rouge berlangsung.

Yang cukup menarik adalah, walaupun masyarakat yang hidup di sekitar kompleks Candi masih merupakan masyarakat yang miskin dan di bawah garis sejahtera, belakangan ini sudah dibangun bangunan-bangunan pendukung wisata seperti fasilitas standar toilet dan restoran walaupun masih dalam tahap sederhana sehingga menarik minat banyak orang untuk datang ke kompleks candi yang terpencil dan dikelilingi oleh rerimbunan pohonan dan dimeriahkan oleh suara-suara burung yang eksotis.

Biasanya untuk mengunjungi kompleks Candi Koh Ker, dibarengi dengan kunjungan ke Candi Beng Mealea. Dan untuk mengunjungi kedua kompleks candi ini dapat dilakukan dengan meluangkan waktu seharian penuh, berangkat dari Siem Reap pada pagi hari dan kembali pada sore harinya. Sayangnya, saya tidak melihat ada kendaraan umum yang bisa digunakan untuk mencapai kedua kompleks ini, sehingga untuk mencapainya harusnya menyewa kendaraan dari Siem Reap, atau menyewanya pada desa terdekat setelah turun dari Jalan Highway 6 yang menghubungkan Siem Reap da Phnom Penh/Kampung Thom. Kondisi jalan bisa dikatakan cukup baik, beraspal, walaupun beberapa bagian tampak bergelombang.

Tiket masuk yang dikenakan untuk pengunjung adalah US$10, cukup mahal dibandingkan dengan keseluruhan Candi Angkor yang US$20 per hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s