Bersantai Sehari di Battambang


…Karena Kamboja Tidak Hanya Angkor…

Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri berlibur sehari ke Battambang, kota di seberang Danau Tonle Sap dari Siem Reap. Kota ini cukup menawan karena gedung-gedung peninggalan kolonialnya, taman-taman kota yang dihiasi berbagai patung seni dan juga kuil-kuil yang menarik. Selain itu, suasana kota lebih tenang daripada Siem Reap atau Phnom Penh.

Battambang's Riverside

Battambang’s Riverside

Sebagai kota yang jauh dari keramaian turis namun bisa dicapai dengan mudah, dengan bus atau minivan dari Siem Reap atau Phnom Penh dengan harga sekitar 12 US Dollar, perjalanan darat menuju Battambang akan dipenuhi dengan pemandangan pedesaan khas Kamboja. Bahkan pada saat air sedang pasang di musim hujan, ada transportasi lain dari Siem Reap menuju Battambang yang menarik untuk dicoba, yaitu dengan berperahu melintasi danau Tonle Sap.

Dan karena saya tiba di Battambang jelang tengah hari, saya menikmati saja acara keliling kota Battambang naik tuk-tuk selama sisa hari itu dan berjalan kaki di setengah hari berikutnya sebelum menuju Phnom Penh, yang tentu saja pasti bisa dicoba juga

Governor Residence

Tempat yang pertama kali saya datangi adalah Kediaman Gubernur. Dikenal dengan sebutan Sala Khaet, tempat ini merupakan salah satu destinasi yang harus dilihat di Battambang. Gedung bekas kediaman Gubernur terakhir Thailand bernama Chhum Aphaiwong, -karena pada tahun 1905 Battambang masih dibawah pemerintahan Thailand-, merupakan gedung cantik karya arsitek Itali. Arsitektur gedung serupa istana ini bergaya Eropa yang sangat berbeda dari tempat lain di sekitarnya yang kebanyakan bergaya Perancis, Art-deco atau bergaya Khmer modern. Walaupun tidak dapat dimasuki, halaman cantik dengan berbagai tanaman yang dipelihara dengan baik ini, membuat gedung kediaman ini sangat sedap dipandang.

Tak jauh dari gerbang yang dilengkap dengan meriam ini, terdapat jembatan batu yang dijaga dua patung singa besar dan dipisahkan oleh taman di kanan kiri yang tertata apik. Pepohonan rindang di dekatnya semakin meneduhkan pandang dan mengundang saya untuk berlama-lama menikmati suasana.

Neak Ta Dambang Kragnoung

Neak Ta Dambang Kragnoung at midday

Neak Ta Dambang Kragnoung at midday

Saya mewajibkan untuk mampir ke Landmark kota Battambang ini, yang berupa patung berkulit gelap sedang duduk bersimpuh memegang sebuah tongkat melintang di dapan dada dengan matanya yang putih terlihat jelas. Battambang memang tidak dapat dipisahkan dari Neak Ta Dambang Kragnoung yang membawa legendanya sendiri. Landmark ini berada di jalan utama Battambang menuju Phnom Penh dan sangat mudah ditemukan. Yang pasti, berlaku pepatah belum ke Battambang jika belum menginjakkan kaki di sini. Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai legendanya silakan baca ceritanya disini.

Mencoba Bamboo Train

Pengalaman menyenangkan berikutnya yang saya lakukan di Battambang adalah naik kereta bambu yang memang harus dirasakan wisatawan yang ke Battambang. Sepenggal rel yang sudah tak terpakai dimanfaatkan warga lokal untuk transportasi antar desa dengan memodifikasi kereta mesin berbasis aki. Akibatnya bila berpapasan dengan kereta lain, maka salah satu kereta harus mengalah: penumpang turun, alas duduk yang terbuat dari bambu dipindahkan, roda-roda diangkat dan membiarkan kereta bambu dari arah berlawanan itu lewat kemudian kereta kembali ditata. Bagaimana jika berpapasan lagi? Tergantung negosiasi “masinis” karena mungkin saja harus turun lagi… Selain itu, faktor kecepatan kereta dengan alas duduk tanpa shockbreaker yang bisa membuat tubuh terpental-pental melalui rel yang sudah tak lurus lagi ditambah tingkat desibel yang tinggi menjadikan pengalaman naik kereta bambu ini sangat amat menyenangkan sekali. Pokoknya seru😀

Jembatan Gantung ‘San Fransisco’

Melewati sebuah gapura bergaya Bayon yang tersenyum, saya menuju sebuah Jembatan Gantung. Jangan membayangkan sesuatu yang luar biasa, ini hanya jembatan gantung biasa tetapi menurut penuturan guide jembatan gantung ini dibuat berdasarkan donasi masyarakat yang tentu membuat saya respek pada masyarakat sekitarnya yang telah memberi makna kehidupan. Lengkung baja yang menahannya membuat jembatan ini menyerupai Jembatan San Fransisco yang terkenal itu. Bagi warga lokal keberadaan jembatan ini sangat membantu karena memotong jarak. Lagi pula membuat jembatan gantung ini lebih terjangkau biayanya daripada menunggu jembatan beton yang tidak dibangun-bangun oleh pemerintah. Berjalan di atasnya tentu saja akan bergoyang-goyang yang mungkin saja sedikit menakutkan bagi yang phobia ketinggian. Tetapi bagi saya, semakin goyang jembatan itu ya semakin seru, apalagi ada yang ketakutan hehe…

Kuil Reclining Buddha

Mengunjungi Kamboja tanpa mengunjungi kuil Buddha seperti bersantap tanpa garam. Ada banyak kuil di Battambang, tetapi kali ini saya mengunjungi kuil yang cukup menarik karena memiliki Patung Reclining Buddha dan Patung Buddha Duduk yang cukup besar serta gambar-gambar tentang kehidupan Sang Buddha. Cukup menarik untuk melihat Patung Reclining Buddha yang ada di halaman belakang karena kehadiran patung-patung lain yang sedang bersimpuh di depannya berupa patung empat muka dan seseorang berwarna biru yang didampingi seorang biksu dalam posisi memberi salam penghormatan. Kompleks kuil ini terlihat relatif baru.

Wat Damrey (Gajah)

Berikutnya saya mengunjungi Wat Damrey. Di sekeliling kuil ini terdapat beberapa shrine yang cantik, yang ternyata merupakan tempat guci abu tokoh-tokoh yang lekat dengan keberadaan kuil itu. Di sisi lain terdapat patung seseorang bangsawan terkenal dengan mahkota (kemungkinan raja) yang menunggang gajah yang disaksikan para rakyatnya dan kereta yang ditarik kuda yang disebelahnya terdapat seorang biksu yang sedang berjalan. Masih di depan gerbang kuil, terdapat patung seekor gajah cantik yang belalainya melilitkan sesuatu. Dan di sebelahnya tampak patung seorang perempuan yang bersimpuh sedang menghadap raja.

Saya mengamati di bagian kiri Kuil terdapat bangunan-bangunan yang terkait prosesi penguburan karena tak jauh dari situ tampak pusara-pusara di atas tanah. Kunjungan saya ditutup dengan mengabadikan patung seorang Bangsawan sedang menunggang kuda yang letaknya di sudut bagian depan. Mengingat situasinya, saya merekomendasikan untuk mengunjungi kuil Buddha ini di waktu matahari sudah turun atau belum naik sehingga tidak panas.

Berjalan di Pagi hari Sepanjang Tepian Sungai

Keesokan harinya sebelum kembali ke Phnom Penh, saya mencoba mengejar matahari terbit. Tetapi sayang sekali saat itu saya sedang tidak beruntung, karena awan-awan di Kamboja lebih senang bermain petak umpet dengan Sang Surya sehingga matahari terbit tidak terlihat walaupun nuansa kekuningan di ufuk Timur tetap cemerlang.

Sebagai gantinya, saya berjalan kaki di sepanjang tepian sungai. Suasana pagi yang baru merekah dipenuhi dengan semangat membuka hari yang masih menyelimuti kota. Sebuah janji akan hari yang indah. Pedestrian lebar disediakan di sepanjang tepian kiri dan kanan sungai yang tidak terlalu lebar, membuat kaki melangkah dengan nyaman saat mengamati masyarakat lokal mempersiapkan toko-tokonya atau beberapa orang bergiat melatih kebugaran tubuh ataupun anak-anak berseragam mengendarai sepeda menuju sekolah. Tak jarang terlihat rombongan biksu berjubah oranye yang telah kembali dari acara mencari donasi makanan. Semuanya memberikan aura kenyamanan dalam situasi kota yang tidak gaduh. Dan diantara kegiatan pagi yang menyenangkan itu, saya harus menahan diri terhadap godaan mencicipi sarapan di kios-kios makanan yang baru buka. Kelihatannya enak…

Menikmati keberagaman arsitektur bangunan

Salah satu yang saya sukai di Battambang adalah keragaman bentuk arsitektur bangunannya. Saat berjalan kaki di pedestrian tepian sungai saya menikmati rumah-rumah toko bergaya campuran Cina dan Eropa. Dan di ujung terdapat sebuah bangunan peninggalan kolonial Perancis yang bercat kuning dan kini dipergunakan sebagai Bank yang tampilan mukanya sangat menawan.

Masih dalam jangkauan kaki melangkah, saya menikmati salah satu pasar terkenal di Battambang yang dibangun dengan gaya art-deco yang serupa dengan Central Market di Phnom Penh. Jika masih tak puas, masih ada gedung Kantor Pos yang bergaya kolonial Perancis dan terpelihara dengan warna khas Kamboja ini bisa menambah wawasan tentang gedung-gedung cantik di Battambang.

Sayang sekali saya memiliki waktu yang sangat terbatas di Battambang. Tetapi saya percaya masih banyak sebenarnya tempat yang bisa dilihat di kota Battambang. Jadi selalu ada alasan untuk kembali, bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s