Legenda Di Balik Patung Berkulit Gelap di Battambang


Hampir setiap kota di dunia ini memiliki legenda yang melatarbelakangi kota dan cukup menarik untuk diketahui. Bahkan tak jarang legenda itu diwujudkan dalam bentuk sebuah landmark yang menjadi tempat wajib kunjung bagi para wisatawan, artinya belum pergi ke kota tersebut apabila belum menginjakkan kakinya di tempat landmark itu. Demikian juga dengan Battambang di Kamboja yang saya kunjungi beberapa waktu lalu ini.

Neak Ta Dambang Kragnoung at midday

Neak Ta Dambang Kragnoung at midday

Sebagai salah satu kota cukup besar di Kamboja, Battambang memiliki taman-taman kota yang dihiasi berbagai patung seni yang menarik. Salah satunya adalah landmark kota yang dikenal dengan Neak Ta Dambang Kragnoung

Neak Ta Dambang Kragnoung ini merupakan patung yang memiliki ketinggian sekitar 6.5 meter dan berlokasi jalan National Highway 5 tepat di tengah persimpangan menuju Phnom Penh. Patung pria berkulit gelap ini dibuat sedang duduk bersimpuh memegang sebuah mangkuk yang diatasnya terdapat tongkat melintang di depan dada dan dengan matanya yang putih terbuka dan terlihat jelas.

Siapakah sebenarnya dia?

Dari pembicaraan dengan guide ditambah sumber cerita dari sana-sini, ternyata legenda di balik patung berkulit gelap ini cukup menarik untuk diketahui.

Konon pada awal abad ke-11 Raja Kamboja yang bernama Chakrapoate, memerintahkan rakyat untuk menggali kanal untuk ibukota kerajaannya dan membuka lahan hutan di Pegunungan Dangrek dan Cardomon. Rakyat mematuhinya walaupun tidak menyukai pekerjaan itu karena tingkat kesulitannya yang tinggi.

Suatu hari, salah satu petani dari Suorn Monkhut Village, -sekarang Laos-, yang bernama Gnoung, sedang kebagian tugas memasak nasi dan saat itu ia kekurangan sendok pengaduk. Kemudian ia memotong kayu yang berwarna hitam dan membuatnya menjadi sendok pengaduk. Saat mengaduk beras yang sedang ditanak, beras itu menjadi hitam. Walaupun demikian, ia tetap memakan nasi hitam itu karena laparnya.

Secara mengejutkan ia merasakan perubahan pada tubuhnya yang menjadi sangat kuat setelah memakan nasi hitam itu. Ia membuktikan kekuatannya dengan mampu menumbangkan banyak sekali pohon, yang sebanding dengan kekuatan tujuh ekor gajah. Menyadari kekuatannya, ia pun memotong sebagian kayu hitam tadi menjadi sebuah tongkat saktinya yang akan digunakan dalam setiap pertempurannya.

Dengan bantuan kesaktian tongkat yang dimiliki, secara cepat Gnoung mendapatkan penghormatan dari orang-orang di sekitarnya dan memanggilnya sebagai Dam Bang Kragnoung (Raja Tongkat Hitam). Dengan kekuatannya ini, ia mengajak rakyatnya untuk melawan Raja Cakrapoate dan berhasil menggulingkan dari tahtanya di tahun 1001, sehingga pada saat itu pula Dam Bang Kragnoung diangkat menjadi Raja.

Raja baru memerintahkan hukuman mati bagi seluruh keluarga kerajaan sebelumnya agar keturunanan Raja sebelumnya tidak dapat mengganggu kekuasaannya dan tidak merebut kembali tahtanya.

Tapi putra sulung Raja Chakrapoate yang bernama Buttum Komar, yang saat itu berusia 13 tahun, sedang mendalami pengetahuan sebagai biksu di sebuah pagoda di hutan bersama adiknya yang berusia 5 tahun bernama Serey Komar.  Ketika pengawal kerajaan mencari keduanya namun hanya berhasil menemukan adiknya. Walaupun dilindungi ibunya, Serey Komar sempat dilemparkan ke api yang menyala-nyala namun untungnya ia berhasil melarikan diri walaupun lengan dan kakinya terbakar hebat yang menyebabkan ia lumpuh hingga ia dipanggil Prohm Kel.

Suatu malam Raja yang baru Dam Bang Kragnoung melihat cahaya aneh di langit dan peramal istana mengatakan bahwa ia akan menjadi Raja selama tujuh tahun, tujuh bulan dan tujuh hari. Ada orang bijak yang lahir di wilayah kekuasaannya dan akan datang menunggang kuda putih ke sekitar istana dan tujuh hari setelah kedatangannya ia akan menggantikannya menjadi Raja. Raja Dam Bang Kragnoung mendengarkan dengan seksama tetapi tidak takut karena ia merencanakan akan membunuh pendatang baru itu dengan tongkat hitam saktinya.

Kabar tentang orang bijak ini tersiar dengan cepat ke seluruh kerajaan termasuk ke seluruh orang-orang difabel yang menganggap akan disembuhkan olehnya. Kabar ini juga sampai ke telinga ke Prohm Kel. Lalu ia meminta izin kepada Kepala biara untuk pergi ke ibukota agar ia dapat  disembuhkan.  Setelah mendapat restu dari Kepala Biara, Prohm Kel meninggalkan biara menuju ibukota. Namun karena kondisi tubuhnya, ia tidak bisa berjalan cepat dan sering berhenti untuk istirahat karena lelah.

Saat sedang beristirahat di bawah pohon, Prohm Kel didatangi seorang tua yang menunggang kuda putih dan meminta Prohm Kel untuk menjaga sebentar kuda dan dua tasnya sementara ia pergi kesuatu tempat. Karena melihat kondisinya, orang tua itu mengikat tali kuda ke lengan Prohm Kel.

Sepeninggal orang tua itu, secara tiba-tiba kudanya menjadi marah dan menghentakkan badannya ke belakang, secara otomatis kuda itu menarik lengan Prohm Kel yang terikat tali kuda. Kekuatan ajaib tarikan kuda itu menyebabkan lengan Prohm Kel menjadi sembuh. Ia sangat terkejut namun senang. Kemudian ia juga mengikat kakinya ke kuda itu dan benarlah, kakinya juga sembuh karena hentakan dari kuda. Dan seakan isi tas-tas itu memang sengaja ditinggalkan untuk Prohm Kel, ia mengambil makanan dan menukar baju yang ada di tas itu. Tak lama kemudian ia sudah berada di atas punggung kuda itu dan pergi menuju ibukota dengan gagahnya.

Kedatangan Prohm Kel disambut dengan meriah karena telah ditunggu-tunggu, termasuk oleh Raja Dam Bang Kragnoung yang hendak membunuhnya. Raja melemparkan tongkat saktinya kearah Prohm Kel, namun tongkat itu kehilangan kesaktiannya ketika dilempar ke arah Prohm Kel dan bahkan melayang jatuh di sebuah desa yang dikenal dengan O’Dam Bang, yang kemudian menjadi nama sebuah desa di distrik Sangker di propinsi Battambang dan Perancis mengubahnya menjadi Battambang.

Karena kehilangan kesaktian dari tongkatnya, Raja Dam Bang Kragnoung akhirnya memilih untuk meninggalkan tahta untuk Prohm Kel, yang tujuh hari kemudian diangkat menjadi Raja Kamboja.

Banyak versi mengenai legenda ini. Tetapi bagi saya, sebuah legenda tidak perlu ditelusuri kebenarannya karena bagaimanapun sebuah cerita tetap saja menarik untuk diketahui. Lagi pula bagaimana bisa memastikan tradisi lisan?

Neak Ta Dambang Kragnoung at Night

Neak Ta Dambang Kragnoung at Night

Satu pemikiran pada “Legenda Di Balik Patung Berkulit Gelap di Battambang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s