An Amazing Trip to Phnom Kulen


Dengan membonceng sepeda motor, saya meninggalkan bandara Siem Reap lalu melewati keteduhan hutan-hutan yang melindungi Angkor Archeological Park dengan mengambil jalan di sisi timur kompleks percandian yang terkenal seantero dunia itu. Merasakan energi yang tersalurkan deras kedalam diri, saya melambaikan tangan tanda cinta kepada candi-candi dan baray yang saya lalui; Prasat Kravan, Banteay Kdei, Sras Srang, Pre Rup dan East Mebon sebelum akhirnya berbelok ke arah East Baray. Rasanya semua candi dan baray membalas lambaian saya sambil tersenyum anggun dalam diamnya di tempatnya masing-masing. Ah, imajinasi saya mulai bermain-main…

Selepas Archaeological Park, pemandangan standar mulai menghampar. Tanah-tanah kosong tak terpelihara bergantian dengan perkampungan dengan rumah-rumah tradisional Kamboja yang dibuat tinggi di atas tiang. Beberapa kali kendaraan lain yang melaju cepat menyusul, biasanya berisi turis-turis yang hendak ke Banteay Srei atau bus yang menuju Anlong Veng. Jarang sekali yang setujuan dengan saya ke Phnom Kulen, yang secara harafiah berarti gunung yang penuh dengan tumbuhan lychee. Namun sayang musimnya sudah selesai…

Sekitar 1 jam setelah meninggalkan Angkor, jalan tak lagi beraspal melainkan tanah merah yang dikeraskan yang mampu menerbangkan jutaan debu ke udara dan menempel di muka. Di tengah perjalanan saya melihat rambu petunjuk yang mengingatkan perjalanan saya yang berkesan tahun 2012 lalu ke Beng Mealea dan Preah Vihear. Lagi-lagi saya melambaikan tangan pada jalan-jalan yang dulu pernah saya lewati seakan memberi salam.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tak kurang dari 30 menit perjalanan penuh debu, saya sampai di kaki bukit Phnom Kulen, yang ditandai dengan adanya patung Wisnu. Kemudian setelahnya perjalanan menanjak yang cukup terjal untuk ukuran sepeda motor melalui jalan-jalan yang sempit dan curam dengan sesekali batu-batu raksasa terlihat di tebing, serta jurang tak berpagar, sempat membuat hati ciut jika tak fokus dalam berkendara. Tetapi pemandangan indah terlihat sepanjang perjalanan. Hamparan hijau berhiaskan pohon-pohon tinggi. Dan tepat 2 jam setelah meninggalkan Kompleks Angkor, sampai juga saya di gerbang depan Phnom Kulen National Park.

Phnom Kulen National Park

Phnom Kulen National Park

Phnom Kulen yang berada di ketinggian gunung sekitar 500 meter merupakan situs terseraknya peninggalan-peninggalan sejarah yang merupakan cikal bakal dari Kerajaan Khmer. Saat itu, pada abad ke-8, Jayavarman II yang konon pernah ke tanah Jawa, mengangkat dirinya sendiri -yang hebatnya menganggap dirinya adalah reinkarnasi dari Wisnu- menjadi Maharaja, kemudian Ia memerdekakan negerinya dan menjadikan Phnom Kulen sebagai ibukota kerajaannya. Jadi situs ini sudah berusia sekitar 13 abad, sudah klasik sekali!

Sebenarnya sekarang ini  Phnom Kulen merupakan wilayah yang sedikit ‘abu-abu’, entah dikelola pemerintah ataukah oleh swasta. Tetapi yang jelas, untuk masuk ke wilayah yang dibuka untuk umum, ditarik tiket masuk yang harganya sangat mahal karena sama dengan sehari menjelajah Angkor Archeological Park (sebesar 20USD) untuk jumlah point of interest yang jauh lebih sedikit daripada Angkor. Namun konon pengelolanya berkilah bahwa dana tersebut digunakan untuk pembuatan dan pemeliharaan jalan akses hingga ke puncak dan tempat-tempat wisata yang ada di dalamnya. Walaupun berbagai pihak meragukan komitmen itu karena masih banyak candi yang terkubur dan belum bisa terkuak identitasnya dan…. yang membahayakan adalah: belum sepenuhnya wilayah itu dibebaskan dari ranjau darat! Sangat alami untuk Kamboja.

Terlepas dari gonjang-ganjing kepentingan itu, bagi rakyat Khmer, Phnom Kulen merupakan pegunungan yang paling sakral, paling suci di Kamboja sehingga populer dikunjungi pada akhir pekan atau pada hari-hari libur. Apalagi setelah UNESCO menetapkan sebagai Tentative list of World Heritage Site pada September 1992 lalu. Hal inilah yang menggerakkan saya untuk mengunjungi wilayah ini. Sebuah awalan dari Kerajaan besar yang mempengaruhi percaturan sejarah Asia Tenggara.

Situs 1000 Lingga Yang Bertahan 13 Abad dalam Air

Salah satu yang menarik di Phnom Kulen adalah keberadaan sekumpulan lingga-yoni yang dipahat di bebatuan sedikit di bawah permukaan air sungai yang mengalir menuju Danau Tonle Sap. Lingga-yoni dalam ukuran persegi yang hampir serupa dan tersebar itu, diyakini sebagai simbol dasar yang bersifat universal dalam filosofi Hindu. Walaupun tak memiliki dasar kuat, -sesuai dengan makna lain dari lingga-yoni yang merupakan tanda awal atau kelahiran-, keberadaan sekumpulan lingga-yoni itu seakan memperkuat kesan bahwa di tempat itulah awal Kerajaan Khmer yang dideklarasikan oleh Sang Maharaja Jayavarman II.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sungguh saya kagum atas kondisi sekumpulan lingga yoni itu. Bahkan hingga kini, setelah melalui perjalanan waktu selama 13 abad, kumpulan lingga-yoni itu tetap tampak terjaga, tak terkikis oleh aliran air yang biasanya merupakan perusak alam nomor wahid. Nilai-nilai luhur masyarakat lokal yang mempercayai bahwa air sungai tersebut suci tampaknya mempengaruhi lingkungan sehingga mampu menjaga peninggalan sejarah negeri itu.

Pernah Melihat Patung Buddha Berbaring pada Sisi Kiri?

Tempat lain yang menarik dikunjungi di Phnom Kulen adalah kompleks peribadatan Preah Ang Thom yang didirikan sejak abad ke-16. Melalui puluhan tangga, apabila sampai ke dalam kompleks ini dapat dilihat sebuah kuil berukir yang sangat rumit yang disebut dengan Chhok Ruot yang berfungsi menjaga jejak kaki para pelindung wilayah ini seperti Preah Bat Choan Tuk, Peung Chhok, Peung Ey So dan Peung Ey Sey. Tampak lembaran-lembaran uang donasi dari peziarah mengisi lubang jejak kaki.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Di tempat ini juga dapat disaksikan Patung Buddha Berbaring (Reclining Buddha) abad-16 yang merupakan salah satu patung Buddha yang terbesar di Kamboja, berukuran sekitar 17 meter panjangnya. Menariknya, patung ini dibentuk di 8 meter ketinggian batu gunung. Sehingga untuk melihatnya haruslah  menaiki tangga yang lumayan tinggi.

The unusual 16th century Reclining Buddha, Phnom Kulen

The unusual 16th century Reclining Buddha, Phnom Kulen

Saya terpana melihat patung Buddha ini, baru kali ini saya melihat patung Reclining Buddha yang miring pada sisi kiri, ukurannya sangat besar dan sudah berabad-abad usianya! Walaupun posisi Buddha menunjukkan Parinirvana (perjalanan menuju niwana sesudah kematiannya), saya melihat posisi telapak kaki kanannya menunjuk bumi, bukan diatas kaki kirinya. Hal ini sangat berbeda dengan umumnya pembuatan Patung Buddha Berbaring yang biasanya miring pada sisi kanan tubuhnya dengan kaki kiri menumpu lurus pada kaki kanannya, demikian juga tangannya. Mungkin bagi Anda yang sudah pernah melihat ke Bangkok, Penang, Myanmar, Laos jadi mengingat-ingat posisi berbaringnya Sang Buddha. Rata-rata miring pada sisi tubuh bagian kanan bukan?

(Dan malam ketika sudah kembali ke hotel, saya mencari tahu mengenai Reclining Buddha yang miring pada sisi kiri, dan ternyata saya hanya menemukan 3 tempat: dua di Thailand dan satu di Phnom Kulen ini)

Angelina Jolie pun melompat di Air Terjun ini…

Phnom Kulen memiliki dua air terjun yang salah satunya dijadikan tempat shooting Angelina Jolie saat pembuatan film Lara Croft’s Tomb Raider. Air terjun yang pertama tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 4 – 5 meter  dengan lebar sekitar 20 meter dan berikutnya mengikuti aliran sungai yang sama, air terjun kedua memiliki ketinggian 10 hingga 15 meter. Disinilah Angelina Jolie yang memerankan Lara Croft melompat ke air terjun ketika Daniel Craig menodongnya dengan pistol dalam film itu. Dan tetap selamat! Tentu saja, karena semua itu film belaka, tetapi menariknya dan seakan memperkuat ceritanya, konon air sungai ini dipercaya kesuciannya karena bisa memberi keselamatan dan keberkahan perjalanan melalui sungai-sungai di seluruh Kamboja, hingga masyarakat lokal sering menampungnya ke dalam botol-botol untuk dibawa pulang.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Saat saya menikmati pemandangan air terjun ini, ada hal yang membuat saya tersenyum. Di bebatuan saya melihat seorang biksu berbaju oranye sedang asik memotret dengan kamera DSLR mahal. Temannya, juga biksu berbaju oranye, juga asik mengabadikan pemandangan indah dengan sebuah handycam yang mereknya bukan abal-abal. Yang membuat saya tersenyum karena di benak saya terpampang rombongan biksu berbaris rapi menerima persembahan berupa makanan setiap paginya  dari masyarakat dan menjadi biasanya menjadi obyek pemotretan (dan saya jadi tersenyum membayangkan di barisan itu, sang biksu lalu membalas memotret para pemotret amatiran itu dengan gayanya yang pro). Sungguh saya menyukai gayanya memotret, jubah oranye-nya tak menjadi penghalang untuk menjadi professional dalam hal memotret.

*

Saya menikmati perjalanan kali ini yang secara keseluruhan berada dalam wilayah Taman Nasional Phnom Kulen. Di Taman Nasional yang memberikan keteduhan ini merupakan rumah bagi 145 spesies burung yang hidup bebas, walaupun dalam perjalanan pulang saya juga dibisikkan banyaknya kegiatan penghancuran hutan untuk tujuan komersial, yang akhirnya membahayakan bagi kehidupan flora dan fauna disitu. Saya menangkap nada getir ketika dia, seorang Khmer sederhana yang biasa mengandalkan hidup dari kesuburan tanah, menyaksikan lingkungan dan hutannya pelan-pelan terkikis hilang demi sebuah modernitas.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sebenarnya masih ada situs percandian yang masih bisa disaksikan seperti Prasat Krau Romeas, Rong Chen (kuil pertama berbentuk piramida), Sra Damrei (kolam Gajah). Tetapi sayang sekali, hari itu saya masih harus menjelajah kompeks percandian Roluos di timur Siem Reap dan saya tidak ingin tergesa-gesa di tempat itu. Lagipula saya masih perlu dua jam bermotor untuk kembali ke Siem Reap kan…? Paling tidak, saya sudah menyelesaikan satu perjalanan lagi ke Tentative List World Heritage Site.

2 pemikiran pada “An Amazing Trip to Phnom Kulen

  1. Reblogged this on Cerita Riyanti and commented:

    Phnom Kulen, salah satu Tentative List UNESCO World Heritage Sites yang dimiliki oleh Kamboja, masih menyimpan banyak kejutan. Ada Lingga Yoni yang bertahan 13 abad di bawah permukaan air, Ada Patung Reclining Buddha yang miring pada sisi kiri tubuhnya dan juga tempat Angelina Jolie lompat bebas ke sungai dari ketinggian tebing. Dan bukan naik mobil atau tuktuk, melainkan naik….. hmmm… lanjutin deh cerita perjalanan recharging saya ke Kamboja (lagi! dan lagi!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s