A Recharging Trip in Cambodia


Sudah satu tahun enam bulan saya tidak menginjakkan kaki di bumi Kamboja, sejak trip terakhir ke Preah Vihear, Beng Mealea dan Koh Ker. Delapan belas bulan terasa lama sekali bagi saya yang pada tahun 2011 bisa empat kali bolak balik ke Kamboja.  Rasanya, seperti sudah berabad-abad tak ‘pulang’, atau juga seperti jerawat yang akan pecah, balon yang ditiup berlebihan, entahlah… yang pada akhirnya memang meledak yang harus terjadi.

Victory Gate  - Phnom Penh at Night

Victory Gate – Phnom Penh at Night

Dan memang terjadi. Tak ada rencana pasti, namun sepertinya memang Semesta mendukung. Tiket penerbangan yang tiba-tiba turun tersedia, hotel penuh diskon tersedia, pekerjaan bisa ditinggal, hari libur kejepit datang, suasana hati datang dengan tepat dan semua bla-bla-bla mendadak membukakan jalan untuk melakukan trip ke Kamboja lagi. Dan memang terjadilah semuanya, seperti terundang secara khusus.

  • SIEM REAP

Saya kembali ke Angkor Archeological Park. Saya harus ‘pulang menjenguk rumah’🙂 karena tidak ada trip ke Kamboja jika tidak ke Angkor, walaupun hanya melihat dari jauh, walaupun hanya melewati keteduhan hutan-hutan yang mengelilingi Angkor, walaupun hanya melihat baray atau kolam air di sekelilingnya, atau hanya melihat Bakan (puncak Angkor Wat) dari kejauhan. Atau hanya melewati candi-candi yang berdiri anggun seakan memberi salam sayang kepada saya. Semua itu memberikan energi besar kepada saya. Saya kembali berada di rumah, recharging.

Empat puluh kilometer saya tempuh dengan berbonceng sepeda motor di musim panas, sesuatu hal yang tidak pernah saya lakukan di Jakarta. Saya mengarah ke Phnom Kulen, pegunungan di timur laut Siem Reap, tempat terseraknya peninggalan-peninggalan sejarah Khmer abad VIII. Di masa yang sama ketika Sang Raja berkesempatan berkunjung ke Tanah Jawa. Baca cerita detailnya yaaa…..

Phnom Kulen National Park

Phnom Kulen National Park

Tak lupa setelahnya, saya mengunjungi kompleks percandian kelompok Rolous yang ada di sebelah timur Siem Reap. Candi-candi yang lebih tua dari wilayah Angkor, yang jarang mendapat kunjungan wisatawan karena letaknya yang cukup jauh. Tetapi kumpulan candi itu seakan menyambut kedatangan saya dengan senang, karena panas terik yang sebelumnya terasa memanggang mendadak berpayung awan.

Bakong Temple - Siem Reap

Bakong Temple – Siem Reap

Saya tak pernah kehabisan tempat untuk dikunjungi di Siem Reap. Selalu saja masih ada candi yang menarik untuk didatangi dan memang saya biarkan ketidakbisaan saya berkunjung pada saat yang sama, karena bukankah itu menjadi alasan untuk bisa kembali lagi? Lagi pula pertunjukan budaya, kehidupan sehari-hari di perkampungan, atau tenang-tenang bersampan di Tonle Sap juga dapat menjadi kegiatan di Siem Reap kan?

  • BATTAMBANG

Saya meninggalkan Siem Reap dengan bus menuju Battambang, salah satu kota besar yang ada di Kamboja di selatan Danau Tonle Sap. Battambang merupakan kota heritage yang masih banyak meninggalkan gedung-gedung bergaya arsitektur kolonial Perancis, dan konon, suasana riverside-nya  tidak kalah dengan Phnom Penh. Keraguan tidak mendapatkan pengalaman menarik di Battambang terpatahkan karena di kota ini saya mendapatkan banyak momen yang berkesan selama perjalanan recharging di Kamboja.

Ta Dumbong - The Legend Guardian of Battambang

Ta Dumbong – The Legend Guardian of Battambang

Mengalami sebuah kesederhanaan itu memikat hati melalui cerita ngalor ngidul dari seorang calon sarjana yang bekerja lepas sebagai pengemudi tuktuk di Battambang.  Saya diantar ke tempat-tempat luar biasa dan eksotis di Battambang. Dari gedung-gedung berarsitektur Perancis, tugu-tugu kota, kuil-kuil kota, jembatan gantung yang dibangun oleh komunitas hingga ke bukit-bukit di luar kota yang menjanjikan pemandangan sunset yang indah. Dan perjalanan saya pun tak lepas dari mendengarkan suara hati mengenai kisah-kisah pilu yang tak terucapkan tetapi terhampar di depan mata dari pembantaian manusia yang terjadi hampir empat puluh tahun silam.

  • PHNOM PENH

Kemudian setelah dua malam berlalu, saya kembali mengarah ke ibukota negeri, Phnom Penh, dengan menggunakan minivan. Lagi-lagi Semesta seakan menyambut kedatangan saya ke ibukota. Udara yang sebelumnya panas dan gerah, tersapu hujan yang datang bersama sampainya saya di Phnom Penh. Saya menikmati sore yang sejuk dan segar sehabis hujan menyusuri taman-taman kota, hanya dengan berjalan kaki. Dari sepanjang Riverfront hingga Independence Monument lalu kembali ke penginapan yang berada di dekat Royal Palace. Tentu saja, tak lupa saya menghabiskan waktu bersama teman-teman sebangsa dan setanah air yang sedang berada di Kamboja di  Warung Bali-nya Mas Firdaus, hanya sekedar bertukar cerita dan bergembira bersama. Saya tidak akan pernah kehilangan momen di Phnom Penh. Lagi-lagi saya recharging di ‘rumah’

  • OUDONG

Dan sepenggalan hari sebelum kembali ke Jakarta, saya menyempatkan diri melakukan day trip ke Oudong, sebuah jejak ibukota kerajaan sebelum dipindahkan ke Phnom Penh. Untuk mencapainya diperlukan sejam perjalanan dengan mobil dari Phnom Penh dan ketika sampai di kaki bukit, ratusan anak tangga menunggu setia untuk didaki hingga ke Puncak Stupa yang ada di Oudong Hill. Sebuah tahapan yang worthed untuk dijalani dengan pemandangan indah di puncak. Dan kunjungan ke sebuah vihara cantik yang terletak di kaki Oudong Hill seperti melengkapi perjalanan recharging ke Kamboja ini.

Vipassana at Oudong

Vipassana at Oudong

Bagi saya setiap perjalanan ke Kamboja senantiasa memberi daya lebih. Bumi Kamboja seakan tak pernah diam dan selalu memanggil ketika saya merasa lelah. Dan kali ini saya tak menepis panggilan dari tanah yang selalu ‘ngangenin’ ini, menikmati setiap detiknya hingga saya merasa cukup hingga saatnya pergi lagi.

Dan hari itu datang juga, Tetapi negeri ini tetap menyelimuti saya saat waktu mendekati akhir. Sebuah apresiasi dalam obrolan singkat dengan petugas toko di bandara internasional Phnom Penh yang asli Khmer, saya kembali mendapatkan berkelimpahan berkah. Hanya karena dia mengetahui bahwa Indonesia termasuk negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat baik di regional ASEAN. Tak banyak yang mengetahui rinci itu dan kalau pun ada, tak banyak yang peduli untuk mengungkapkan. Tetapi dia memilih untuk mengungkapkannya kepada saya. Lagi-lagi, sebuah tambahan daya.

Siang hampir berganti wajah ketika pesawat meninggalkan bandara internasional Phnom Penh. Saya seakan melakukan perjalanan dari rumah dan entah bagaimana saya pulang juga ke rumah. Jakarta ke Kamboja dan kembali ke Jakarta, namun kali ini dengan kondisi yang sudah recharged 100%.

Terima kasih Tuhan.

*)  tempat-tempat yang menarik itu punya cerita tersendiri yang masih berlanjut...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s