Sejarah Awal Kerajaan Cambodia, salah satu yang tertua di dunia


Dengan menggunakan metode Karbon-14, para ahli berhasil mengukur umur peralatan dari batu yang digunakan manusia di dalam sebuah gua di Laang Spean, sebelah barat laut Cambodia, yaitu sejak 6000-7000 tahun SM dan peralatan dari tembikar digunakan sejak 4200 tahun SM (sumber wikipedia)

Peradaban kuno.

Penemuan di atas sepertinya mengamini dugaan bahwa hampir 10 millenium lalu telah terbentuk peradaban manusia yang diperkirakan adalah etnis Khmer yang berasal dari wilayah China dan menjelajah hingga dataran yang kini disebut Cambodia. Selain bukti peralatan dari batu, para ahli arkeologi juga memperkirakan umur dari teknik pengerjaan padi di sawah di Cambodia sekitar 2000 tahun SM. Demikian pula peralatan perunggu yang ditemukan sekitar 1000 tahun setelahnya. Bahkan ditemukan pula bukti bahwa penduduk Cambodia telah tinggal di perkampungan yang berbenteng dan memiliki sentra kegiatan, makan nasi dan ikan. Pada millenium berikutnya, ketika artefak perunggu ditemukan di Kampong Chhnang, di wilayah tengah Cambodia sekarang, membuktikan bahwa saat itu mereka telah memiliki ketrampilan mengolah logam.

Kerajaan Funan (Nokor Phnom)

Oc Eo - Angkor Borei

Oc Eo – Angkor Borei

Hebatnya lagi, berdasarkan hasil penggalian sebuah kota pelabuhan dekat Oc-Eo, Vietnam selatan sekarang ini, terdapat bukti-bukti bahwa peradaban pertama perkotaan Cambodia telah dibangun mencakup wilayah pedalaman daratan dan wilayah pantai, yang saling terhubung melalui kanal-kanal besar. Saat itu mereka telah memiliki keahlian membangun sistem saluran yang luas, panjang dan kompleks, baik sebagai kanal-kanal pengatur air sungai Mekong, maupun sebagai sarana transportasi dari Ibukota ke pelabuhan di daerah pantai. Peradaban hebat ini dikenal oleh orang-orang China saat itu, sebagai Kerajaan Funan atau Nokor Phnom dalam bahasa Khmer, yang ibukotanya terletak di Angkor Borei, 85km selatan Phnom Penh sekarang, dan berkuasa dalam masa kejayaannya sejak Abad 1 hingga Abad 6. Walaupun sebagian ahli mengatakan bahwa ibukota Kerajaan Funan berada di Vyadhapura (di Oc Eo yang terhubung dengan sistem kanal ke Angkor Borei), bagi orang Cambodia, Angkor Borei diyakini merupakan cikal bakal kegemilangan peradaban Khmer selanjutnya.

Karena mendapat keuntungan dari letak geografisnya secara maritim, mereka tidak hanya melakukan perdagangan dengan India dan China, melainkan juga dengan bangsa-bangsa Eropa. Hal ini bisa dibuktikan dengan ditemukannya koin-koin dari Kekaisaran Romawi periode Antonine di Oc-Eo yang digunakan sekitar abad 2 Masehi.

Dan seperti juga di wilayah lain di Asia Tenggara, bersamaan dengan tumbuhnya peradaban  dalam kurun waktu 500 tahun SM hingga Abad 6, Cambodia juga mengalami apa yang dikenal dengan ‘Indianisasi’ di Kerajaan Funan ini. Kata berbau diskriminasi dengan nilai positif ini, memberikan pengaruh unsur-unsur budaya dan agama dari India, seperti kuil Hindu, Buddha, bahasa Sansekerta, sistem penulisan, sistem pemerintahan terpusat dan gagasan kemaharajaan, yang diserap dengan baik oleh bangsa Khmer dan terasimilasi dengan adat istiadat setempat.  Kerajaan Funan mengalami masa jaya semasa kekuasaan Raja Fan Shiman yang memperluas wilayah maritimnya dan memperbaiki sistem pemerintahan dan sistem perdagangan. Kala itu, Kerajaan Funan terkenal memiliki sistem perdagangan yang kuat termasuk memonopolinya di  wilayah tersebut.

Kerajaan Chenla

Walaupun tidak diketahui penyebab kejatuhan Kerajaan Funan, banyak inskripsi ditemukan yang secara tidak langsung mengungkapkan adanya peningkatan populasi masyarakat Khmer pada abad 6 dan telah mengakomodasi sistem-sistem yang sama yang berjalan di Kerajaan Funan. Belakangan kekuatan baru itu, yang tadinya merupakan wilayah taklukan kerajaan Funan namun akhirnya justru berhasil menaklukkan Kerajaan Funan itu, dikenal dengan nama Kerajaan Chenla,  dengan ibu kota di Isanapura, dekat dengan Sambor Prei Kuk, Kampong Thom sekarang ini. Keadaan ini terungkap di prasasti paling mula berbahasa Khmer bertanggal abad 7 Masehi. Inskripsi lain bertanggal abad 5 dan 8 Masehi ikut memperkuat bukti munculnya kota-kota kecil yang berkembang di tengah Cambodia dan timur laut Thailand sekarang, sebagai bagian dari wilayah Kerajaan Chenla. Bagi bangsa Khmer, penguasa Kerajaan Chenla bisa dikatakan leluhur langsung dari Kemaharajaan Khmer.

Walaupun demikian, inskripsi-inskripsi dari batu membuka fakta bahwa proses penggabungan pusat-pusat kekuasaan semasa Kerajaan Chenla berjalan sangat lambat dan hal ini menunjukkan tanda-tanda kejatuhannya. Pada abad 8, kerajaan ini bahkan terpecah menjadi dua bagian, bagian Utara, berpusat di Champasak, Laos sekarang ini; dan di bagian Selatan menempati tempat yang dulu merupakan daerah kekuasaan dari kerajaan Funan yaitu di wilayah Mekong Delta dan wilayah pantainya. Tidak berapa lama, pada tahun 715, dua wilayah kerajaan Chenla itu bahkan terpecah-pecah lagi menjadi pusat-pusat kekuasaan yang lebih kecil.

Kejayaan Angkor

Sementara itu pada abad ke 8, sebuah kekuatan maritim terbentuk dari seberang laut yang dikenal dengan Kerajaan Jawa. Walaupun masih menjadi perdebatan diantara para ahli sejarah apakah Kerajaan di Jawa atau Melayu, tetapi kekuatan memperluas wilayah kekuasaan ini mendesak Kerajaan Chenla untuk berpindah lebih ke Barat. Puncaknya terjadi pada tahun 802, ketika Jayavarman II mendeklarasikan berdirinya Kemaharajaan Kambuja (Khmer) di Gunung Mahendraparvata, Phnom Kulen saat ini dan juga dirinya sebagai seorang Maharaja Khmer, yang menjadi dasar kejayaan Angkor selanjutnya. Ada beberapa sumber sejarah yang mengatakan bahwa sebelum mendeklarasikan kemaharajaan Khmer, Raja Jayavarman II tinggal di Jawa (sekarang Indonesia) untuk mempelajari budaya dan kesenian serta konsep kemaharajaan semasa kekuasaan Wangsa Syailendra yang saat itu menguasai Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaka hingga sebagian Cambodia.

Angkor, berarti kota dalam bahasa Khmer, mendominasi sebagian besar daratan Asia Tenggara dalam kurun waktu tahun 802 hingga 1431. Hal ini terjadi karena setelah sepeninggal Jayavarman II, raja-raja penerusnya secara berkesinambungan melebarkan kekuasaan Khmer secara damai tanpa peperangan. Pada akhir abad ke 9, Raja Yasovarman I memindahkan ibukota ke Yasodharapura, sesuai namanya, dekat Siem Reap sekarang ini. Yasodharapura merupakan kota pertama di Angkor dan memiliki candi utama di bukit setinggi 60 m, Phnom Bakheng. Tidak hanya itu, Raja pun berturut-turut membangun waduk untuk pengairan (East Baray), membangun candi lebih banyak untuk menghormati para leluhur, dewa-dewa Hindu, seperti Siwa, Dewa Perusak dalam kepercayaan Hindu.

Awal abad 10, karena permasalahan intrik, kekuatan kerajaan terbelah dua meskipun tidak kehilangan kedigdayaannya. Raja Jayavarman IV memindahkan ibukota ke Koh Ker, sekitar 100km timur laut Angkor dan membangun candi-candi di sana. Waktu berjalan terus hingga akhirnya Raja Rajendravarman II mengembalikan istana ke Yasodharapura dan membangun lebih banyak candi yang spektakuler, termasuk candi East Mebon di atas pulau yang ada dalam waduk East Baray. Masa damai terusik ketika pada tahun 950 pecah perang pertama kali dengan Kerajaan Champa di sebelah Timur (Vietnam sekarang). Penerusnya, Raja Jayavarman V  memerintah Angkor dalam damai dan tetap menjadi kerajaan yang terpandang. Sebuah kota baru dibangun sedikit lebih ke arah Barat dengan nama Jayendranagari dengan candi utamanya Ta Keo termasuk pembangunan candi cantik Banteay Srei. Kemudian setelah Jayavarman V mangkat, raja yang mengukir sejarah Cambodia adalah Suryavarman I yang membuka hubungan diplomatik dengan Kerajaan Chola di India selatan dan juga memperluas kekuasaan ke arah Barat di daerah Lopburi, Thailand dan ke arah selatan ke Kra Isthmus (tempat paling sempit di Semenanjung Melaka, antara Thailand Selatan dan Burma) serta membangun waduk West Baray yang lebih besar lagi daripada yang ada di Timur.

Kurun waktu antara tahun 1130 dan 1150, Raja Suryavarman II membangun Angkor Wat yang spektakuler, yang berfungsi sebagai observatorium astronomi, rencana sebagai lokasi makamnya, dan sebagai sebuah monumen penghormatan untuk Dewa Wisnu, Dewa Pemelihara dalam kepercayaan Hindu. Dalam periode ini kekuatan Kemaharajaan Angkor terus meningkat dan membentang melampaui wilayah Cambodia sekarang ini, yaitu ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Thailand timur laut, Laos selatan, dan Vietnam bagian selatan. Kemaharajaan Khmer saat itu memiliki hubungan perdagangan yang sangat kuat dengan Cina, namun perdagangan dilakukan secara barter, karena Angkor tidak menggunakan mata uang apa pun .

Kejayaaan Angkor terus berlangsung ketika Raja Jayavarman VII yang memerintah dari tahun 1178 hingga tahun 1220, selain menaklukkan Champa, ia juga menambahkan keindahan arsitektur ke Angkor. Dalam masanya, Raja membangun kota yang berbenteng yang dikenal sebagai Angkor Thom, dalam wilayah ibukota Yasodharapura, dengan candi-candi yang mengesankan, termasuk Bayon, Ta Prohm, Banteay Kdei dan juga waduk Srah Srang. Ia pun membuat jalan-jalan yang menghubungkan kota-kota dalam kemaharajaannya. Dan sebagai Raja yang menganut Buddha Mahayana, tanda-tanda berakhirnya pengaruh Hindu di dalam kemaharajaannya sudah bisa diperkirakan. Pada abad ke-13, sebagian besar rakyat Cambodia memilih untuk menganut Buddha Theravada, agama yang relatif dapat diterima oleh masyarakat dan dipercaya oleh negara hingga hari ini, dan sejak itu masa pembangunan candi-candi Hindu berakhir sudah.

Masa Runtuhnya Angkor

Sepeninggal Maharaja Jayavarman VII, Cambodia memasuki masa suram Angkor. Pada abad ke-14, beberapa kerajaan penganut Buddha yang berada dibawah kekuasaan Khmer memisahkan diri, salah satunya adalah kerajaan Champa. Di bagian Barat kerajaan Sukhothai kian sering melakukan pembrontakan dan berhasil menekan Khmer. Di sisi lain, Raja penerus Jayavarman VIII merupakan pengikut Hindu, berhasil menggoyahkan kekuatan kerajaan dengan menghancurkan semua patung-patung Buddha dan mengembalikan semua Candi Buddha menjadi Candi Hindu kembali. Ancaman dari luar juga terjadi dari bangsa Mongol di bawah kendali Jenderal Kublai Khan yang terkenal tidak kenal ampun dalam memperluas daerah kekuasaan. Kehidupan rakyat di dalam kerajaan juga memburuk dengan semakin tidak terkontrolnya pengaturan pembagian air irigasi yang menyebabkan kegagalan panen, banjir yang kian sering terjadi. Puncaknya terjadi ketika tentara Ayutthaya, dekat Bangkok sekarang, yang berhasil mengalahkan Sukhothai (Thailand tengah), kemudian menyerang ibukota Yasodharapura hingga ditinggalkan oleh sebagian besar penduduknya; dan Raja akhirnya harus memindahkan ibukota ke arah selatan, ke Oudong, dekat Phnom Penh sekarang. Sejak itu kisah Angkor menghilang dari pembicaraan sejarah dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s