Candi Baphuon, Berlapis Perunggu Keemasan Yang Spektakuler Mencakar Langit Angkor


Candi Baphuon

Candi Baphuon

Saya melewatkan Candi Baphuon begitu saja kala pertama kali berkunjung ke Candi-candi Angkor, dikarenakan keterbatasan waktu. Memang, candi berbentuk piramida dalam kota Angkor (Angkor Thom) yang berbatasan langsung dengan Royal Palace semasa Kerajaan Angkor ini, biasanya bukanlah Candi yang diutamakan bila waktu kunjungan ke Candi-candi Angkor hanya sehari. Tetapi siapa sangka pada masanya Candi ini merupakan sebuah pencakar langit, yang dikenal sebagai Menara Perunggu Keemasan yang Menakjubkan, seperti yang dikissahkan oleh utusan Kaisar Chengzong, dari Yuan China yang datang pada akhir abad ke 13. Sehingga pada kesempatan-kesempatan berikutnya ke Angkor, saya selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Candi Baphuon yang luar biasa ini.

Candi ini diperkirakan mulai dibangun sejak Raja Suryavarman I masih berkuasa dan berlanjut terus hingga diselesaikan oleh Raja Udayadityavarman II pada pertengahan abad ke-11. Hal ini diketahui berdasarkan inskripsi Lovek dan Preah Ngok yang ada di dasar kaki Candi Baphuon yang ditemukan oleh para arkeolog. Candi resmi kerajaan yang pada awalnya merupakan Candi Hindu untuk Dewa Siwa ini, lalu kemudian dikonversi menjadi Candi Buddha, memang terletak masih dalam kawasan pusat kota pada masanya, hanya sekitar 200m barat laut dari Bayon.

Namun pamor spektakuler dari Candi Baphuon tidak berlangsung selamanya. Karena faktor alam yang kurang mendukung, apalagi setelah kejatuhan Angkor akibat peperangan dengan banyak kerajaan dan dinasti dalam regional Asia hingga kolonisasi Barat, jauh sebelum abad ke 20, sebagian besar Candi Baphuon ini telah runtuh dan terabaikan dalam waktu lama. Ditambah lagi, sejak ditemukan kembali, upaya restorasi seakan dipaksa mengalami perjalanan panjang. Akhirnya Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO) yang seperti mengerjakan puzzle 3 dimensi dalam menyusun kembali Candi Baphuon, pada pertengahan tahun 2011 proses restorasi baru selesai.

Reclining Buddha

Salah satu keunikan yang saya sukai dari Candi Baphuon ini, di sisi Barat atau di bagian belakang apabila masuk dari pintu utama, pada dinding penahan Candi di tingkat kedua terdapat Reclining Buddha dengan ukuran raksasa, yang untuk melihatnya memerlukan imajinasi khusus…

Bisa Lihat Reclining Buddha Baphuon ?

Bisa Lihat Reclining Buddha Baphuon ?

Sebagai gambaran, Reclining Buddha ini memiliki tinggi 9 meter, dan dari ujung kepala hingga kaki sekitar 70 meter (atau sepanjang badan Candi), dan kemungkinan penambahan ini dilakukan pada abad ke 15 atau 16; hingga sepertinya menara 8 meter yang sebelumnya ada diatasnya sampai perlu dibongkar agar bangunan tetap stabil atau memang sebelumnya telah runtuh (mungkin ini penjelasan mengapa saat ini tidak ada menara di tempat tersebut).

Keberadaan Reclining Buddha yang disusun dari batu-batu ini juga memberi pengetahuan kepada kita semua bahwa di suatu masa, Candi Baphuon telah dikonversi dari Candi Hindu menjadi sebuah Candi Buddha. Sayangnya, hingga kini pun untuk melihat Reclining Buddha tetap memerlukan kejelian mata secara khusus ditambah imajinasi. Bayangkan saja, bagian kepala ada di sisi utara dinding dan bagian pinggul Sang Buddha berada di pertengahan badan candi yaitu di Gerbang Barat. Di sebelah kiri gerbang bisa dibayangkan terdapat tangan Sang Buddha. Dan kaki Sang Buddha, yang sudah hilang total, tentu tidak dapat dilihat lagi sehingga perlu imajinasi untuk membayangkannya bentuk keseluruhan Sang Buddha. Untuk melihat wajah Sang Buddha semakin sulit, apabila rerumputan tumbuh subur mengaburkan wajah Sang Buddha. Namun mungkin itulah seninya berimajinasi.

Selain Reclining Buddha, keunikan lain yang saya rasakan dari Candi Baphuon ini adalah mengenai kesejajarannya dengan bangunan-bangunan penting lain di sekitarnya yang berbeda tahun pembuatan. Kompleks Candi Baphuon yang luas ini berbatasan langsung dengan dinding selatan Royal Palace. Sedang Gapura luar Candi Baphuon ini sejajar dengan Elephant Terrace, yang juga sejajar dengan menara Utama Bayon, yang terletak tepat di bagian selatan. Padahal candi-candi itu tidak dibangun dalam periode yang sama. Adakah keterkaitan kosmis di antaranya? Siapa tahu…

Dan selayaknya bangunan monumental pada masanya yang berada di pusat kota, Candi Baphuon menempati area khusus yang luas. Tidak kurang dari 120 meter Timur ke Barat dan 100 meter dari Utara ke Selatan ukuran jaman modern saat ini, Candi Baphuon menempati area antara kompleks Royal Palace (Istana Kerajaan) dan Tanggul Kota di bagian Selatan, yang berada di bagian utara sungai buatan yang mengelilingi ibukota lama Yasovarman yang berpusat di Phnom Bakheng dua abad sebelumnya. Sehingga mengingat skala Candi Baphuon kala itu, tidak diragukan lagi bahwa pada masa itu Candi Baphuon merupakan salah satu monumen Angkor yang spektakuler. Tinta emas sejarah menorehkan bahwa pada akhir abad ke-13 seorang utusan bernama Tcheou Ta-Kouan menyatakan bahwa Candi Baphuon merupakan “Menara Perunggu Keemasan, yang bahkan lebih tinggi dari Menara Emas (saat itu adalah Bayon) – merupakan sebuah tontonan yang benar-benar menakjubkan”

Sayang sekali, kehebatan bangunan Candi ini tidak sepenuhnya didukung oleh tanah pijakannya sendiri karena kenyataannya, Candi Baphuon dibangun di atas tanah yang kebanyakan terdiri dari pasir. Mengingat ukurannya yang besar, kelihatannya Candi Baphuon ini memang tidak pernah stabil sepanjang sejarah eksistensinya. Diduga sebagian besar sudah runtuh pada saat Sang Buddha ditambahkan.

Menikmati Candi Baphuon dari kejauhan memiliki rasa tersendiri seakan terbang menembus waktu. Candi Baphuon ini dibangun menyerupai piramida, yang merupakan representasi mitos Gunung Meru. Tentu saja, bentuk piramida ini dipengaruhi oleh asal muasal budayanya, yakni dari India. Gunung Meru sendiri dipercaya sebagai rumah para Dewa, dan tingkatan-tingkatan yang ada di bagian dalam mewakili pegunungan sekitar Gunung Meru. Sementara parit lebar yang mengelilinginya mewakili lautan. Tentu saja Pusat Candi, biasanya karena paling suci, maka dibangun yang paling tinggi di tengah-tengah.

Berbeda dengan candi abad ke-9 dan ke-10 yang dominan berbentuk piramida dengan dasar berukuran sama panjang, Candi Baphuon dibangun menyerupai piramida dengan dasar persegi panjang – dengan beberapa tingkat atasnya dibuat tidak selalu lebih kecil dari lantainya melainkan sama panjang. Dengan demikian pemandangan Candi tidak tertutup oleh galeri yang mengelilingi di tingkat atasnya. Candi Baphuon yang merupakan realisasi bangunan pertama di Angkor dengan galeri batu yang berpusat pada sebuah menara tengah ini, memiliki dinding dasar yang polos, sama sekali tidak memiliki dekorasi atau ornamen apapun.

Konon, pada awal penemuannya, Candi Baphuon hanya berupa gundukan batu yang tertutup tanaman dan mengalami kerusakan hebat baik oleh kekuatan alam dan manusia. Yang tampak hanyalah terseraknya koleksi struktur dan kolom yang telah runtuh di atas fondasi kokoh dengan sebagian gapura Candi yang masih berdiri di bagian tengah dan memiliki dinding berhias patung dan relief. Tampaknya proses perusakan alami oleh air karena dukungan iklim tropis di Angkor merupakan musuh Candi yang paling utama. Terlihat walaupun ada mekanisme drainase dan saluran air, tetapi kerusakan alami tetap terjadi. Kondisi memprihatinkan ini tetap dapat disaksikan langsung apabila kita berkunjung ke Candi Baphuon saat musim hujan.

Saya memasuki kompleks Candi Baphuon dengan melewati gerbang tiga bagian yang keren dan monumental serta penuh hiasan. Gerbang Candi Baphuon ini rupanya merupakan prototipe dari gerbang masuk Barat Angkor Wat. Sungguh hebat, bukan?

Baphuon Walkway & Columns

Baphuon Walkway & Columns

Setelah melewati gerbang utama, saya berdiri di awal sebuah jalan pelintasan, yang panjangnya sekitar 200 meter, dibangun seperti jembatan dengan ketinggian sekitar 1 meter, dengan batu yang lebar sebagai pijakan dan diletakkan horizontal pada tiga baris kolom pendek yang berjejer rapi dibawahnya. Jalan pelintasan berupa jembatan dengan ratusan kolom pendek ini sepertinya membuat siapapun juga yang melintasi di atasnya merasakan sebuah keanggunan.

Menapaki perlahan di atas ‘catwalk’ masa lalu hingga sampai sekitar dua pertiga jarak sebelum sampai ke Candi, saya berhenti pada reruntuhan bangunan persinggahan yang berada tepat pada persimpangan dan hanya meninggalkan teras dan sisa bangunannya saja. Ada dua teras mengarah ke utara dan selatan, yang berujung pada kolam air cukup besar yang dikelilingi oleh batuan pasir. Entah, kaum bangsawan mana yang pernah singgah dan menikmati pemandangan Candi dengan kolamnya yang indah ini…

Tiba saatnya saya memasuki Gapura Timur di badan Candi, dan setelah menaiki tangga curam, terdapat terdapat tiga buah lorong sebagai jalan untuk mengeksplorasi Candi. Di atas pintu penghubung antara bagian tengah dan sayap utara, masih dapat disaksikan potongan di bagian atas ambang pintu untuk meletakkan balok-balok kayu, yang cepat kalah dimakan waktu, dan inilah bukti pengerjaan seni khas Khmer yang sering menyebabkan keruntuhan struktur bangunan.

Steep Stairs

Steep Stairs

Gapura Timur ini tampak lebih besar dari tiga pintu masuk lainnya karena memiliki sebuah menara inti dan bangunan sisi sayap ganda berkubah. Tampilan luar kaya hiasan dengan daun bunga bersulur, devata, hewan-hewan kecil yang dibuat sangat detail, dan juga pola bunga teratai yang diatur dalam kotak-kotak, sebuah motif dekoratif yang sangat cantik dan ditemukan juga di Candi Banteay Srei.

Saya harus menuju Gapura Selatan untuk menaiki ke tingkat yang lebih tinggi, karena di sana memang disediakan tangga berpegangan bagi yang ingin naik, yang walaupun sangat curam namun masih dapat dinaiki. Mungkin ada baiknya apabila Anda takut ketinggian untuk tidak menaiki lantai yang lebih tinggi ini demi kebaikan Anda sendiri.

Tingkat kedua memiliki bilik galeri sempit yang bisa dikatakan masih utuh, dengan jendela-jendela rendah pada kedua sisi. Atap galeri juga berkubah dan memiliki dekorasi pada pusatnya. Saya sungguh menikmati pemandangan dari jendela ke tingkat-tingkat bawahnya dengan semilir angin yang memberikan waktu istirahat yang nyaman bagi tubuh yang lelah. Terlihat menara sudut telah hilang kecuali beberapa sisa-sisa tembok penahan di sudut selatan-timur. Hiasan mahkota teratai kuncup pada gapura selatan bisa dibilang seluruhnya terpelihara dengan baik, dan keasliannya membuat hiasan ini menjadi salah satu contoh terbaik dari jenis motif yang dapat ditemukan dalam berbagai periode seni Khmer.

Ke tingkat paling atas yang berukuran 42 kali 36 meter, setelah mengalami beberapa kali runtuh, di bagian atas hanya meninggalkan sebagian kecil dari gapura dengan tower pusatnya. Pusat sakral Candi Baphuon ini, berbentuk persegi-segi yang memiliki ornamen kualitas terbaik seni klasik Khmer. Dan disinilah tersisa dasar dari pusat Candi yang paling sakral, sebuah supra-struktur yang berabad-abad sebelumnya telah dibangun dengan bahan ringan terbuat emas dengan nuansa warna yang mengikuti waktu. Inilah yang membuat Candi Baphuon terkenal pada masanya.

View from 2nd Level

View from 2nd Level

Di tempat tertinggi ini, pemandangan sekitarnya sangat luar biasa. Ke bagian Timur dapat dilihat panjang dan cantiknya jalan pelintasan dari pintu gerbang utama diapit dua kolam. Arah selatan tampak Phnom Bakheng diantara kerimbunan pepohonan Angkor. Arah utara tampak Phimeanakas dan Royal Palace serta hutan Angkor yang melingkupi sisanya. Tidak sia-sia saya menaiki hingga level tertingginya.

Restorasi

Di tempat yang paling tinggi ini, saya membaca kembali tentang upaya restorasi Candi yang telah dilakukan. Candi Baphuon merupakan bentuk kesuksesan upaya restorasi Candi dari EFEO (Ecole Francaise d’Extreme-Orient) yang telah dimulai sejak perang saudara terjadi di bumi Kamboja sehingga pekerjaan dihentikan selama 25 tahun. Sesuai metode anastilosis yang diterapkan untuk merestorasi Candi, maka setiap batu Candi dibongkar, diberi nomor dan ditempatkan kembali keasalnya. Persis seperti menyusun puzzle 3 dimensi, dengan tingkat kesulitan yang luar biasa tinggi. Ditambah lagi, dokumen dan catatan posisi batu dimusnahkan selama regime ultra-nasionalis Khmer Merah berkuasa karena tidak sesuai dengan ideologi yang dianutnya. Akibatnya jutaan batu teronggok menunggu dikembalikan ke tempat asalnya. Tahun 1995 EFEO melanjutkan pekerjaan restorasi hingga kini. Tim restorasi, yang kebanyakan dari Kamboja dibantu Perancis, melakukan pekerjaan yang ‘sepertinya mustahil’ ini, secara  hati-hati mengukur dan menimbang setiap batu dan mengandalkan foto arsip yang tersimpan di Paris, dari gambar atau lukisan yang ada. Para pekerja mencari lokasi batu yang sebenarnya, karena tidak ada semen yang mengisi antara satu batu dengan batu lainnya, sehingga setiap batu memiliki posisi yang unik. Tidak ada dua batu yang memiliki dimensi yang sama.

Pada bulan April 2011, setelah 51 tahun, akhirnya para arkeolog selesai melakukan restorasi candi. Raja Kamboja, Norodom Sihamoni dan Perdana Menteri Perancis, Francois Fillon, bersama-sama meresmikan selesainya proses restorasi Candi Baphuon,  pada tanggal 3 Juli 2011. Saya bersyukur bisa berada di Candi Baphuon pada hari peresmian untuk merasakan langsung sisa-sisa kemegahan pada jaman dulu.

Relief Candi Baphuon

Dari informasi yang disampaikan, relief yang ditampilkan pada gapura-gapura Candi Baphuon mengambil adegan dari kehidupan sehari-hari, cerita Ramayana dan Mahabharata. Setiap gapura memiliki dua sisi yang masing-masing sisi memiliki dua dinding panel.

Pada Gapura Selatan, pada sisi Selatan, bagian Barat terdapat berbagai adegan dari kehidupan sehari-hari seperti harimau mengejar pertapa yang berlindung di atas pohon, seorang pemburu yang menembak burung, perkelahian banteng, pertapa yang berdoa dan seorang Ibu yang bermain dengan anak. Selain itu terdapat cerita mengenai masa kecil Krishna, ketika Krishna merobek naga menjadi dua dan bergulat dengan manusia berwajah banteng. Pada sisi Selatan bagian Timur masih menceritakan adegan dari kehidupan pertapa dan pergulatan hewan. Pada sisi Utara bagian Timur sebelah bawah, juga terdapat adegan kehidupan pertapa yang sedang berobat. Sebelah atasnya mengambil adegan Ramayana yang menampilkan pertempuran antara para monyet dan raksasa serta pertemuan Hanuman dan Sinta yang duduk di bawah pohon Asoka. Di panel yang lebih tinggi menggambarkan kehidupan Dewa Wisnu. Pada sisi Utara bagian Barat masih menampilkan adegan kehidupan pertapa, manusia dan binatang.

Pada Gapura Timur, pada sisi Timur bagian Selatan yang menampilkan adegan Ramayana yaitu penderitaan Sinta untuk membuktikan kesuciannya, Sinta berada di atas tumpukan kayu dan Agni, Dewa Api di sisinya. Di bagian atas, Rama dan Sinta di singgasana masing-masing. Ditampilkan pula sebuah episode dari Mahabharata ketika terjadi duel antara Arjuna terhadap hewan babi hutan, penjelmaan Muka, sosok raksasa. Pada sisi Timur, bagian Utara menampilkan adegan Mahabharata ketika Pandawa pergi ke pertempuran menghadapi Kurawa. Yang menarik, adalah ada adegan dimana seorang pria melepaskan pakaian wanita dengan cara membentangkan sarungnya. Hehehe… Pada sisi Barat, bagian Utara menampilkan penangkapan gajah liar, parade kereta dan pelayan, kehidupan pertapa, pergulatan antara laki-laki, monyet dan gajah. Pada sisi Barat, bagian Selatan, menampilkan perburuan harimau, duel atas wanita, pergulatan hewan, pertapaan dan seorang raja bertahta di antara istri-istrinya.

Northern gate Relief

Northern gate Relief

Pada Gapura Utara, pada sisi Utara, sebelah timur menampilkan adegan Ramayana ketika terjadi pertempuran Rama dan Rahwana; Rama di atas kereta kuda, Rahwana dengan kepala gandanya melawan Hanuman. Sinta, tawanan di istana Rahwana, bertemu Hanuman dalam rerimbunan pohon Asoka, yang mengembalikan cincin kepadanya sebagai bukti keberhasilan misinya. Pada sisi Utara, sebelah Barat, masih menampilkan pertempuran Ramayana, sosok Garuda terbang dari langit, sosok Hamsa (angsa suci), tokoh Rama dan Lakshmana menghadapi pasukan musuh. Pada sisi Selatan, sebelah Timur terdapat adegan pergulatan hewan dan juga ada tokoh Rama, Lakshmana dan Sugriwa. Pada sisi Selatan, sebelah sebelah barat menampilkan adegan pergulatan manusia dan binatang serta sosok Sinta di hutan Asoka.

Pada Gapura Barat, pada sisi Barat, sebelah utara menampilkan seorang prajurit dan gajah serta ilustrasi panah-panah yang melesat. Pada sisi Barat, sebelah selatan, sekali lagi menampilkan Hamsa dengan dewa tiga kepala dan empat lengan menduduki tahtanya. Di bagian lain terdapat adegan tokoh Arjuna yang bertempur dan menerima senjata dari tangan Dewa Siwa. Pada sisi Timur, sebelah utara menampilkan pergulatan sesorang dengan hewan. Pada sisi Timur, sebelah selatan menampilkan sosok manusia berwajah monyet, seseorang yang dibawa oleh gajah dan pergulatan hewan.

*

Pelan-pelan saya meninggalkan kemegahan Candi Baphuon melalui Tangga Gerbang Utara, yang lagi-lagi sangat curam seakan tidak rela memberikan jalan bagi siapapun untuk meninggalkan Candi yang sangat menakjubkan ini. Sungguh, sepertinya sebagian dari diri saya masih tertinggal di sana, sehingga saya selalu ingin kembali ke Candi Baphuon ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s