Relief Perempuan Cantik itu: Dewata atau Apsara?


Dewata adalah Dewata, Apsara adalah Apsara dan Dewata Bukanlah Apsara…

Apsara Angkor Wat

Apsara Angkor Wat

Pada permukaan dinding di hampir semua Candi di Kamboja, mungkin hanya satu atau bahkan di banyak  dinding Candi, terdapat relief makhluk perempuan cantik dengan lekuk tubuh yang detail, kadang sensual, melayang atau melenggok dengan sikap tangan gemulai dipenuhi dengan perhiasan, namun kadang hanya digambarkan sederhana, namun memiliki kharisma tersendiri. Agaknya stereotipe perempuan telah sama sejak berabad-abad lalu: selalu digambarkan cantik, berlekuk indah, dan suka pada keindahan permata dan perhiasan. Makhluk perempuan yang digambarkan itu, ada yang menyebutnya Apsara, ada pula yang menyebutnya Devata, atau yang dalam pengucapan bahasa Indonesia dikenal sebagai Dewata.

Walaupun makna dua kata tersebut berbeda, kata Apsara memiliki nilai keseksian dan daya jual yang lebih tinggi di Kamboja, sehingga lebih banyak dipergunakan orang daripada kata Dewata. Dan belakangan tampaknya, makna kata Apsara bergeser mendekati makna Dewata, sehingga semua penggambaran perempuan cantik pada dinding Candi disebut sebagai Apsara.

Dikenal dengan nama lain yaitu Tep Apsar (dalam bahasa Khmer), kata Apsara, baik tunggal, maupun dalam bentuk jamak dalam bahasa aslinya (Sanskrit) disebut Apsarasa, berasal dari India khususnya mitologi Hindu dan Buddha, yang berarti Makhluk Spirit Perempuan yang menguasai Awan dan Air. Dalam tradisi di Indonesia, kita mengenalnya dengan sebutan bidadari, yang sebenarnya berasal dari kata Vidhyadhari; vidhya (pengetahuan) dan dharya (pembawa, pemilik). Sehingga bermakna sebagai yang membawa pengetahuan.

Sebenarnya siapa Apsara itu?

Dari teks-teks Hindu kuno yang dipercaya di Kamboja dan juga tergambarkan pada permukaan dinding Candi, terdapat kissah tentang terjadinya dunia sekarang ini, yang di Kamboja dikenal dengan Kisah Pergolakan Lautan Susu (the churning of sea of milk). Dalam kissah itu, seperti yang tergambarkan pada dinding galeri timur Angkor Wat, terdapat puluhan Asura sebagai pihak jahat dan puluhan Dewa sebagai pihak baik, saling menarik naga raksasa Vasuki yang membelit Gunung Mandara sehingga memutarkan lautan kosmis guna mendapatkan cairan Amrita, cairan mujarab keabadian. Proses yang berlangsung ribuan tahun itu menghasilkan pula sejumlah perempuan menawan yang melayang terbang, yang kini dikenal sebagai Apsara. Dalam konteks Hindu saat itu, para bidadari itu umumnya memiliki kemampuan merayu para dewa dan memberikan kesenangan dan kegembiraan fisik karena kecantikannya yang luar biasa.

Apsara

Apsara

Disisi yang lain, dari salah satu literatur Sanskrit yang sangat kuno, dikenal sebagai Purana Bhagavata, diceritakan bahwa Apsara terlahir dari Kashyap dan Muni, tokoh-tokoh keturunan Dewa Brahma. Konon dikenal dua jenis Apsara yaitu Laukika, yang bersifat keduniawian dan berjumlah 34; dan Daivika, yang bersifat maya dan abadi, berjumlah 10.

Selain itu, mereka, para bidadari surgawi itu juga memiliki kemampuan menari yang luar biasa gemulai. Keadaan ini, karena kecantikan yang luar biasa maupun karena kegemulaiannya menari, menjadikan para seniman Kamboja berlomba-lomba menggambarkan Apsara di permukaan Candi sesuai dengan pandangannya, apakah akan dibuat cantik atau dibuat sebagai penari gemulai.

Kemampuan menari dan kecantikan luar biasa dari Apsara ini, menurut legendanya,  membuat Apsara sering dimanfaatkan hanya untuk sekedar pengalih perhatian dalam kaitan perluasan kekuasaan para dewa.

Di hampir semua candi Angkor yang dibangun dari abad 8 hingga abad 13, adanya relief Apsara dan Dewata memberi makna motif tersendiri, karena tidak semua penggambaran perempuan dianggap sebagai makhluk bidadari. Selaras dengan kedekatan sejarah dan cikal bakal tarian dari India, makhluk perempuan yang menari atau siap untuk menari dikategorikan sebagai Apsara (Bidadari). Apsara, yang terlihat pada gerbang Barat Angkor Wat, digambarkan selalu dalam berbagai pose menari dengan kaki yang terbuka, dan berkain pendek menutupi panggulnya. Sering kali digambarkan terbang di langit atau menari di atas bunga lotus.

Devata Preah Khan

Devata Preah Khan

Sedangkan sosok makhluk perempuan, yang digambarkan sendiri atau berkelompok, sedang berdiri diam dan tidak dalam pose menari, menghadap ke depan sebagai penjaga candi disebut dengan Dewata. Penggambaran Dewata pada permukaan Candi-candi Khmer biasanya lebih detail dan rumit.

Di Angkor Wat sendiri, sebagai candi Angkorian terbesar yang dibangun pada tahun 1116-1150, memperlihatkan kedua bentuk Dewata dan Apsara (Bidadari Penari). Penggambaran makhluk perempuan yang dikategorikan sebagai Dewata, biasanya dengan ukuran sekitar 1 meter, di seluruh Candi diperkirakan berjumlah 1800 menghiasi dari level terendah hingga tingkat tertinggi Candi. Dan penggambaran makhluk perempuan yang disebut Apsara, memiliki ukuran lebih kecil, sekitar 30 – 40 cm, dan biasanya menjadi motif dekoratif pada pilar dan dinding.

Tahun 1927, seorang seniman Khmer, Sappho Marchal, putri dari seorang konservator Angkor yang terkenal dari Perancis, menerbitkan sebuah hasil penelitian mengenai Dewata dan Apsara berupa katalog mengenai berbagai variasi yang luar biasa dari bentuk rambut, hiasan kepala, pakaian, sikap, perhiasan dan bunga hias. Menjadi dewasa di lingkungan reruntuhan candi Khmer yang megah, Sappho Marchal menerbitkan hasil penelitiannya pada usia 23 tahun. Gambarnya mengenai ornamen dan kostum sangat detil, jelas dan benar-benar sangat halus dan bermakna dalam. Beberapa Dewata digambarkan dengan sikap tangan seakan menyapa pengunjung Candi. Hasil penelitiannya ini sangat bermanfaat dan berharga sebagai dokumentasi ilmiah yang tetap digunakan hingga sekarang ini mengingat kondisi ukiran di batu sudah semakin memburuk.

Devata Preah Khan

Devata Preah Khan

Penggambaran Dewata dan Apsara terkenal tidak hanya karena kerumitan teknik pembuatannya, melainkan juga karena disainnya yang unik. Setiap Dewata ataupun Apsara memiliki pose tersendiri, senantiasa berbeda antara satu dengan lainnya, dengan masing-masing gaya, cara tatanan rambutnya, cara berpakaiannya dan tentu saja permata yang menghiasi tubuhnya.

Jika datang mengunjungi Angkor Wat, luangkan waktu untuk melihat secara khusus penggambaran indah makhluk perempuan di dinding sebelah kanan dari pintu gerbang masuk Utama. Jangan sampai terlewat. karena merupakan satu-satunya yang sedang tersenyum lebar sehingga menampakkan giginya yang tersusun rapi.

Keberadaan Apsara, makhluk bidadari penari yang terkenal di Candi-Candi Khmer, saat ini diabadikan ke dalam kehidupan masyarakat Kamboja dalam bentuk Tari Apsara. Menari, konon sudah dilakukan sejak Kamboja masih dikenal sebagai Kerajaan Funan, yaitu ketika tahun 243 Masehi, dikirim utusan ke China untuk sebuah penawaran kekuasaan yang didukung oleh penari-penari.

Setelah kejatuhan Angkor, tari Apsara yang dianggap telah punah ini, dimulai dihidupkan kembali pada masa kekuasaan Raja Ang Duong (1848-1859). Kemudian pada abad ke-20, Ratu Sisowath Kossamak Nearireach, memodifikasi  kembali kostum dan koreografi tarian dengan mengenakan kostum sutera yang cantik dihiasi dengan tiara atau topeng emas, dan diiringi oleh musik tradisional Khmer termasuk penyampaian dialog cerita-cerita epik, seperti Kisah Ramayana versi Kamboja yang dikenal sebagai Reamker, yang semuanya berdasarkan penggambaran makhluk-makhluk perempuan cantik pada relief Candi-Candi Khmer.

Keberlangsungan tarian Apsara seperti yang digambarkan pada Candi Khmer, hilang selama periode Khmer Merah berkuasa. Selain bertahan dalam ingatan para penari yang berhasil selamat dari kekejaman Khmer Merah, untungnya, Ratu Kossamak juga memberi pelatihan secara intensif kepada cucunya, Putri Norodom Bupha Devi, yang terpilih menjadi Penari Utama Kerajaan Kamboja dan terus memperkenalkan Tarian Apsara ke seluruh pelosok negeri Kamboja maupun dunia.

Tetapi mungkin karena itu, dunia lebih mengenal kata Apsara daripada Dewata…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s