Memenangkan Kesempatan, Menaklukkan Keterbatasan


You have powers you never dreamed of. You can do things you never thought you could do.There are no limitations in what you can do except the limitations of your own mind. (Darwin P. Kingsley)

Siswa Sekolah Persahabatan Kamboja Indonesia

Mereka, para siswa pilihan itu, datang dari sebuah daerah, yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari Phnom Penh, ibu kota Kamboja, hanya sekitar 2.5 jam perjalanan mobil, namun seakan-akan desa mereka berada di ujung dunia. Tidak sedikit dari mereka yang baru pertama kali itu menginjakkan kakinya di ibu kota negara, terkagum-kagum dengan banyaknya motor, tuk-tuk dan mobil yang bersliweran di jalan-jalan. Terheran-heran dengan banyaknya rumah sebesar istana, gedung-gedung dengan lampu-lampu yang senantiasa menarik perhatian. Ya, mereka memang datang dari sebuah desa yang terpencil, namanya Chres Keut, Trabek, di distrik Kamchay Mear, provinsi Prey Veng, Kamboja.

Mereka, para siswa pilihan itu, datang dari lingkungan yang miskin, miskin dalam banyak hal, miskin dalam hal ekonomi, miskin dalam hal pengetahuan, miskin dalam hal kekuatan dan daya. Tidak itu saja, alam pun sepertinya bersinergi dengan kehidupan dalam memberikan ‘penderitaaan’ kepada mereka. Di daerah mereka, hanya sebagian tanah yang bisa berproduksi sebagai areal persawahan. Di bagian lain tanah lebih susah untuk ditanami, pohon-pohon paling kuat pun seringkali kalah terhadap sergapan alam.  Jika musim hujan bertandang, banjir datang tanpa diundang membuat jalan raya tidak lebih baik dari kubangan, namun sepanjang musim kemarau, terik sang surya tak terkirakan membuat debu-debu bertebaran dimana-mana.

Negara mereka, Kamboja, memang masih terus berlari mengejar ketertinggalan. Di Phnom Penh, ibu kota negara, sudah tampil lebih cantik, walaupun kecantikan yang mulai merekah itu belum diikuti oleh daerah-daerah sekitarnya. Termasuk desa mereka. Desa Chres Keut, Trabek, di distrik Kamchay Mear, provinsi Prey Veng, Kamboja, mungkin masih berada di bagian buntut dari persaingan desa-desa yang saling berlari untuk berkembang. Listrik tidak tersedia setiap waktu, ketika malam semakin larut, listrik pun luruh. Tidak ada hal produktif yang bisa dikerjakan kecuali mungkin membiarkan sang nafsu mengintip dari balik rumah-rumah berdinding daun palma, mencari kesempatan menerkam para perempuan yang lengah dan pasrah dalam himpitan kemiskinan. Kalaupun ada, anak-anak dalam keluarga beruntunglah, yang berkesempatan terus belajar dalam kemuraman desa.

Kemudian jika dewi fortuna berpihak saat panen, anak-anak beruntung tadi, yang kebanyakan anak laki-laki, seperti berada di ujung tanduk: kadang diperbolehkan untuk terus ke sekolah, mempelajari hal-hal baru untuk menambah pengetahuannya, tetapi lebih seringnya mereka dipaksa membantu pekerjaan di sawah. Akhirnya pencabutan paksa dari lembaga formal pendidikan itu yang lebih sering dilakukan, karena lebih bernilai ekonomis bagi keluarga. Yang terjadi berikutnya sudah dapat dibayangkan, buku dan pelajaran sekolah secara perlahan tapi pasti mulai ditinggalkan dan terbengkalai, akhirnya terlupakan. Satu per satu berguguran walau tentu saja, tidak semuanya.

Namun dari begitu banyak cerita yang getir, tidak sedikit dari para orangtua desa Chres Keut, Trabek itu yang tetap mengobarkan harapan dalam sanubari agar kelak penerusnya menjadi lebih baik dari keadaan mereka sendiri saat ini. Bagaimana pun sulitnya mereka menghadapi kehidupan sehari-hari, mereka tidak ingin menyerah pada cengkeram kemiskinan. Tidak sedikit dari para orang tua itu tetap mengupayakan sekuatnya agar anak-anaknya tetap berkesempatan sekolah sebagai salah satu cara yang pasti bagi mereka untuk memelihara  harapan sederhana mereka.

Salah satu sekolah yang mempertahankan pelita harapan di komunitas desa itu adalah Sekolah Persahabatan Kamboja – Indonesia yang menyediakan pendidikan dasar hingga menengah pertama; sebuah sekolah  yang didirikan tahun 1995 lalu oleh pengusaha Indonesia yang juga putra bungsu mantan presiden Indonesia yaitu Tommy Suharto. Sekolah ini, walaupun kelihatannya dalam keadaan ‘hidup segan, mati tak mau’ namun tetap bertahan dalam keterseok-seokannya menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar.

Untuk Sekolah 100 Riel Sehari ($0.025)

Penyelenggaraan pendidikan tidak mudah dengan hanya mengandalkan bayaran 100 Riel atau sekitar Rp. 250,- per hari per siswa. Honor guru lebih sering terlambat, tetapi tak menghalangi mereka untuk terus mengajar. Demikian pula murid-muridnya yang kini berjumlah sekitar 700-an, tetap memelihara pelita harapan yang walaupun redup namun tetap menyala dalam setiap jiwa, untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, baik secara formal maupun dalam memanfaatkan setiap kesempatan bagus yang datang. Apapun bentuknya kesempatan itu, baik tampil dalam lomba maupun aktivitas sekolah.

Bagi mereka yang terpilih bisa pergi ke Phnom Penh, kenyamanan masih belum terengkuh karena mereka tetap harus berjuang. Tubuh mereka yang relatif mungil dianggap dapat dijejalkan ke dalam mobil sewaan yang sudah penuh dengan orang lain. Sepertinya pemilik mobil bersikeras selama masih memungkinkan untuk mendapatkan keuntungan, ia mengabaikan kenyataan bahwa tidak ada lagi ruang untuk duduk. Ditambah pemahaman bagi pemilik mobil bahwa panas, debu dan ketidaknyamanan bukanlah sesuatu yang asing diakrabi penumpangnya yang rata-rata miskin. Sesampainya mereka di Phnom Penh pun, mereka menginap di sebuah guest house sederhana. Namun bagi mereka, guest house itu jauh lebih baik daripada rumah mereka sendiri. Setidaknya memiliki atmosfir ibu kota Phnom Penh yang riuh rendah dan berbau modern. Dalam perjalanan hidup mereka, sebuah hari penuh kesempatan baik terbentang di hadapan mereka.

Ya, mereka yang datang ke Phnom Penh itu, merupakan murid-murid yang terpilih dari sekian ratus murid untuk bisa tampil. Tampil menari di panggung yang dipasang di halaman Kedutaan Besar Republik Indonesia di Phnom Penh dalam rangka malam syukuran kemerdekaan. Sebuah kesempatan sederhana bagi umumnya orang yang hidup dalam gemerlap modernitas, tetapi mungkin merupakan kesempatan luar biasa, – bahkan bisa saja merupakan kesempatan sekali seumur hidup -, bagi mereka yang senantiasa diganggam erat oleh kemiskinan dan ketakberdayaan. Bagi mereka.

Semua itu adalah perjuangan untuk memenangkan kesempatan baik. Mereka, sebagai pelajar berdarah Khmer murni, ikut berpartisipasi memeriahkan sebuah acara malam syukuran negara lain, – di ibukota negara mereka sendiri, di atas bumi Kamboja -. Tidak tanggung-tanggung, mereka mempersembahkan sebuah tarian tradisional mereka sendiri, yaitu tari Tempurung. Tanpa mereka sadari, mereka mengemban amanah mewakili negara Kamboja, menjaga keharuman nama budaya Kamboja di wilayah negara lain tanpa harus meninggalkan tanah airnya.

Tari Tempurung yang mereka persembahkan merupakan tarian yang tidak asing di mata rakyat Indonesia. Seperti juga di Kamboja, di Indonesia tari ini dikenal sebagai salah satu tari pergaulan, yang biasanya digunakan untuk memeriahkan suasana. Walaupun berbeda gerak dan kereografi, namun tarian ini sama-sama menggunakan tempurung kelapa yang saling diketukkan mengikuti irama lagu pengiring untuk memeriahkan suasana.

Tarian Tempurung versi siswa Sekolah Persahabatan Kamboja – Indonesia ini ini ditarikan oleh 10 orang yang terdiri dari 5 orang siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Mereka mengenakan kostum nasional (sampot chang kben) untuk menari, siswa perempuan dengan sampot berwarna hijau dan bagian atas berwarna pink, dan siswa laki-laki mengenakan sampot merah tua dengan bagian atas berwarna bagian hijau muda. Untuk memberikan kesan atraktif, sebuah selendang berwarna kuning terang tampak mengikat di pinggang setiap penari laki-laki. Dan untuk menambah kecantikan setiap penari perempuan, pada kepalanya tersemat bunga frangipani (plumeria) atau di Indonesia dikenal dengan bunga kamboja, yang menghiasi bagian samping dari rambut panjang yang terurai.

Tarian diawali dengan duduknya kelima siswa perempuan membentuk setengah lingkaran sambil mengetukkan tempurung kemudian suasana dimeriahkan dengan masuknya penari laki-laki yang juga memainkan tempurungnya sambil mendekati kelompok perempuan. Mereka berselang-seling dalam kereografi tari yang bagus, membentuk lingkaran penuh atau menari berpasangan mengikuti irama lagu. Sebuah tarian sederhana tapi memikat untuk dilihat. Di bagian akhir, sebuah applause untuk mereka dipersembahkan para penonton. Mereka, para siswa yang terpilih dari Sekolah Persahabatan Kamboja – Indonesia telah memperlihatkan kemampuannya dan berhasil.

Dan setelah itu, wajah-wajah mereka terlihat penuh kebanggaan dan kebahagiaan ketika menerima tanda kenang-kenangan dari KBRI. Selayaknya siswa-siswa yang penuh etika, sesuai budaya Kamboja, mereka selalu mengawali dan mengakhiri pemberian kenang-kenangan itu dengan sebuah “Sampeah”, yakni sebuah penghormatan berupa tangan-tangan yang dikatupkan di depan dada dengan kepala dan badan sedikit membungkuk. Sebuah bahasa tubuh yang universal untuk dimengerti maknanya, mewakili apa yang ada dalam rasanya.

Dan mereka masih mengikuti acara malam itu sambil mengukur pencapaian mereka dengan pelajar Khmer lainnya, karena mereka juga menyaksikan beberapa pelajar Kamboja yang tinggal di Phnom Penh yang sedang mempelajari budaya Indonesia, menyanyikan lagu-lagu daerah Indonesia. Dengan dibalut baju tradisional Indonesia, semua pelajar yang asli Khmer itu lancar dan fasih menyanyikan medley lagu daerah seperti Ampar-ampar pisang, Anak kambing saya dan lain-lain. Juga tarian yang dilakukan oleh gabungan pelajar Indonesia dan Kamboja yang berlatih hanya dalam waktu 5 hari.

Ketika acara hari itu berakhir, mereka yang datang dari Chres Keut, Trabek akan kembali ke alam nyatanya, ke tempat mereka yang kekurangan. Namun semoga kali ini mereka mendapatkan pembelajaran untuk melihat bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Bahwa pernah ada satu hari dalam kehidupannya, mereka merasakan manisnya memenangkan kesempatan, mengalahkan keterbatasan, hanya dengan terus berjuang tanpa lelah, mewujudkan keinginan untuk tampil terbaik. Semoga mereka mengukir ingatan dalam hatinya saat meniti hari-hari selanjutnya dari apa yang pernah mereka rasakan di halaman Kedutaan Besar Republik Indonesia di Phnom Penh. Semoga cita-cita mereka menjadi lebih baik dari keluarganya bisa terkabulkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s