Banteay Srei, Permata Khmer Yang Cantik Nan Abadi


Isvarapura, nama kota kecil yang tersohor itu. Bahkan kemilau sinar mentari pagi pun tampak malu-malu menerangi lekuk dan relung pahat bangunan Candi yang anggun berdiri tepat di tengah-tengah kota. Warna merah batuan pasir yang digunakan untuk mendirikannya menambah semburat cantik Candi yang merupakan sebuah mahakarya dari para seniman. Yajnavaraha, sang pendiri, penasehat Raja Rajendravarman II, berdiri di sudut gerbang terluarnya, bukan di jalur tengah tempat para petinggi dan para kaum bangsawan berjalan. Ia berada di antara rakyat kebanyakan, tersenyum mengingat betapa banyak para penduduk kota Isvarapura turut ambil bagian dalam pembangunan Candi yang indah ini. Seluruh seniman seakan berlomba menunjukkan kehebatan teknik pahatan mereka di batuan berwarna merah itu.

Candi ini memang tidak semegah Candi-candi buatan Baginda Raja Rajendravarman II, tetapi keindahan dan kecantikan Candi ini tidak terkalahkan. Senyum Yajnavaraha semakin lebar, berharap semoga kecantikan bangunan ini tidak lekang oleh waktu hingga berabad-abad nanti. Dengan semakin banyak manusia melantunkan lagu puji-pujian kepada Penguasa Alam di tengah Candi yang indah ini, semoga rakyat semakin sejahtera terbebaskan dari rasa penderitaan karena penyakit, ketidakadilan dan kemiskinan.

Sejumput ilusi saat pendirian Candi Banteay Srei, langsung tergambar di benak untuk Candi Hindu kecil yang berangka tahun 967, yang didedikasikan untuk Dewa Siwa. Hampir seluruh permukaan Candi ini penuh dengan tatahan ukir dan pahat yang sangat rinci di atas batuan pasir berwarna merah. Reliefs sangat halus dan teliti ini memang merupakan pencapaian seni terbaik pada masa keemasan Angkor. Tidak heran, Candi Banteay Srei dikenal sebagai Permatanya Seni Khmer (the Jewel of Khmer Art). Secara kasat mata, ukurannya memang terbilang mini dibandingkan candi-candi Angkor lainnya, namun berkunjung ke tempat itu benar-benar memanjakan mata dan rasa yang luar biasa.

Banteay Srei sendiri dalam bahasa Khmer berarti Kota Perempuan, tetapi bisa jadi juga merupakan pengembangan pengucapan dari Banteay Sri, Kota yang penuh harapan.

Oleh karenanya Banteay Srei merupakan salah satu candi mahakarya seni yang bergaya Angkorian dengan arsitektur yang sangat penting untuk dikunjungi di Angkor. Terletak sekitar 32 km di utara kota Siem Reap atau sekitar 25 km terpisah dari kompleks Candi Angkor. Candi ini berdiri di kaki pegunungan Kulen dekat dengan bukit Phnom Dei. Candi ini dapat dikunjungi sejak fajar hingga matahari tenggelam, dengan menggunakan tiket combo Angkor Archaeological Park, yang seharga 20 USD per 1 hari per orang, seperti juga saat masuk kompleks Angkor Wat. Tidak heran, karena keindahan dan dekorasinya  yang sangat detil dan penuh, Banteay Srei sering disebut sebagai Candi Perempuan, selaras dengan asosiasi perempuan kepada hal-hal yang berbau keindahan dan kecantikan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa keindahan dan kecantikan seni pahat dan ukir di atas batuan pasir ini dilakukan oleh para seniman perempuan karena kehalusan hasilnya. Hanya tangan perempuan yang mampu menghasilkan ukir dan pahat halus seperti yang ada di Banteay Srei.

Banteay Srei sendiri merupakan salah satu dari sedikit candi yang tidak didirikan kalangan Raja-Raja Angkor. Candi ini dibangun oleh Yajnavaraha, seorang penasehat Raja Rajendravarman II yang bertahta tahun 944-968. Yajnavaraha sendiri merupakan guru masa kecil dari Raja Jayavarman V (yang merupakan penerus dari Raja Rajendravarman II dan bertahta tahun 968-1000). Sebenarnya Yajnavaraha sendiri masih terbilang berdarah biru karena merupakan cucu dari Raja Harsavarman I. Ia juga dikenal sebagai seorang humanis yang berhati mulia dan sangat mengasihi sesama manusia yang menderita, senantiasa tergerak untuk membantu orang yang mengalami kesusahan, dari penyakit yang dideritanya, dari rasa ketidakadilan dan kemiskinan.

Di atas sebidang tanah yang diberikan Raja, tepat di tengah-tengah kota kuno kecil bernama Isvarapura, yang berarti Kota Siwa, sejarah menjelaskan banyak penduduk kota kecil ini terlibat langsung dalam pembangunan Candi, yang aslinya dikenal dengan nama Tribuanamaheswara (Penguasa 3 Alam), terutama setelah sebuah Lingga (merupakan symbol Dewa Siwa) didirikan di bagian tengah inti Candi. Kemudian dengan perkembangan jaman saat itu, diperkirakan Candi mengalami pembagian area pemujaan. Apabila ditarik garis melintang dari timur ke barat Candi, bagian selatannya digunakan untuk memuja Dewa Siwa dan bagian utaranya untuk memuja Dewa Wisnu. Namun pada akhirnya Candi Banteay Srei dikembalikan pemujaannya kepada Dewa Siwa dan dikelola oleh seorang pendeta bernama Diwakirapandita.

Apabila dibandingkan dengan Candi-candi Angkor di daerah Mebon Timur yang didirikan semasa tahta Raja Rajendravarman II, terlihat bahwa relief yang terpahat di Banteay Srei dikerjakan secara khusus dengan menitikberatkan pada kesempurnaan.  Konstruksi struktur bangunan Candi yang mini namun padat, penggunaan batu pasir merah, merupakan kombinasi yang sempurna sehingga para seniman berkesempatan untuk memperlihatkan kehebatan teknik memahat mereka yang sangat prima.

Hampir seluruh permukaan candi dipenuhi oleh hiasan dekorasi pahat yang cantik dan rumit, beberapa episode dari cerita Ramayana dan Mahabharata terpahat jelas di bidang atas pintu-pintu bangunan (lintel dan pediment), juga pahatan yang indah dan menarik dari Dewa Dewi penjaga pintu masuk. Makhluk kahyangan pria biasanya membawa tombak dan mengenakan celana yang sederhana, sedangkan dewi-dewinya ditampilkan dengan rambut panjang tergerai atau bersanggul dengan hiasan kepala, biasanya mengenakan kain yang berlipit dan hampir setiap inci kemolekan tubuhnya dipenuhi perhiasan cantik. Tentu saja di Candi ini banyak representasi dari Dewa Siwa dan pasangannya Dewi Parwati,  terdapat pula tokoh manusia setengah kera, Hanuman, atau Khrisna serta tokoh antagonis raja raksasa, Rahwana dan banyak lagi patung makhluk setengah kera (atau setengah raksasa, setengah singa atau setengah burung) yang terpahat dengan detil, rapi dan memenuhi candi.

Setelah Banteay Srei ditemukan kembali di tahun 1914 sebuah kejadian menarik mengikutinya. Empat patung apsaranya diambil secara illegal oleh Andre Malraux, yang ironisnya kemudian bekerja menjadi Menteri Kebudayaan Perancis di bawah pemerintahan Presiden Charles de Gaulle. Kemudian untuk menghindari insiden lebih panjang di tahun 1923, upaya pencarian patung-patung ini diintensifkan hingga akhirnya ditemukan kembali untuk kemudian dikembalikan segera ketempat asalnya. Uniknya, karena memicu banyak perhatian dunia internasional dan juga banyak kepentingan yang tumbuh di lokasi Candi yang baru ditemukan ini, situs Banteay Srei akhirnya dibersihkan pada tahun berikutnya. Pada tahun 1931 Banteay Srei pengerjaan restorasi mulai dilakukan dengan pendekatan pembangunan kembali sesuai kondisi aslinya (anastilosis).

Berdasarkan kehalusan dekorasi yang ada di Candi ini, banyak ahli menduga bahwa Banteay Srei dibangun pada tahun yang lebih muda daripada yang seharusnya yaitu sekitar abad 13 dan 14, walaupun akhirnya diketahui Candi ini berangka tahun 967 setelah ditemukannya batuan penanda angka tahun pendirian di tahun 1936.

Proses restorasi Candi yang cantik ini tidak seindah ukir dan pahatnya. Bisa dikatakan tidak ada proses restorasi Candi selama dua puluh tahun antara tahun 1972 hingga 1992 karena situasi politik yang sama sekali tidak mendukung. Selama enam tahun kemudian, setelah penetapan Angkor sebagai UNESCO World Heritage List pada tahun 1992, yaitu hingga tahun 1998, Banteay Srei pun masih tetap terisolasi dari kunjungan wisatawan karena belum bebasnya tanah dari ranjau-ranjau darat yang disebar selama masa perang. Akhirnya dunia internasional turun tangan berpartisipasi dalam menjaga Candi yang indah ini. Padatahun 2000 dan 2003 Swiss dan Cambodia bekerja sama melakukan instalasi sistem drainase untuk mencegah kerusakan dari air dan lingkungan sekitarnya termasuk melakukan pembebasan lahan dan pengukuran terhadap pohon-pohon disekitarnya agar akar-akarnya  tidak merusak candi. Sayangnya, Candi tetap saja mengalami kerusakan dan vandalisme sehingga untuk menghindari kerugian yang lebih parah, pihak berwenang akhirnya memindahkan patung-patung asli yang bernilai tinggi ke National Museum di Phnom Penh dan menggantinya dengan replika dari semen biasa.

Candi Banteay Srei ini terdiri dari tiga persegi yang konsentris dibangun pada sumbu timur-barat. Sebuah jalan lintas yang terbentang sepanjang 67 meter pada porosnya mengarah dari dinding luar ketiga atau yang terluar dari tiga bentuk persegi yang tertutup. Bagian inti terdalam merupakan tempat tersuci, memiliki ruang pintu masuk dengan tiga menara, serta dua bangunan konvensional di kiri kanannya yang disebut perpustakaan. Sejarah menceritakan bahwa jalan lintas tengah,  yang kini digunakan oleh wisatawan, pada masanya hanya digunakan oleh para elite, kaum bangsawan dan para pendeta, sementara untuk rakyat kebanyakan harus menggunakan jalan yang lain.

Seperti pada umumnya sebuah kota kecil kuno, kota Isvarapura memiliki tembok luar yang mengelilingi kota dengan sebuah Gapura Luar yang masih tersisa hingga kini. Tembok atau dinding luar ini diyakini berukuran sekitar 500 meter persegi, dan diduga terbuat dari kayu. Hiasan pada pedimen timur gapura ini menampilkan Dewa Indra, sesuai arahnya, bersama Airwata, gajah berkepala tiga.

Memasuki area persegi ketiga yang berukuran sekitar 95 kali 110 m memiliki tembok laterit yang mengelilingi dengan gapura di ujung timur dan barat. Pedimen gapura timur masih berada di lokasi, sedangkan pedimen gapura barat sekarang tersimpan di Paris (Musée Guimet) yang mengambil sebuah adegan Mahabharata. Pedimen timur saat ini tergeletak di atas tanah, menggambarkan adegan Ramayana saat Rahwana merebut istri Rama, Sita.

Melalui jalan tengah yang sama yang menghubungkan area persegi ketiga dengan yang kedua, lagi-lagi area persegi berikutnya dibatasi oleh tembok laterit yang tentu saja lebih kecil yaitu berukuran 38 kali 42 meter, dengan gapura di ujung timur dan barat. Gapura barat memperlihatkan relief yang menarik yaitu saat duel tokoh manusia setengah kera, Subali, dengan Sugriwa yang dibantu Rama. Pedimen timur gapura memperlihatkan Dewa Siwa dan pedimen barat bercitrakan Dewi Durga. Sebuah pedimen di salah satu galeri menunjukkan Narasimhasinga, yaitu orang yang mencakar Hiranyakashipusetan.

Memasuki area terdalam yang merupakan daerah inti Candi, dapat melalui gapura bagian dalam yang telah runtuh. Di area ini terdapat bangunan inti utama, sebuah perpustakaan di sudut tenggara dan satu lagi di sudut timur laut. Selain menjadi bagian yang paling penuh dekorasinya, bagian ini juga menjadi yang paling berhasil di-restore (dibantu oleh daya tahan batu pasir dan skala mereka yang mini). Baru pada tahun 2010, bagian utama ini dibuka untuk pengunjung, tapi di bagian dalam tetap dibatasi dengan tali dan tidak dapat diakses.

Bangunan perpustakaan terbuat dari campuran batu bata, laterit dan batuan pasir. Setiap perpustakaan memiliki dua pedimen, satu di sisi timur dan satu di barat. Relief ukiran batu berwarna merah pada bagian ini tampak sangat rumit namun sangat cantik.

Pedimen timur menghadap pada perpustakaan selatan menunjukkan Dewa Siwa duduk di puncak Gunung Kailasa, tempat tinggalnya. Dewi Uma, permaisuri-nya duduk di pangkuan menempel pada tubuhnya. Makhluk lain tergambar juga di lereng gunung, diatur dalam hirarki yang ketat dari tiga tingkatan dari atas ke bawah. Di tingkat atas duduk orang bijak berjenggot dan para pertapa, di tengah makhluk dengan kepala hewan dan tubuh manusia, dan hewan pada tingkat bawah, termasuk sejumlah singa. Di tengah terdapat adegan Rahwana yang berkepala sepuluh sedang berdiri. Ia mengguncang-guncangkan gunung bagaikan binatang yang lari dari hadapan-nya sementara orang-orang bijak dan makhluk mitologis membahas situasi genting ini dan berdoa dengan khusuknya. Menurut legenda, Dewa Siwa akhirnya meminta Rahwana untuk menghentikan guncangan dengan menggunakan jari kakinya yang menekan ke bawah gunung dan menjebak Rahwana dibawahnya selama 1000 tahun.

Pedimen barat pada perpustakaan selatan menunjukkan Siva kembali duduk di puncak Gunung Kailasa. Dia tampak melihat ke kiri kepada Dewa Cinta, Kama, yang sedang memanah ke arahnya. Uma duduk ke kanan Siwa, menyerahkan sebuah rantai manik-manik kepadanya. Lereng gunung penuh sesak dengan makhluk lain, Seperti pada pedimen timur, di bawah Siwa duduk sekelompok orang bijak berjenggot dan pertapa, di bawahnya ditempati oleh makhluk mitologis dengan kepala hewan dan tubuh manusia, sedangkan tingkat terendah milik rakyat, yang berbaur dengan rusa jinak dan banteng besar. Menurut legenda, Kama menembakkan panah ke Siwa agar berminat pada Uma. Siwa, tentu saja sangat marah dengan provokasi ini, dan mengenakan hukuman dengan mata ketiganya sehingga menjadi abu.

Pedimen timur yang menghadap pada perpustakaan utara menunjukkan Dewa langit Indra menciptakan hujan untuk memadamkan kebakaran hutan yang dimulai oleh dewa api Agni untuk tujuan membunuh raja naga Takṣaka yang tinggal di hutan Khandava. Para pahlawan Mahabharata, Khrisna dan Arjuna tampil membantu Agni dengan menembakkan ribuan anak panah untuk memblokir hujan Indra. Takṣaka, putra Asvasena digambarkan berusaha melarikan diri dari kebakaran, sementara hewan lain berlari dengan panik. Sedangkan Pedimen barat-menghadap pada perpustakaan selatan menggambarkan Khrisna membunuh pamannya yang jahat, Kamsa.

Selanjutnya adalah Ruang Dalam Utama, tempat yang suci ini hanya bisa dimasuki dari arah timur oleh pintu yang tingginya hanya 1,08 m. Di dalamnya terdapat ruang pintu masuk (atau Mandapa), dengan koridor pendek yang mengarah ke tiga menara, di sebelah barat menara pusat adalah yang tertinggi, 9.8 m. Keenam tangga menuju pelatarannya masing-masing dijaga oleh dua patung berlutut dengan sosok manusia dengan kepala hewan; sebagian besar dari patung-patung yang mengisi Candi sekarang adalah sebuah replika, karena yang asli telah dicuri atau dipindahkan ke museum oleh pihak yang berwenang.

Menikmati Candi Banteay Srei bisa dilakukan pada pagi hari atau menjelang matahari terbenam. Sinar mentari tidak terasa terik menembus pepohonan di sekitar Candi. Apabila musimnya tepat, dalam perjalanan menuju Candi wisatawan dapat menikmati  kehijauan sawah dengan padi yang siap panen. Wisatawan juga dapat berbelanja pernak pernik kerajinan tangan di toko-toko yang disediakan di bagian depan Candi, atau hanya sekedar melepas lelah dengan makan minum di kedai-kedai di dekat toko, setelah menikmati keindahan dan kecantikan Candi Banteay Srei ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s