Semangat Toleransi Muslim Kamboja Di Tengah Keterbatasan


Ketika pertama kali melakukan perjalanan dengan bus dari Siem Reap ke Phnom Penh, jelang memasuki ibu kota, ada rasa terpesona melihat dua kali pemandangan menarik yaitu menara masjid menjulang tinggi di antara bangunan toko dan perumahan. Kubah besarnya menambah keyakinan bahwa yang dilihat adalah Masjid, bukan rumah ibadah lain. Sehingga tidak perlu dua kali untuk yakin bahwa Islam mendapat tempat yang cukup baik di negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha ini. Kondisi ini menimbulkan ketertarikan untuk mengetahui lebih dalam mengenainya.

Masjid Internasional Nur Ihsan, Phnom Penh

Walaupun Kamboja termasuk salah satu negara yang paling homogen di dunia, yang hampir seluruhnya terdiri dari etnis Khmer saja, ternyata di dalamnya masih terdapat etnis Champa yang juga memiliki sejarah panjang keberadaannya di Kamboja. Sebagian besar dari etnis Champa ini menganut agama Islam, yang oleh masyarakat lokal lebih dikenal dengan Khmer Islam. Selain etnis Champa, Islam juga dianut oleh sejumlah keturunan Melayu yang menjadi penduduk di Kamboja dan juga para pendatang dari negara-negara yang sebagian besar penduduknya adalah Muslim. Saat ini diperkirakan tidak kurang dari setengah juta penduduk Kamboja yang memeluk agama Islam.

Interaksi masyarakat turunan etnis Champa dan Khmer dalam kehidupan sehari-hari, baik pertanian, perdagangan serta kehidupan relijius, telah terjalin lama sejak tanah Indo-China itu masih terbagi ke dalam kerajaan-kerajaan, yang masing-masing memiliki masa kejayaannya sendiri-sendiri, seperti Angkor maupun Champa. Pada masa kejayaannya, kerajaan Champa menguasai daerah sepanjang pantai tengah Vietnam dan memiliki pelabuhan-pelabuhan terkenal bagi pelayaran dan perdagangan dari dunia Barat dan Timur Tengah ke China atau sebaliknya. Kondisi ini membuka jalan bagi penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para Sahabat Nabi yang datang dari daerah Abisinia dengan menggunakan rute laut. Bahkan menurut sejarah, keislaman etnis Champa ini dapat dirunut silsilahnya hingga ke ayah mertua dari Nabi Muhammad SAW, yaitu Jahsy bin Ri’ab, ayah dari Zainab binti Jahsy R.A.

Di sisi lain, beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa Islam baru diperkenalkan di Kamboja pada abad XI karena peran penting kaum Muslimin yang menjadi pejabat dalam pemerintahan Kerajaaan Champa, yang setelah keruntuhannya, kaum Muslimin Champa ini mengungsi ke wilayah Kamboja.

Di tanah Champa sendiri pada awalnya terdapat kepercayaan tradisional yang melekat dan berakar dalam masyarakat pada saat itu, hal ini menyebabkan turunan etnis Champa mengalami ‘pengelompokan’ dalam kehidupan relijiusnya. Sebagian dari mereka tetap mempertahankan keislamannya secara kaffah dan mewariskan keyakinan ini dari generasi ke generasi secara turun temurun sebagai pengikut aliran Sunni. Sedangkan sebagian lainnya tetap memasukkan unsur kepercayaan tradisional kedalam kehidupan relijiusnya, seperti percaya akan kekuatan supranatural, praktek-praktek tolak bala, percaya kekuatan energi Chi dan lain-lain. Kelompok terakhir ini sebenarnya lebih mengarah sebagai pemelihara kepercayaan dan tradisi kuno Champa daripada menjadi penganut Islam secara syar’i.Akibatnya tidak terhindarkan konflik-konflik horisontal terjadi antar dua kelompok masyarakat yang sebenarnya memiliki akar yang sama ini. Seperti konflik yang terjadi pada pertengahan abad 20, di satu desa yang sama, masing-masing kelompok mendirikan masjid dan memiliki organisasi kemasyarakatan sendiri-sendiri.

Muslim Kamboja berdoa untuk para korban Khmer Merah

Ketika rezim Khmer Merah berkuasa selama hampir 4 tahun dari tahun 1975 – 1979, ratusan ribu Muslim telah menjadi korban pembunuhan massal, lebih dari seratus masjid dihancurkan dan lebih banyak lagi masjid yang mengalami penistaan karena beribadah termasuk hal yang dilarang dalam paham komunal Ultra Nasionalis pimpinan Pol Pot yang diyakini Khmer Merah saat itu. Setelah jatuhnya rezim Khmer Merah ke tangan pemerintahan baru yang didukung oleh Vietnam pada tahun 1979, secara perlahan-lahan kehidupan kaum Muslimin membaik dan Islam kembali memiliki kebebasan untuk berkembang. Walaupun saat itu Kamboja hanya memiliki sekitar 20 dari 113 pemuka agama Islam yang selamat dari kekejaman Khmer Merah.

Saat ini, Muslim Kamboja dapat menjalankan ibadah mereka dengan normal dan terbuka seperti juga kebebasan yang dimiliki oleh penganut Buddha Theravada, agama mayoritas penduduk Kamboja. Mereka juga dapat menikmati kehidupan demokrasi dengan tetap memiliki hak-hak yang sama dengan warganegara Kamboja lainnya, seperti hak untuk memilih dan dipilih dalam politik. Sebagian dari mereka telah menduduki jabatan penting di lembaga politik papan atas negara seperti di Senat atau Parlemen. Bahkan di Senat ada penasihat yang khusus menangani urusan keislaman. Selain itu terdapat pula organisasi-organisasi keislaman yang terbentuk dan berkembang seperti Asosiasi Muslim Kamboja, Ikatan Pemuda Islam Kamboja, Yayasan Pengembangan Islam Kamboja dan lain-lain.

Di Kamboja terdapat beberapa tempat yang populasi Muslimnya relatif banyak seperti Kompong Cham, juga di sekitar 7 – 9 km dari kota Phnom Penh, dan di sebagian kecil daerah Battambang dan Kampot. Umumnya mereka dapat ditandai dari cara berbusananya. Para pria dewasa umumnya menggunakan peci atau kopiah, atau sorban bagi yang sudah bergelar Haji, dengan baju berlengan panjang lebih sering putih, kadang mengenakan sarung, umumnya memelihara janggut bagi yang telah berusia lanjut. Para kaum perempuan menggunakan abaya atau gaun panjang, ditambah dengan kerudung. Anak-anak juga dibiasakan tampil dengan berbusana Muslim.

Sebagian besar kaum Muslim Kamboja ini berpenghasilan dari pertanian atau mencari ikan, dua sektor penghasilan yang sangat bergantung pada kondisi alam, yang akhir-akhir ini lebih banyak memberikan kerugian karena iklim dan hujan yang tidak menentu, banjir dan lain-lain. Akibatnya, kehidupan kaum Muslim Kamboja ini terus turun ke bawah dari batas garis kelayakan hidup.

Salah satu yang menarik adalah kaum Muslim Kamboja ini dikenal kedekatannya dengan etnis Melayu baik disebabkan oleh perkawinan atau karena pembelajaran. Setiap tahun secara rutin, sebagian dari Muslim Kamboja turunan Champa ini mendalami Al Quran dan studi Islam ke negeri Malaysia. Bahkan, banyak dari kelompok Khmer Islam ini menerapkan gaya Melayu dalam kehidupan sehari-hari mereka, seperti berbicara bahasa Melayu dengan fasih dan juga cara bersosialisasi sehari-hari. Dan seperti Muslim dimanapun, mereka juga senantiasa berupaya melakukan ibadah Haji ke Mekkah. Bagi yang beruntung dan berkemampuan dapat mengikuti konferensi-konferensi internasional Islam.

Masjid Al Azhar Phnom Penh

Yang sedikit membanggakan, beberapa kitab karangan ulama Nusantara atau dalam literatur Arab disebut sebagai ”ulama Jawi” masih dikaji oleh kaum Muslim Kamboja terutama di madrasah-madrasah Kompong Cham, termasuk ketrampilan menulis bahasa Jawi atau di kalangan pesantren Indonesia menyebutnya dengan aksara Arab pegon. Hanya saja, sering kali para Guru (Ustadz) di Kamboja kesulitan mendapatkan Kitab-kitab Jawi seperti Tuhfatur Roghibin, yang hanya bisa didapat dari Patani, bahkan kitab fikih Sabilul Muhtadin karya Syekh Arsyad Al Banjari dari Banjar Kalimantan Selatan, sudah tidak diajarkan karena kitabnya tidak tersedia

Secara makro bagaimanapun pendidikan Islam di Kamboja masih berada di bawah standar kelayakan. Hal ini disebabkan oleh miskinnya sumber daya, keterbatasan sarana dan prasarana. Guru yang cakap tidak selalu tersedia dan kalaupun tersedia, biasanya tidak berkelanjutan untuk jangka panjang karena gaji yang kurang menunjang kehidupan sehari-hari. Tidak tersedianya dana yang cukup, kurikulum yang masih lemah dan tidak baku, kondisi fisik sekolah atau tempat belajar yang umumnya tidak terawat karena sering kebanjiran dan keterbatasan dana untuk pemeliharaan, miskin fasilitas penunjang, membuat pendidikan keislaman perlu mendapat perhatian dari dunia Islam untuk turut membantu. Lebih jauh lagi, kaum muda Muslim Kamboja juga perlu belajar bahasa-bahasa dunia dan ilmu-ilmu lainnya agar dapat hidup berdampingan dalam kehidupan yang sudah internasionalis ini.

Yang lebih memprihatinkan adalah masih terdapat keterbatasan tafsir atau terjemah Al Quran, kitab suci Islam yang digunakan sebagai rujukan dasar pemahaman agama. Proses tafsir dan terjemah Al Quran memang telah dilakukan dan disusun ke dalam bahasa Khmer namun prosesnya sangat lambat karena, lagi-lagi masalah klasik, yaitu keterbatasan sumber daya. Tidak banyak sumber daya yang dapat menafsirkan bahasa Arab yang digunakan dalam penulisan Al Quran dan juga masalah dana yang tidak tersedia.

Keterbatasan dana untuk pemeliharaan terlihat ketika mengunjungi Masjid Nur Ihsan, atau sering disebut dengan Masjid Internasional, yang berlokasi di pinggir danau Boeng Kak, Phnom Penh. Sungguh sayang, melihat Masjid Agung ini dari dekat, kondisinya kurang mendapatkan perawatan yang semestinya, cat dinding tampak kusam dan terkelupas di sana sini. Walaupun kekurangan ini tidak akan menghapus pemandangan indah berupa siluet Masjid, jelang matahari tenggelam. Luar biasa.

Gerbang Masjid Al Azhar, Phnom Penh

Situasi yang tidak begitu jauh berbeda ketika berada di Masjid kecil Al Azhar, di Sang Kat Chroy Changvar, Khanh Russey keo, Phnom Penh. Masjid ini terletak di pinggir jalan kecil tidak jauh dari Mekong River Street, masih di sekitar daerah pembangunan hotel dan pusat perbelanjaan di sisi seberang sungai Tonle Sap depan Royal Palace.

Ada senyum terkembang, sebuah jembatan terbaik dalam berkomunikasi, datang dari seorang remaja berwajah lebih mirip Melayu daripada Khmer, mengalahkan keterbatasan bahasa. Menunjukkan kebaikan dan keterbukaan hati seorang muslim Kamboja, ia mengupayakan memanggil imam Masjid, Haji Yusuf. Saat itu menjelang waktu Dzuhur tiba. Berbeda dengan keadaan di Indonesia yang menandakan masuknya waktu Dzuhur dengan suara azan yang keras melalui loudspeaker, di Phnom Penh, yang terdengar hanyalah suara azan dari dalam masjid yang tidak terlalu keras.

Shalat Dzuhur di Masjid Al Azhar Phnom Penh

Selesai ibadah, terdapat kesempatan bagus untuk bicara lebih jauh dengan mereka. Awalnya komunikasi dilakukan dalam bahasa Inggeris, namun kemudian Haji Yusuf membuka percakapan dalam bahasa Melayu karena beliau mengetahui bahasa Indonesia masih serumpun dengan bahasa Melayu. Haji Yusuf pun tampaknya lebih nyaman menggunakan bahasa Melayu daripada bahasa Inggeris. Sebuah pembicaraan menarik karena komunikasi dilakukan oleh dua orang yang bukan penutur asli bahasa Melayu.

Haji Yusuf mengutarakan walaupun termasuk kelompok minoritas di Kamboja, Islam dapat diterima dengan baik. Sesama muslim saling berhubungan dengan baik, tidak hanya dari Kamboja, melainkan dari Malaysia ataupun dari Indonesia atau negara-negara berpenduduk Muslim lainnya. Kaum Muslimin dapat  menjalankan ibadahnya tanpa tekanan, bisa berpartisipasi aktif di dalam masyarakat dan ada semangat toleransi yang terpelihara dengan baik di antara Muslim dan yang bukan Muslim di Kamboja yang dapat disaksikan pada saat Hari Raya Islam maupun pada Hari-hari Nasional Kamboja.

Apa yang disampaikan oleh Haji Yusuf mengenai partisipasi aktif kaum Muslim Kamboja dalam hari-hari Nasional di Kamboja sebagai bagian dari semangat toleransi, dapat dilihat ketika ada perayaan 20 tahun kembalinya HM Norodom Sihanouk, King Father ke Kamboja dari pengasingannya, juga sekalian memperingati hari ulang tahunnya ke 80 sekaligus memperingati 7 tahun pengangkatan HM Norodom Sihamoni menjadi Raja Kamboja, akhir Oktober tahun 2011 lalu. Lapangan di depan Royal Palace penuh sesak dengan seluruh masyarakat Kamboja. Di antara mereka terlihat serombongan Muslimah yang tampil rapi lengkap dengan kerudungnya, yang membedakan dari perempuan Kamboja lain yang kadang juga mengenakan kain. Mereka tampil sama seperti yang lain, larut dalam kegembiraan bersama sebagai bagian yang tidak terlepaskan dari masyarakat Kamboja.

Rombongan Muslimah EOM Oct 2011

Semangat toleransi dan kehidupan harmonis diantara Muslim dan yang bukan Muslim di Kamboja, diungkapkan pula oleh seorang pengemudi tuk-tuk yang bukan seorang Muslim, namun bertetangga dengan Muslim. Ia tetap merasakan kegembiraan saat Hari Raya Islam dirayakan danmendapatkan banyak kiriman makanan saat Hari Raya. Ia pun mengucapkan selamat kepada kaum Muslim, tetangganya. Kemudian ia beserta keluarganya juga mengundang dan bergembira bersama kaum Muslim ketika Hari Raya Pcum Ben, hari dimana seluruh keluarga Khmer berkumpul bersama di rumahnya (di Indonesia seperti Mudik Lebaran). Tidak itu saja, pemerintah juga memberikan kebebasan untuk pembangunan rumah ibadah dan mengadakan siaran program keislaman bagi kaum Muslim.

Pembicaraan menarik dengan Haji Yusuf harus berakhir ketika sampai saat untuk melanjutkan perjalanan. Sungguh sebuah sambutan yang luar biasa. Haji Yusuf sebenarnya ingin menahan agar bisa tinggal hingga Hari Raya Idul Adha yang saat itu hanya tinggal seminggu lagi, untuk melihat dan berbagi kebahagiaan Hari Raya di Kamboja. Sebuah pilihan berat, tetapi bagaimanapun ada kebahagiaan luar biasa bisa melihat semangat toleransi dan mengikatkan tali silaturahmi di masjid Al Azhar, Phnom Penh, Kamboja, di negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha. Suatu saat InsyaAllah kita akan bertemu kembali.

4 pemikiran pada “Semangat Toleransi Muslim Kamboja Di Tengah Keterbatasan

  1. Indahnya toleransi agama disetiap negara……pasti dunia akan aman, tentram, dan damai…..good kamboja the best toleran country in south asian….

    • Benar Pak, salah satu untuk mendukung perdamaian adalah dengan meningkatkan semangat toleransi di masyarakat. Seperti yang saya ceritakan di atas, rasa nyaman itu benar-benar terasa ketika saya berada di sana…

  2. Awalnya mencari artikel ttg Islam krn di tempat sy ada 2 pengajar agama Islam yg masih muda dari kamboja. Jd mikir bukannya di sana mayoritas budha. Thanks infonya. Smg kehidupan Islam dan pemeluknya tetap dijaga Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s