Sbek Thom, Pertunjukan Wayang Kulit Kamboja


Akhir April lalu saat hadir dalam acara ASEAN Performing Arts VIII di Usmar Ismail Hall – Jakarta featuring the Kingdom of Cambodia, dengan tema:  Cambodia – Diversity of Intangible Cultural Heritage; merupakan satu keputusan tepat. Masih hangat dengan atmosfir Kamboja, karena baru ke negara itu seminggu sebelumnya,  saya menikmati pertunjukan itu dari awal  hingga akhir.  Hadir pula Dr. Surin Pitsuwan, Sekretaris Jendral ASEAN dan Mr. Samraing Kamsan, Perwakilan dari Kementerian Kebudayaan dan Seni Rupa Kerajaan Cambodia. Salah satu pertunjukan yang menarik malam itu adalah Sbek Thom, wayang kulit Kamboja.

Sbek Thom sendiri merupakan satu dari sembilan pertunjukan seni yang ditampilkan malam itu. Sbek Thom merupakan pertunjukan seni teater bayangan bangsa Khmer, yang melibatkan penari, wayang, layar dan perawi (narrator). Saat ini sebagai pertunjukan  kontemporer, sekitar sepuluh penari menari di depan dan di belakang layar, yang tingginya sekitar dua hingga tiga meter dengan panjang sekitar sepuluh meter, sambil membawakan wayang dalam sebuah episode yang disampaikan oleh perawi serta dilatarbelakangi oleh musik tradisional oleh delapan anggota orkestra.

Seperti juga tarian-tarian istana dan pertunjukan topeng, menurut sejarah, Sbek Thom ini dikategorikan sebagai pertunjukan sakral sejak jaman Pre-Angkorian (sebelum abad 11), karena umumnya ditujukan hanya untuk para Dewa atau Raja, sebanyak tiga sampai empat kali setahun, seperti pada perayaan Tahun Baru, Perayaan Raja, atau acara penghormatan Orang-orang terkenal. Dan  seiring jatuhnya era Angkor, pertunjukan Sbek Thom semakin menurun dan kemudian berubah perlahan dari kegiatan seremonial menjadi pertunjukan seni walaupun tetap mempertahankan dimensi ritualnya.

Apakah berasal dari Indonesia?

Pertunjukan Sbek Thom ini – menurut dokumen Oxford – meskipun asal-usulnya tidak pasti, diperkirakan mulai dikenal sejak abad ke sembilan ketika Jayavarman II, Raja Kamboja saat itu, kembali dari lawatannya ke Indonesia dan membawa model wayang kulit yang dikenal di Jawa.

Wayang.

Wayangnya berukuran besar, pipih dan kaku atau tidak dapat digerakkan. Terbuat dari selembar kulit sapi dan pembuatannya melalui upacara khusus.  Wayang untuk tokoh Dewa Wisnu atau Syiwa, terbuat dari kulit sapi, yang kematiannya harus secara natural atau karena kecelakaan, dan harus diselesaikan dalam waktu satu hari itu juga melalui sebuah ritual. Kulit direndam dalam larutan yang dibuat dari kulit kandaol. Kemudian seorang seniman wayang melukis gambar di atas kulit itu, memotongnya sesuai gambar lalu menambahkan warnanya, sebelum akhirnya mengikatnya pada dua bilah bambu sebagai pegangan wayang saat ditarikan.  Dalam satu panel wayang, bisa berisi satu atau lebih tokoh wayang.

Berbeda dengan wayang kulit yang terkenal di Indonesia, ukuran wayang kulit Kamboja termasuk yang terbesar di dunia (sekitar 1,8 x 1,2 m), dengan sekitar 150 panel wayang dalam satu  set-nya. Desain busana yang digambarkan pada wayang mencerminkan busana kalangan kerajaan Khmer dan keindahan serta keanggunannya menyerupai tokoh-tokoh pada relief  di Candi Angkor Wat.

Cerita

Dalam kultus kemaharajaan di Kamboja, sejak Raja Jayavarman, penghuni kerajaan senantiasa bersumpah setia, meyakini Hindu, dan percaya bahwa para Dewa menaklukkan setan serta mengakui Dewa Indra sebagai Penguasa Utama. Selaras dengan kepercayaannya itu, – dalam kisah Ramayana, saat tokoh kera berjuang melawan kekuatan jahat demi membela Raja Rama – , menjadi sangat sesuai dengan sumpah setia dan keyakinan mereka. Hal ini menyebabkan kalangan istana mulai mempertunjukkan episode Ramayana (Reamker) baik menggunakan wayang atau topeng, yang kemudian mengarah ke pertunjukan seni nang sbek dan tari topeng (khol). Dengan berjalannya waktu, pertunjukan ini juga diselenggarakan saat kremasi dan acara penting lainnya, yang akhirnya dilestarikan.

Secara tradisional, pertunjukan ini berlangsung pada malam hari di tempat terbuka, biasanya di samping pagoda atau di samping persawahan. Sebuah layar putih besar dibentangkan diantara dua bambu yang tinggi di depan api unggun (atau sekarang bisa melalui proyektor). Bayangan dari wayang itu diproyeksikan ke layar besar itu dan para penari menghidupkan tokoh wayang dengan cara melangkah dan menari dengan irama tepat untuk menghasilkan gerakan-gerakan wayang yang sesuai cerita.

Sementara pada zaman dulu butuh tiga minggu untuk menyajikan seluruh cerita Reamker secara lengkap, saat ini cerita dapat disajikan lengkap dalam tiga malam, atau 90 menit dengan ringkasan yang dapat diberikan kepada wisatawan atau pemirsa perkotaan, untuk kepentingan promosi wisata.

Tarian ini hampir hilang selama regime Khmer Merah yang represif berkuasa (1975 – 1979) karena seni bertentangan dengan ideologi yang berlaku. Banyak seniman dibunuh dan dikirim ke pengasingan serta koleksi wayang yang dimusnahkan. Namun sejak runtuhnya Khmer Merah di tahun 1979, pertunjukan seni ini mulai dibangkitkan kembali oleh sedikit artis yang selamat. Secara perlahan, wayang dibuat kembali dan rombongan penari secara perlahan dibentuk. Ada 3 kelompok teater wayang yang bangkit dari debu, walaupun masih kekurangan pemain dan kesempatan tampil. Saat itu, transfer pengetahuan tari, teknik, dan caranya, terutama yang berkaitan dengan pembuatan wayang, tidak lagi dijamin. Namun pada akhir tahun 1980-an terjadi kebangkitan seni di Akademi Seni Rupa di Phnom Penh dengan dukungan penuh dari Menteri Kebudayaan Kerajaan Kamboja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s