Angkor Wat – Home of the Soul


Rasanya di masyarakat kita berlaku sebuah stereotip bahwa perempuan biasanya mendatangi kota-kota modern yang punya tempat belanja terkenal, termegah, terbesar dan pulang dengan tentengan shopping bags di tangan dan bahu kanan kiri serta masih ada lagi tambahan para laki-laki yang mau membantu membawakan. Sehingga ketika mengatakan saya pergi ke Cambodia, sebuah Negara yang masih di ranking bawah (memang Indonesia lebih baik ya?), sendirian ke sana, tanpa bagasi alias hanya bawa satu backpack, wajar rasanya muncul pertanyaan dan pandangan aneh dari banyak orang yang mengenal saya. Tetapi, sepertinya saya hanya punya jawaban singkat sambil tersenyum seakan menyimpan rahasia sangat besar: … Why Not? Mengapa tidak?

Sebenarnya kecintaan terhadap bangunan-bangunan sejarah-lah yang menjadi penggerak utama saya untuk memilih pergi ke Cambodia. Sudah lama Angkor Wat memanggil-manggil untuk didatangi, namun selalu saja ada kendala yang menghalangi. Dan kalau sudah ke Angkor Wat, mengapa tidak sekalian mengunjungi yang lain?

Dan akhirnya, bulan April lalu, bandara Siem Reap menjadi saksi saya berdiri di atas bumi Cambodia untuk pertama kalinya. Semburat matahari pagi menyambut kepulangan jiwa saya. Sedikit berlebihan memang, tetapi memang itulah yang saya rasakan ketika menginjak tanah Cambodia, ada rasa yang keluar dari dalam. Sebuah kata bermakna sangat dalam. Pulang. Home of My Soul.

Ada banyak rasa ketika menelusuri jalan menuju Angkor Wat dari bandara dengan menggunakan tuk-tuk. Lalu lintas yang berpatokan di jalur kanan, terasa sangat jauh berbeda dengan kota-kota di Indonesia. Lalu lintas sepi dan tenang, tidak banyak mobil bersliweran ditambah dengan matahari pagi yang muncul diam-diam diantara rimbunnya hutan di kiri kanan jalan. Sempat terlewati sebuah pasar kecil yang membuat saya tersenyum. Ini adalah tanda sebuah kehidupan normal terjadi, tempat berkumpulnya sebuah komunitas untuk melakukan transaksi jual beli.

Bermodalkan tiket masuk Angkor Wat yang ada foto diri seharga US$20 untuk 1 hari, saya berdiri di depan gerbang utama Angkor Wat yang terkenal itu, sekitar 5 km dari Siem Reap. Keharuan terasa menggelegak dari dalam, seperti kerinduan yang terpendam sangat lama karena sebuah keterpisahan yang lekang. Finally this is my destiny to be here, felt coming home. Lagi-lagi saya merasa ‘pulang’, merasa familiar dengan situasi di sana, nyaman dan merasa dekat di hati. Walaupun raga ini baru pertama kali menginjakkan kaki pertama kali, dan pikiran secara otomatis diset untuk waspada karena merupakan lingkungan baru, tapi rasa dari dalam bisa mengalahkannya, seperti kita memasuki rumah sendiri, mengenal lorong-lorongnya, mengenal arah dan jalurnya. Saya berlama-lama disetiap titiknya, merasakan pantulan yang mendinginkan dari kumpulan air yang mengelilingi Angkor ditambah dengan naungan awan yang meneduhkan dari terik matahari. Sempurna.

Angkor Wat dibangun dalam periode oleh Suryavarman II (1113 – 1150), bermula sebagai tempat peribadatan Hindu lalu berganti menjadi Buddha, beberapa abad kemudian. Sejak 1431, tahun kejatuhan era Angkor, area Angkor Wat tetap dihuni oleh pendeta-pendeta Buddha hingga periode Khmer Merah (1975). Di era yang terakhir ini yang menyebabkan keberadaan patung-patung Buddha lenyap dari Angkor Wat. Yang menarik, Angkor Wat menghadap arah Barat, sesuatu yang tidak umum untuk Candi-candi era Angkorian. Juga penceritaan reliefnya yang searah dengan jarum jam. Arah barat bagi mitos Hindu biasanya diasosiasikan dengan kematian, demikian juga dengan prosesi perjalanan kematian yang searah dengan jarum jam. Alasan-alasan itu yang membuat banyak orang berpendapat Angkor Wat sebenarnya ditujukan sebagai area pemakaman untuk Suryavarman II. Walaupun, tidak sedikit yang mengatakan arah Barat merupakan arah yang lebih baik untuk memuliakan Wisnu.

Saya melangkahkan pelan-pelan memulai memutar kompleks candi. Membayangkan delapan hingga sembilan abad lalu ribuan orang mendirikan bangunan sejarah ini. Siapa arsiteknya? Bagaimana mereka mengukur kekuatan fondasinya? Menempatkan satu per satu batu menyambungkan cerita pada reliefnya, atau membuat kerucut tinggi tanpa pilar pendukung dan tidak runtuh. Membuatnya tetap nyaman dengan sirkulasi udara yang mengalir, dengan detil yang sangat indah. Membayangkan bagaimana mereka melakukan management terhadap ribuan orang itu, luar biasa…

Angkor Wat penuh dengan pilar-pilar cantik yang simetris, iconic sekali. Seakan menyambut tamu yang datang, ada ruang dengan patung dewa Wisnu berselempang kain kuning keemasan berpayung. Disediakan peralatan sembahyang di dekatnya bagi umat yang ingin melakukan ritual ibadah. Kain keemasan ini tampak kontras sekali dengan bahan batu disekitarnya. Di banyak tempat di Angkor Wat ini, kita bisa melihat deretan pilar dan pintu secara perspektif dengan kehijauan terhampar di luar bangunan Candi. Tak jarang bisa melihat momen rombongan biksu berjubah oranye dan putih yang berjalan tenang dan rapi di bawah rindangnya pepohonan di dalam kompleks Angkor.

Tidak terasa, kaki ini mulai melangkah ke tingkat-tingkat yang lebih tinggi. Kita bisa melihat keluar jendela, bahwa tanah semakin jauh tertinggal di bawah. Kekaguman akan arsitekturnya terus terasakan. Ruang terbuka menuju bagian bangunan utama tetap ada. Benar-benar teknologi abad 12 yang luar biasa. Akhirnya sampai juga saya di bangunan utama Candi. Sebagian sedang dalam tahap renovasi. Yang sebelumnya sempat terasa gerimis, sekarang malah berganti panas terik yang pasti membuat keringat menderas turun!

Di bawah Bakan, tempat yang paling utama di Angkor Wat, saya menyempatkan istirahat bersama puluhan turis lainnya. Awan-awan sudah pergi, membiarkan sinar matahari terik menyengat langsung kepada siapapun dan apapun di bumi Angkor. Payung-payung berkembang, topi bertengger di kepala manusia dengan kacamata hitam melindungi mata. Saya menutup mata menghindari terik matahari yang tajam menembus penglihatan dan membayangkan puluhan abad silam, di tempat sama orang-orang berkumpul, merasa nyaman beribadah dengan pakaian terbaiknya, bukan dengan tanktop dan celana pendek; melantunkan puji-pujian, bukan teriakan-teriakan tawa yang membahana; melakukan sembah khusuk dengan ritme tubuh yang terjaga rapi, bukan lari atau lompat-lompat kangguru mengabaikan keselamatan orang lain yang meniti kemiringan tangga 50 derajat.

Panas terik jelang tengah hari membuat saya harus turun meninggalkan bangunan Candi karena tergoda dengan kesejukan berada di bawah kerimbunan pepohonan. Penanganan lingkungan sekitar Angkor membuat saya bertambah-tambah kagum. Hutan sekitar Angkor sangat terjaga, teduh sekali, tidak ada pedagang yang mengejar-ngejar pengunjung dan memaksa beli dagangan mereka, atau jalan yang diarahkan dan setengah memaksa pengunjung untuk memasuki area pedagang.

Saya masih bertemu dengan rombongan biksu yang sedang berjalan berurutan kembali ke Viharanya. Menurut saya, hal ini sangat mendukung Angkor sebagai tempat wisata. Angkor tampak menyatu dengan lingkungan masyarakat sekitarnya, masih ada komunitas keagamaan yang terus menerus berlangsung di Angkor dan sekitarnya. Angkor tampak ‘fulfilled’, area komersial tersedia tapi tidak mengganggu secara keseluruhan.

Tepat tengah hari saya meninggalkan Angkor Wat menuju South Gate. Ini adalah gerbang Selatan untuk memasuki Angkor Thom. Jika Angkor Wat adalah kompleks peribadatan maka Angkor Thom adalah kotanya. Gerbang ini termasuk yang paling utuh dengan masing-masing 54 patung yang mencerminkan baik dan buruk di kanan kirinya. Saya sengaja turun dari tuk-tuk untuk berjalan kaki melewati gerbang Selatan ini, seakan berjalan menembus waktu berabad-abad silam. Lagi-lagi saya membayangkan penataan gerbang kota pada abad 12 yang menyediakan jalan sangat lebar dan dihiasi oleh patung-patung filosofis dengan sungai lebar mendukung kota.

Perjalanan dilanjutkan menuju Bayon, candi utama pada era Raja Jayavarman VII yang terletak di pusat kota Angkor Thom. Saya menyebut Bayon sebagai the smiling temple, karena dimana-mana ada wajah tersenyum. Terpikir juga, sedikit kurang ajar, ini Candi Bibir Seksi karena banyak sekali penampakan senyum. Relief disini menceritakan kemenangan Raja terhadap bangsa Champa.

Tanpa terasa sudah harus makan siang, karena perut ini belum diisi apapun sejak semalam. Pengemudi tuk-tuk yang baik hati itu, membawa saya ke sebuah restoran di perkampungan Khmer yang sangat menarik. Mungkin suatu waktu, saya akan kembali lagi ke sini untuk mengenal lebih dekat.

Setelah makan siang khas Khmer, saya melanjutkan ke Ta Phrom. Disini tempat Angelina Jolie shooting sebagai Lara Croft dalam Tomb Raider. Untuk mencapainya kita harus berjalan kaki sekitar 500 meter menembus keteduhan pepohonan. Pepohonan yang luar biasa. Yang Maha Kuasa telah menciptakan dengan kuasaNya segala flora fauna. Akarnya yang seakan muncul dari bebatuan tetap kuat menjaga temples. Kekuatan pohon, menjaga rumah ibadah. Diantara bau lembab dan batu-batu yang berserakan, saya terus menikmati Candi ini. Luar biasa sekali. Memang proses renovasi dan restorasi terus dilakukan. Candi Ta Prohm ini dibangun oleh Raja Jayavarman VII untuk memuliakan ibundanya sebagai seorang Boddhisatwa Prajnaparamita.

Berjalan memutar kompleks candi dari pagi sangat melelahkan walaupun sudah beberapa kali istirahat. Akhirnya karena kaki sudah tidak kuat lagi untuk melangkah, ditambah badan yang mulai kelelahan, saya harus mengakhiri perjalanan di Angkorian temples. Sebenarnya masih banyak yang harus didatangi dengan keindahan unik dari masing-masing tempat. Tetapi bukankah itu semua bisa menjadi alasan untuk datang lagi?

Suatu saat waktu akan membawa saya kembali ke bumi Angkor dan saya akan menjelajahi setiap cerita relief tentang Mahabharata dan Ramayana, juga mungkin relief prosesi Suryavarman II, mendatangi candi yang belum sempat dilihat, menikmati kembali ke ‘rumah’ lagi… karena memang nyaman sekali berada di rumah. Home of the Soul! Mengapa tidak?

Satu pemikiran pada “Angkor Wat – Home of the Soul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s