Belajar Nilai Kehidupan di Cambodia


Ada lembaran hitam yang mengisi lubuk hati kebanyakan penduduk negeri Cambodia, terutama yang berusia 35 tahun ke atas, yang mungkin tidak pernah bisa dihapus begitu saja. Lembaran hitam itu, mungkin perlahan bisa termaafkan, namun untuk terlupakan, rasanya tidak mungkin. Lembaran hitam yang menjadi bagian dari hidupnya, terjadi ketika penderitaan begitu mendera dan Sang Malaikat Kematian begitu akrab menyelimuti permukaan negeri, dalam suatu masa di akhir tahun tujuh puluhan. Begitu dahsyatnya penderitaan ini sehingga masyarakat Cambodia dan dunia berkenan membuat tempat-tempat peringatan sebagai pembelajaran agar tragedi seperti itu tidak terjadi lagi di belahan dunia manapun.

Di Phnom Penh, masyarakat dunia mengenal tempat-tempat peringatan ini di Museum Tuol Sleng dan Choeung Ek. Dua tempat memorial yang benar-benar momental, mengerikan dan mampu menghancurleburkan hati manusia yang bersedia belajar. Tempat inilah yang membuat rencana perjalanan saya mundur maju. Saya ingin mengunjunginya namun ada rasa takut yang menyelimuti diri ini. Waktu berjalan, pada akhirnya keberanian untuk menghadapinya mengalahkan rasa takut itu sendiri. Sendirian, saya menjejakkan kaki ke tempat-tempat itu.

Pagi menjelang siang itu, saya mengunjungi Museum Tuol Sleng. Bangunan ini sebelumnya adalah Sekolah Menengah Atas Chao Ponhea Yat, yang semasa pendudukan Khmer Merah 1975-1979, dikonversi menjadi penjara dan proses interogasi yang mengerikan dan berganti nama menjadi Security Prison 21 (S21). Tuol Sleng sendiri dalam bahasa Khmer bermakna Bukit pohon beracun. Bangunan ini dibiarkan apa adanya sejak runtuhnya kekuasaan Khmer Merah.

Kawat berduri di sepanjang tembok samping seakan menyambut kedatangan saya agar menyiapkan hati ketika masuk. Setelah membayar tiket sekitar 2 USD, saya memutuskan untuk tidak menggunakan jasa pemandu, yang akhirnya saya sesalkan. Paling tidak, seharusnya dengan adanya Guide, saya memiliki teman di tempat mengerikan itu. Aura yang tidak menyenangkan langsung menyergap. Indera saya bereaksi langsung, ada bau yang mengerikan, ada rasa yang mengerikan. Ada hal yang tak terlihat tetapi bisa terasakan. Mengerikan.

Bed in Tuol Sleng Museum, Phnom Penh, CambodiaSaya melangkah masuk disambut dengan jejeran kuburan dari korban yang tidak sempat terselamatkan ketika Khmer Merah ditumpaskan oleh tentara Vietnam di tahun 1979. Kemudian memasuki bangunan pertama yang berbentuk ruangan-ruangan kelas, dengan tempat tidur penyiksaan di tengah ruang. Di atas tempat tidur tanpa kasur itulah, pernah banyak korban Khmer Merah, dari petinggi negara, ilmuwan, cendikiawan, dan lain-lain diintimidasi, diinterogasi dengan penyiksaan yang tidak terperi. Saya memilih naik bersama rombongan lain yang tidak saya kenal hanya agar bisa bersama-sama karena nuansa mengerikan itu sangat terasakan dimana-mana.

Gedung berikutnya merupakan ruangan foto para korban dari segala usia, baik pria maupun wanita serta anak-anak. Decak ketidakpercayaan, bercampur kegetiran dari pengunjung terungkap disitu, bahwa terjadi pelanggaran nilai kemanusiaan yang sebenarnya dilindungi dari Konvensi Jenewa tahun 1949. Ada banyak korban perempuan dan anak-anak. Ada korban karena agama yang dianutnya, ada korban karena warna kulitnya. Dipampang juga lukisan di dinding, yang dilukis oleh korban karena dipaksa untuk melukis, bagaimana sebuah penyiksaan berlangsung. Yang terjadi adalah saat manusia sudah tidak dianggap lagi sebagai manusia dengan martabatnya, bahkan tidak dianggap lagi sebagai hewan berjiwa sekalipun.

Yang terjadi adalah di bawah garis itu. Digambarkan bagaimana kuku-kuku dari seorang ibu dicabut paksa dengan menggunakan sejenis tang. Sekumpulan bayi yang diperlakukan seperti ayam potong, dipegang pada pergelangan kakinya dengan posisi terbalik, direbut paksa dari gendongan nyaman ibu mereka. Penyiksaan tidak terperi yang digambarkan bagaimana puting payudara, yang merupakan bagian tubuh penting dari seorang perempuan, dihancurkan dengan menggunakan sejenis catut. Bagaimana korban yang digantung terbalik dengan kepala ditenggelamkan dalam bejana, bagaimana korban disetrum dengan listrik, dibunuh dengan kapak sehingga meninggalkan lubang di tengkoraknya bahkan ada yang tertinggal pecahan pelurunya. Seluruh alat-alat penyiksaan yang pernah dipakai diperlihatkan apa adanya. Semua alat-alat yang normal ada di sebuah rumah tangga biasa. Cangkul, kapak, arit, tang, catut, obeng dan lain-lain. Sungguh memualkan, isi perut seakan hendak keluar menyaksikan betapa sadisnya penyiksaan yang terjadi beberapa dekade lalu di Cambodia.

Belum cukup hingga disitu, saya melanjutkan ke gedung lain, kali ini ruangan kelas itu dibagi ke dalam sejumlah sel yang hanya cukup untuk 1 orang dan lebih sempit dari ukuran kuburan. Paling tidak didalam kubur, jasad bisa diletakkan dengan lurus. Dalam sel ini, dalam kondisi terlentangpun korban tidak dapat meluruskan badan. Dijelaskan pula bahwa korban tidak boleh bicara satu sama lain. Di depan setiap kelas baik di bawah maupun di tingkat-tingkat atas, kawat-kawat berduri menghias balkon. Tujuannya agar tertutup kemungkinan bagi korban untuk bunuh diri dengan meloncat. Saya tidak mengunjungi lantai-lantai atas, karena aura mengerikan yang begitu terasa walaupun pada tengah hari yang terik. Sudahlah, saya toh bisa membayangkan bagaimana mengerikan kondisi di atas. Cukup.

Walaupun tidak enak untuk dikunjungi, tetapi peristiwa tragis berupa penghancuran nilai kemanusiaan atau yang dikenal dengan genosida ini benar-benar terjadi di antara tahun 1975 – 1979 di bumi Cambodia. Tidak hanya rakyat yang menjadi korban, bahkan Raja Cambodia sekarang, His Majesty Norodom Sihamoni, pada saat itu dikirimi surat bertandatangan palsu agar dia kembali ke Cambodia dan dijadikan tahanan rumah di Royal Palace bersama orangtuanya. Tidak ada yang membantu di istana yang luas itu, mereka harus bercocok tanam sendiri untuk makanan sayuran dan buah-buahan. Itu bangsawan, itu keluarga Raja! Bahkan banyak keluarga bangsawan, masih kerabat dekat Raja, yang meninggal dunia menjadi korban keganasan Khmer Merah, hanya karena berada di luar istana. Lalu bagaimana rakyat kebanyakan yang berada di diluar istana?

Melengkapi pembelajaran hati dari Museum Tuol Sleng, saya melanjutkan perjalanan ke Choeung Ek atau dikenal dengan sebutan The Killing Field. Perjalanan berdebu 10 – 15 km di luar kota Phnom Penh ditempuh cukup lama dengan menggunakan tuk-tuk. Choeung Ek sendiri merupakan ladang pembantaian sekitar 17.000 korban Khmer Merah antara tahun 1975 – 1979. Sekitar 9000 korban ditemukan di lokasi kuburan masal ini setelah kejatuhan Khmer Merah.

Terik matahari menyambut kedatangan saya. Setelah membayar tiket masuk sekitar 3 USD, saya berjalan perlahan masuk ke gedung memorial-nya yang berbentuk seperti stupa. Sekitar 8 meter keatas terpampang di hadapan saya, 5000 lebih tengkorak korban mengisi penuh lemari kaca. Di bagian bawah diletakkan setumpukan baju-baju korban. Inilah korban-korban yang dibunuh setelah diinterogasi di S21, karena banyak korban Choeung Ek berasal dari S21 Tuol Sleng. Dan seperti di Museum S21 Tuol Sleng, aura mengerikan tetap terasakan.

Saya berjalan mengikuti peta yang diberikan. Ada lubang besar dengan informasi tempat ditemukannya ratusan korban perempuan dan anak-anak. Di lubang besar yang lain, terlindung dengan atap yang dibuat belakangan, merupakan tempat ditemukannya ratusan korban tanpa kepala. Saya harus hati-hati dalam melangkah, karena jika diperhatikan dengan seksama, ada tempat di permukaan tanah, menyembul sebagian tulang korban lengkap dengan pakaiannya, terserak juga gigi dan pecahan tulang di permukaan tanah tempat kita melangkahkan kaki. Semua ini karena air hujan meluruhkan tanah dan membukakan yang tersimpan di dalamnya. Melengkapi kengerian ini, saya tidak tahu apa yang akan disampaikan oleh sebuah pohon, apabila pohon dapat berbicara, karena pohon itu merupakan tempat Khmer Merah membunuh bayi dengan memegangnya pada pergelangan kaki dan membantingnya ke pohon berkali-kali hingga tewas. Ada pohon lain yang berlubang pada kayunya dan digunakan untuk menempatkan pengeras suara yang suara kerasnya dapat mengalahkan suara jeritan dan tangisan, kesakitan, ketakutan dari para korban yang hendak dibunuh. Saya mengelilingi area Choeung Ek dengan hati yang hancur lebur.

Ketika saya memasuki museumnya, ada sekitar 20 orang turis yang memenuhi ruangan berukuran sekitar 4 x 8 meter, tetapi semua diam dan hening. Hening sehening-heningnya, seakan larut dalam ketidakberdayaan para korban diujung kehidupannya. Semua membaca mengikuti larik-larik kata yang kelihatannya mustahil, tidak nyata.  Tetapi hal ini sungguh terjadi, pada sebuah masa ketika manusia diperlakukan lebih rendah daripada hewan, ketika harapan menjadi nihil. Saya membenarkan apa yang saya baca di buku Lonely Planet, tempat ini akan membuat jiwamu bergetar hebat, porak poranda, crushed terhadap apa yang pernah terjadi di sini. Kemudian pada akhirnya diharapkan agar kita bisa menghargai kemanusiaan, apapun warna kulitnya, rasnya, agamanya, selama dia menjadi manusia, selama dia hidup dan ketika dia mati.

Di Choeung Ek ini, kita belajar tentang nilai hidup itu sendiri, bahwa yang terjadi beberapa dekade lalu merupakan titik nadir nilai kemanusiaan, sebuah masa ketika harapan lebih baik sungguh telah hilang. Kita belajar dari peristiwa tragis saat itu, untuk bisa menjaga hidup itu sendiri, di tingkat yang paling rendah sekalipun. Di momen-momen tetap bisa hidup sederajat dengan binatang pesakitan saja sudah merupakan sebuah nilai tinggi. Kita belajar bahwa pernah ada banyak manusia lain yang hidup hanya untuk menunggu perintah orang lain baginya untuk mati, bisa lima menit lagi, satu jam, atau besok, atau entah kapan dan bagaimana caranya, tergantung orang lain yang punya kuasa.

Itulah regim Ultra Nasionalist, Khmer Merah pimpinan Pol Pot. Semakin tinggi pendidikan si korban, baik engineer, menteri, dokter, artis, apapun, wanita, pria, apapun warna kulitnya, bisa jadi korban. Termasuk anak-anak, karena tidak boleh ada penerus yang bisa membalas dendam. Paham komunal yang berbasis pada kemurnian bangsa Khmer yang agraris sebagai petani yang mengandalkan kekuatan fisik, membuat kaum terpelajar, berharta dan berpangkat menjadi kaum yang dianggap telah ternoda oleh paham kapitalis dan seharusnya dimurnikan kembali. Demi sebuah paham, di negeri Cambodia, telah terjadi peristiwa tragis dan memilukan, sebuah penghapusan kehidupan atau dikenal sebagai peristiwa genosida.

Jiwa saya menangis, pelupuk mata terasa panas, pandangan terasa kabur terhalang airmata. Inilah hadiah yang diberikan dari Yang Kuasa, makna ke Cambodia di akhir perjalanan saya. Begitu indah, begitu mengguncangkan jiwa. Sebuah pembelajaran tentang hidup, ke sebuah lorong dimana Malaikat Kematian pernah akrab berkunjung dan menyelimuti, begitu dekat, di atas kaki saya sendiri. Jiwa saya lumpuh, collapsed… Dan, menjalani kehidupan saya sekarang bagaimanapun rasanya,  langsung terbetik di benak: nikmat apa lagi yang kamu dustakan?

Dalam perjalanan saya ke bandara untuk kembali ke tanah air, saya terdiam, terpaku, pikiran tidak mampu bergerak rasanya. Lumpuh. Saya teringat jutaan nyawa yang hilang sia-sia, hampir sepertiga dari penduduk negeri saat itu. Doa saya untuk mereka, juga untuk hati yang belum tersembuhkan, untuk seluruh rakyat Cambodia yang telah melalui begitu banyak penderitaan dan untuk kita semua agar peristiwa serupa tidak akan pernah terjadi lagi di dunia, dimanapun.

Satu pemikiran pada “Belajar Nilai Kehidupan di Cambodia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s