Loung Ung: First They Killed My Father (terjemahan)


Diterbitkan pertama kali di USA tahun 2000 – HarperCollins Publisher, Inc. Dialihbahasakan oleh Rosida W Simatupang, Elex Media Komputindo, tahun 2010 , 400 halaman.

Memutuskan untuk membeli dan membaca buku ini berarti menyiapkan hati dan rasa untuk menjelajahi  batas-batas ekstrim, dari kehidupan normal lalu terjun bebas ke tingkat paling bawah dari nilai-nilai kemanusiaan di bumi ini dan perjuangan mempertahankan setitik harapan ketika tidak ada lagi jalan lain kecuali memenangkan hidup dari cengkeram Sang Kematian. Dan yang membuatnya semakin bernilai karena penjelajahan ini datang dari mata hati seorang anak berusia lima tahun. Siapkan tissue untuk airmata Anda ketika membaca buku ini!

Tulisan singkat sub judul di sampul buku mempertegas isinya: True Story – Trauma seorang anak perempuan Kamboja di bawah kekejaman rezim Khmer Merah. Diperkuat dengan gambar foto hitam putih buram seorang anak perempuan yang memegang papan nama identitas diri. Bagi yang pernah mendatangi lorong-lorong kelas museum genosida Tuol Sleng di Phnom Penh, foto ini pasti langsung mengingatkan pemandangan serupa disana dan seakan memutar kembali kejadian mengerikan yang pernah terjadi di bumi bangsa Khmer itu.

Bermodalkan pernah menginjakkan kaki di museum Tuol Sleng dan Cheoung Ek, -tempat-tempat memorial peristiwa genosida, yang kedua tempat ini mampu membuat rasa diri ini lumpuh lantak karena menyaksikan begitu akrabnya Sang Kematian mendatangi seluruh negeri Kamboja selama 1975 – 1979 -, membaca buku ini seakan melengkapi lumpuhnya jiwa dan rasa itu. Apa yang dialami Loung Ung adalah apa yang dialami oleh jutaan bangsa Khmer dan penduduk negeri itu pada periode yang sama (…walaupun semua peristiwa ini berdasarkan pengalamanku, namun kisah itu mencerminkan berjuta-juta orang Kamboja. Jika Anda pernah tinggal di Kamboja selama masa yang sama, maka itu juga akan menjadi kisah Anda, catatan Penulis)

Kisah dimulai saat Luong Ung, yang pada tahun 1975 berusia 5 tahun, merupakan anak ke 6 dari 7 bersaudara yang hidup berkecukupan sebagai bagian dari masyarakat menengah atas di Phnom Penh. Ayahnya, seorang agen pemerintah kelas atas dan Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Kakak-kakaknya memiliki kebahagiaan masa remaja perkotaan dan adiknya yang berusia 3 tahun merupakan kesayangan kedua orangtuanya.

Bulan April 1975, akibat pergolakan politik dalam pemerintahan Jendral Lon Nol yang saat itu berkuasa, Khmer Merah yang beraliran komunis berhasil mengambil alih pemerintahan. Pemerintahan baru cepat menguasai ibukota Phnom Penh dan langsung memerintahkan penduduknya untuk mengosongkan kota dengan cara mengatakan kota akan dibom oleh Amerika. Sesuai dengan ideologi mereka, penduduk Phnom Penh yang dinilai kapitalis merupakan musuh utama dari konsep komunal mereka, yang kebanyakan datang dari daerah-daerah agraris seantero negeri dan umumnya miskin. Loung Ung bersama seluruh keluarga terpaksa mengikuti pengosongan kota bersama jutaan warga Phnom Penh lainnya, meninggalkan semua properti mereka dan berjalan kaki selama berhari-hari menuju desa-desa.

Benturan hidup, peristiwa traumatik silih berganti dan berkejaran membentuk pribadi mungilnya. Loung yang saat itu berusia 5 tahun, menyaksikan dengan matanya sendiri dan mendengar dengan telinganya sendiri, bagaimana orang-orang dibunuh di depan rumah, bagaimana mayat-mayat ditinggalkan membusuk begitu saja dan dijadikan bahan pesta pora bagi lalat dan belatung. Ia seorang anak yang belajar untuk menjadi bisu, buta dan tuli agar tetap hidup. Situasi dan kondisi membuat Pa dan Ma-nya sendiri mengajarkan berbohong menutupi identitas asli mereka agar bisa menyelamatkan selembar nyawa, walaupun harus bekerja seharian penuh di kebun-kebun rakyat. Usia 5 tahun!

Di masa kelam itu, berada di mana pun adalah tidak aman, dengan begitu banyaknya orang yang mengungsi, dengan risiko bisa dikenali identitas asli mereka sebagai musuh utama Khmer Merah, oleh orang-orang yang dulunya teman, hanya karena mereka tidak ada pilihan lain selain mempertahankan hidup. Loung Ung sekeluarga harus selalu siap pergi dari desa ke desa lain, melewati pos pemeriksaan dengan risiko mati berbarengan. (Negara baru ini tidak punya hukum atau peraturan. Orang-orang kota terbunuh tanpa alasan. Siapa saja dapat dipandangnya sebagai ancaman… mantan pegawai negeri sipil, biarawan, dokter, perawat, seniman, guru, murid, bahkan orang-orang yang memakai kacamata… –hal88)

Tanam paksa bagi rakyat di seluruh negeri dan hasilnya diambil pemerintah untuk dijual guna membeli senjata-senjata Khmer Merah, membuat kelaparan dengan mudah menyambangi di seluruh negeri. Semua hewan yang tersesat mendatangi kamp-kamp pengungsian langsung kehilangan nyawanya, menjadi santapan mewah, hanya demi keberlangsungan kehidupan. Tanaman, yang beracun maupun yang tidak, telah kehilangan pucuk-pucuk hijaunya karena habis dimakan manusia-manusia kelaparan. (Aku melihat ke dalam mangkuk dan hatiku menangis saat menghitung delapan butir nasi yang tersisa, sisa delapan butir!… hal131)

Dalam pemikiran usia 5 tahunnya, Loung belajar menerima paham ideologi Khmer Merah yang tidak mengenal arti kepemilikan. Semua milik pemerintah dan dibagikan kembali kepada rakyat. Uang tidak ada nilainya. Ilmu tidak diperbolehkan. Khmer Merah telah menghapus pasar, sekolah dan universitas termasuk penghapusan budaya asing, anak-anak harus mengubah panggilan pada orangtua mereka. Pelanggaran bisa dianggap pengkhianat dan Khmer Merah bisa berbuat apapun sesuka mereka.

Satu per satu anggota keluarganya tercinta terpisahkan oleh keadaan yang terus memburuk. Pilihan kata mati yang digunakan, bukan meninggal menunjukkan betapa tidak berharganya manusia saat itu di sana. Begitu banyak kesedihan, keputusasaan yang terasa menggigit dalam buku ini.

Kakak perempuannya, yang hidup terpisah, sendirian di Kamp kerja Paksa, kelaparan, tanpa keluarga dan saudara yang mengasihi. Tidak boleh menunjukkan emosi atau para pengawas akan menganggapnya tidak layak dipertahankan hidup. Pa yang senantiasa mengajarkan tidak boleh menyerah pada cengkeram penderitaan, akhirnya terpisahkan juga dengan dirinya. Pa tercintanya dibawa pergi oleh mereka. Juga saat tentara membawa Ma dan adik kecilnya pergi. Artinya sangat jelas. Perpisahan kekal dengan Ma dan adiknya. Adik bayinya yang tumbuh dalam kelaparan. Seorang anak yang kehilangan orang-orang tercinta dalam usia yang begitu belia dalam keadaan yang begitu buruk namun kondisi mengharuskan tetap melangkah terus…

Sepeninggal yang tercinta, Loung yang berusia 7 tahun, tumbuh dengan kebencian lekat terhadap Khmer Merah. Kebencian ini tersimpan rapi. Loung dididik menjadi tentara anak dan belajar menggunakan senjata tradisional, senjata yang sama yang digunakan untuk membunuh ayahnya dan menjadikan kakaknya mati sia-sia. Loung senantiasa bermimpi sama, dikejar sesuatu yang menakutkan, tetapi ketakutan dan kemarahan membuatnya berbalik arah, melawan, membunuh lalu mencincangnya untuk bisa memenangkannya.

Namun Loung kecil senantiasa teringat janji kepada Pa-nya yang tercinta untuk berjuang terus (…Aku tidak boleh mati Pa. Tidak ada yang bisa dilakukan namun kami harus tetap bertahan hidup. Tapi, suatu hari, mereka semua akan menderita seperti kita menderita sekarang…)

Kebaikan senantiasa memeluk bagi yang percaya dan memelihara secercah harapan. Yang tadinya digembargemborkan bahwa Vietnam adalah musuh negara dan akan menyerang Kamboja, faktanya memperlakukan bangsa Kamboja dengan lebih baik daripada Khmer Merah. Namun faktanya, perang tetaplah perang, Loung yang belum genap 10 tahun pun hampir menjadi santapan kekerasan tentara yang menjaga Negara itu. Hanya kekuatan harapan dan keyakinan membuatnya mereka yang tersisa, tercerai berai bisa berkumpul kembali, walaupun harus melalui beberapa pertempuran dengan Khmer Merah.

Lalu bagaimana dengan dendam dan kebencian yang tersimpan rapi di dalam jiwanya? Ketika keadaan berubah lebih baik dari sebelumnya, Loung memaksa diri berada diantara kerumunan masyarakat saat tentara Vietnam menangkap tentara Khmer Merah dan membiarkan rakyat mengeksekusinya dengan senjata-senjata tradisional ke seluruh tubuh tentara Khmer Merah itu. Ia melihat semuanya dengan hati dan mata yang dingin, namun semua terjadi begitu saja. Semua pembalasan dendam itu tidak mengembalikan semua orang yang tercintanya kembali ke dunia ini.

Waktu terus berjalan, Loung sekeluarga mencoba menata kembali hidup mereka semuanya, mencoba berdamai dengan keadaan. Melalui perjalanan panjang ke keadaan yang lebih baik, kakak sulung dan dirinya pergi ke Amerika melalui Vietnam kemudian berlayar ke Thailand. Di Amerika mereka menyusun kembali keping-keping kehidupannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s