Tempat Wisata Phnom Penh


Bulan April 2011 lalu, saya menyempatkan diri melakukan My Me-Time trip ke Cambodia. Dan setelah menjelajahi Angkor Wat dan Siem Reap, perjalanan dilanjutkan ke Phnom Penh naik bus Mekong Limousine Express (biaya sekitar US$11) selama sekitar 5 – 6 jam dengan berhenti sebentar sekitar 30 menit di Kompong Thom.

Saat berhenti itu menunjukkan waktu sekitar jam 11 siang, belum waktunya untuk makan siang. Sehingga waktu istirahat sebentar itu saya gunakan untuk menelusuri pasar. Banyak toko kelontong dan toko obat selain toko tekstil dan pakaian jadi. Saya mencoba untuk membeli barang yang saya tunjuk langsung ke lemarinya dan tersenyum pasrah ketika diajak berbahasa Khmer, seorang siswa yang saya perkirakan selevel SMP tersenyum membantu menerjemahkan ke dalam bahasa Inggeris. Senyum memang universal. Transaksi terjadi dengan berawal dari senyum. Dan bedanya dengan Siem Reap, di kota kecil ini, uang Riel lebih diterima daripada US Dollar Notes.

Tidak lama saya kembali ke tempat menunggu bus dan terlibat pembicaraan dengan para penumpang lain hanya gara-gara seekor tikus besar menabrak kaki saya. Hiiiii…. Ternyata sebelumnya memang pemilik toko di belakang tempat saya berdiri sedang mengejar-ngejar tikus dan tikus itu bersembunyi di dekat kaki tanpa setahu saya. Suara keras dari tongkat mungkin memberi kepanikan bagi si tikus sehingga dia keluar dari persembunyiannya dan sempat menabrak kaki saya yang mungkin menghalangi larinya. Untungnya kejadian itu sangat cepat berlangsung, dalam hitungan detik. Ekor mata saya hanya melihat sekelebat benda hitam di kaki saya. Seandainya saya lihat tikusnya, tentu saya akan lompat-lompat kangguru saking geli dan takutnya.

Saya sempat terlibat dalam pembicaraan asik dengan salah satu penumpang yang juga sedang berdiri menunggu busnya, yang menuju ke Siem Reap. Dia, warganegara asli Cambodia, merupakan tenaga pendidik dari sebuah LSM yang secara periodik mengunjungi wilayah-wilayah terpencil untuk mengajar Bahasa Inggeris. Saya dibuat kagum oleh ceritanya mengenai semangat murid-muridnya untuk belajar Bahasa Inggeris dengan kondisi seadanya. Saya langsung jadi teringat kondisi pendidikan dasar di negeri kita, di daerah-daerah terpencil. Rasanya saya tidak yakin Bahasa Inggeris diajarkan di tempat-tempat terpencil pada level pendidikan dasar (SD).

Berbeda dengan pemandangan indah yang saya temui sepeninggal Siem Reap dengan sawah-sawah dan pohon palem sebagai pembatas sawah, sisa perjalanan menuju Phnom Penh tidak begitu menarik karena pemandangan yang gersang, penuh debu dan jalan rusak di beberapa tempat. Dan seperti di Indonesia juga, pemukiman semakin padat dengan semakin dekat ke pusat kota Phnom Penh. Bahkan saya melihat 2 hingga 3 mesjid besar dengan menara-menara indah yang menjulang tinggi di pinggir kota Phnom Penh.

Akhirnya bus menemukan tempat pemberhentiannya di dekat Sisowath Quay sekitar jam 2 siang. Dari atas bus, saya sudah melihat gelagat akan dikerubuti oleh para sopir tuk-tuk saat mengambil bagasi di tempat selebar trotoar sempit. Untuk itu saya harus berbekal pengalaman hidup di Indonesia yang jumlah penduduk Jakarta saja sudah melebihi penduduk seluruh negeri Cambodia ini. Yakin dan percaya diri saja menghadapi kerumunan. Tapi usaha saya berlaku seperti orang lokal gagal, karena saya tetap diajak berbicara bahasa Inggeris oleh sopir tuk-tuk. Ada seorang sopir tuktuk, Sam namanya, yang kelihatannya lebih sabar, berada agak lebih ke belakang, tidak mau mendesak dan bisa bahasa Inggris. Lagi-lagi bahasa universal berbicara. Senyum. Singkatnya saya melakukan negosiasi harga dan saya mendapatkan dia untuk seharian sampai besoknya. Sebenarnya tidak murah (USD$25), tetapi sudahlah, saya mau santai menikmati Phnom Penh.

Saya diantar terlebih dahulu untuk check-in ke Landscape Hotel (dapat diskon besar dari Agoda), Hotel masih terhitung riverside, dengan menghadap sungai Mekong-nya yang lebar itu. Proses check-in yang cepat, dapat kamar di lantai teratas, pemandangan luar biasa ke Sungai Mekong, kondisi kamar minimalist dengan king size bed dan kamar mandi modern dengan amenities lengkap, tentu sangat tempting dinikmati dahulu sebelum berjalan-jalan di kota Phnom Penh.

Sehabis menyegarkan tubuh, saya mulai berkelana. Tempat pertama yang saya datangi adalah Royal Palace dan Silver Pagoda. The must see in Phnom Penh. Tempat ini adalah Istana resmi kediaman Raja Cambodia dan tempat berlangsungnya acara-acara kenegaraan. Melihat tempatnya dari luar pagar saja, belum masuk ke dalamnya, saya tahu, saya jatuh cinta…

Menurut catatan saya, Raja Cambodia sekarang adalah – His Majesty King Norodom Sihamoni, bergelar Preah Karuna Preah Bat Samdech Preah Baromneath Norodom Sihamoni. Wiki versi Inggeris mengatakan nama Sihamoni itu berasal dari Sihanouk (nama ayahnya – Norodom Sihanouk, HM the King Father) dan Monineath (nama ibunya, HM The Queen Mother). Kelihatannya mesra sekali ya…. Tapi kalau dari Wiki versi Indonesia, dicari turunan akar kata dan bahasanya, waduh, rumit sekali… Yang paling tahu tentunya kedua orangtuanya.

Sam, sang supir tuk-tuk mengatakan bahwa saya boleh sekitar 1 jam di dalam Royal Palace tetapi akhirnya saya tahu, saya akan berlama-lama di dalam. Saya memang terpesona dengan keindahan Royal Palace, tamannya bagus sekali. Bentuk atap bangunannya menurut saya lebih bagus daripada bangunan serupa di Thailand. Karena sangat Khmer. Cantik luar biasa. Saya melangkah pelan, walaupun matahari sore cukup panas. Ada banyak bangunan megah. Tidak puas-puasnya saya mengambil foto-foto bangunan, taman, tanaman, lampu, gerbang, semuanya yang cantik, termasuk cara pakai kainnya. Aktivitas pemeliharaan tetap berjalan, ada area pemugaran, pengecatan ulang. Ada area publik dan area non-publik. Entahlah, saya merasakan akses ke area non-publik tidak terlalu ketat. Mungkin karena saat itu Raja sedang berada di China. Tapi saya jadi berpikir, jika untuk area publik secantik ini, bagaimana di balik tembok istana itu, di area non-publik…

Saya melanjutkan untuk melihat Silver Pagoda, juga Temple of Emerald Buddha. Karena di dalam gedung tidak boleh mengambil gambar, saya menikmati keheningannya saja yang sangat luar biasa. Entah kenapa saya selalu suka dengan keheningan dengan banyak orang di dalamnya. Betapa ingin saya duduk di karpet berlama-lama disitu. Melihat satu per satu benda luar biasa yang menjadi koleksinya dan menikmati kemegahan bangunan. Saya menyusuri dinding-dindingnya, merasakan musiknya, auranya, udaranya… Menyentuh hati, menyentuh sanubari.

Ada sedikit rasa kehilangan ketika akhirnya waktu memanggil untuk meninggalkan Royal Palace area, Temple of Emerald Buddha dan Silver Pagoda. Berada di sini seperti bisa merasakan sentuhan jiwa Phnom Penh, dan semua yang terkait kerajaan yang bersifat fairy tales. Saya tetap menyempatkan untuk duduk istirahat di taman sambil minum menikmati sore yang indah dengan burung-burung merpati terbang dan hinggap di sekitar Silver Pagoda. Sungguh kenikmatan luar biasa berada di situ.

Sambil menuju keluar, saya melewati sebuah rumah tradisional Khmer. Sejak sampai di bumi Cambodia dan menikmati perjalanan darat dari Siem Reap ke Phnom Penh, saya tertarik sekali untuk melihat rumah tradisional Khmer, yang serupa dengan rumah-rumah tradisional Kalimantan dan Sumatera karena berupa rumah panggung tinggi. Saya melihat ke dalamnya, seperti biasa, ada ruang luas yang berfungsi sebagai dapur, juga berfungsi sebagai ruang keluarga dan tersedia kamar kecil untuk tidur. Di kolong rumah Khmer itu, ada seorang perempuan yang sedang menenun yang hasilnya bisa dibeli. Tekstil termasuk sutera memang termasuk produk utama dari Cambodia.

Keluar dari rumah Khmer, ada gallery foto. Surprise juga melihat foto Bung Karno saat Cambodia Independence Day. Jadi teringat, HM Norodom Sihanouk, The King Father memang memiliki hubungan yang dekat dengan mantan Presiden Soekarno. Selain itu, ada foto-foto prosesi kerajaan, acara-acara kenegaraan dan lain-lain di Cambodia.

Kemudian, saya memasuki ruangan Preah Sihamoni’ expo yang berisikan iring-iringan prosesi pengangkatan Raja dalam bentuk boneka. Di dinding terdapat lukisan-lukisan besar. Disitu saya baru menyadari bahwa beliau itulah Sang Raja Cambodia. Dari wajah yang terlukis, terlihat bahwa Sang Raja memiliki campuran Eropa, yang membuatnya sangat berbeda dari orang Khmer pada umumnya. Saya mengambil foto lukisan Sang Raja tersebut, sambil bilang ke penjaganya, mungkin agak sedikit kurang ajar buat ukuran di sana, He’s goodlooking… hehehe…

Kemudian Sam, yang menunggu saya di pintu keluar, menyarankan ke National Museum, tetapi ternyata sudah tutup. Saya disarankan untuk datang pagi-pagi besoknya. Daripada menyesal, saya sempatkan mengambil foto luarnya saja. Di dekatnya ada lapangan luas tempat keluarga bersantai pada sore hari. Balita dengan lucunya mengejar burung-burung merpati di lapangan, membuat merpati-merpati itu terbang ke segala arah. Anak-anak lain memberi makan untuk burung-burung itu. Tampak di kejauhan, deretan bendera-bendera ASEAN berkibar di tiang-tiang sepanjang jalan protokol. Bangga rasanya melihat Sang Merah Putih berkibar di negara orang. Menimbulkan rasa haru.

Perjalanan dilanjutkan ke Wat Phnom. Kuil pelindung kota Phnom Penh ini berada di atas bukit kecil yang penuh dengan kerimbunan pohon. Tamannya tidak terlalu terawat. Untuk sampai ke atas, yaa… harus naik tangga. Tidak terlalu tinggi, kira-kira hanya naik ke lantai 3 atau 4. Tiket masuk dikenakan US$2. Setelah sampai di atas, saya kecewa karena Wat Phnom ditutup karena sedang renovasi. Sama sekali tidak ada pemberitahuan di bawah. Beberapa bule yang duduk ditangga dan sama-sama merasa tertipu, berseloroh satu sama lainnya… we’re all the loser… Saya tidak percaya, sampai berputar keseluruh Wat untuk tahu memang tidak ada celah dan tidak diperbolehkan masuk ke dalam. Kali ini saya setuju dengan seloroh bule-bule tadi. Walaupun demikian, untung saja masih ada stupa besar yang bisa menjadi obat kecewa. Dan juga ada tersedia layanan (kelihatannya bagi anak-anak saja) untuk naik gajah di taman itu. Rasanya lucu juga, melihat gajah bebas jalan-jalan di taman.

Matahari semakin condong ke ufuk Barat. Rencana ke Central Market, yang arsitekturnya sangat menarik, akhirnya batal karena kelihatan waktunya tidak tepat untuk berbelanja atau mengambil foto. Selanjutnya, setelah berkunjung ke sebuah mesjid internasional yang terletak di pinggir sebuah danau kecil tetapi sayang kurang terawat, perut mulai berontak minta diisi. Baru sadar, pagi tadi hanya makan omelette dan spaghetti sisa kemarin malam di hotel di Siem Reap dan waktu makan siang terlewatkan. Karena hari ini adalah malam terakhir saya di bumi Cambodia, maka seperti biasa, saya memperbolehkan diri untuk makan malam dengan sedikit berlebih. Setelah berputar-putar mencari resto yang tepat, dan saya beruntung bisa melihat kesibukan Phnom Penh menjelang malam, akhirnya Sam menghentikan tuk-tuk di Malaysian Restoran. Halal. Saya senang dengan rekomendasi ini dan mengajak Sam untuk makan malam setelah sesiangan mengantar kemana-mana. Di resto itu, ngobrol seru-lah saya, Sam dan yang punya restoran dengan berbagai bahasa yang bercampur-campur, Bahasa Inggeris, Khmer, Indonesia aksen Malay hahaha…

Tadinya saya masih merencanakan untuk jalan-jalan sepanjang pinggir Sungai Mekong yang terkenal happening di Phnom Penh, tetapi untuk kesana macet sekali dan badan sudah tidak terlalu segar. Godaan berendam di hotel lebih menarik daripada jalan-jalan sendirian. Saya menyisakan jalan-jalan itu untuk dijadikan alasan bisa kembali lagi ke Phnom Penh.

Keesokan harinya, my last day in Phnom Penh, saya memulai dengan sarapan lengkap (termasuk memasukkan 2 roti dalam plastik untuk bekal hehe). Dari tempat sarapan saya bisa menyaksikan Royal Palace dan Silver Pagoda dan panorama kota termasuk juga Mekong River yang lebar itu.

Meninggalkan hotel, Sam mengantar saya ke National Museum. Wow… isinya sangat bagus buat yang suka sejarah. Peninggalan-peninggalan berupa patung, barang-barang pra sejarah, artefak-artefak, antik, semuanya menarik hati. Sayang, seperti umumnya yang berlaku di museum, (kecuali di Indonesia, mungkin!!) tidak diperkenankan untuk difoto, demi menjaga umur dan keberlangsungan barang-barang Museum. Namun saya bisa mengambil foto taman-tamannya saja yang merupakan area terbuka di dalam area museum. Lagi-lagi saya menikmati dengan hanya duduk di taman menyaksikan kupu-kupu, pengunjung dan dekorasi Khmer di Museum ini. Ternyata posisi tempat saya duduk ini memang luar biasa. Seorang pelukis kulit putih membuka peralatannya di dekat saya dan langsung tampak asyik memulai memindahkan pemandangan indah ke dalam kanvasnya. Atap National Museum ini memang cantik, sangat Khmer, mengingatkan saya pada Royal Palace. Di Museum ini saya juga tertarik pada pintu kayunya yang tampak sangat kokoh, tinggi dan berat, penuh dengan ukiran. Luar biasa menggoda hati. Di halaman Museum tersebar banyak patung dan simbol-simbol budaya, di antaranya, di dekat pintu masuk, ada seperangkat Lingga-Yoni lengkap yang membuat saya tersenyum karena tahu sedikit artinya…🙂

Melanjutkan perjalanan, saya menyempatkan datang untuk ke Independence Monument atau dalam bahasa Khmer disebut Vimean Ekareach, terletak di Sihanouk Blvd. Cambodia merdeka dari kolonialisme Perancis pada tahun 1953. Bentuk dan gaya bangunan Independence Monument ini dapat dilihat pada bangunan Bakan di Angkor Wat, walaupun kalau kita lihat secara sekilas, monumen ini sepertinya mirip dengan Candi Bajang Ratu di Trowulan. Namanya juga Indepence Monument, jadi pastilah ramai saat perayaan kemerdekaan nasional.

Phnom Penh, walaupun digempur peperangan dan konflik politik berkepanjangan termasuk penghancuran Phnom Penh semasa Khmer Merah, saya melihat, dengan perkembangan ekonomi yang baik, Phnom Penh memiliki potensi berkembang cepat, bersiap diri, berdandan dan sepertinya akan menyusul tempat-tempat lain di Asia sebagai tempat tujuan wisata.

Saya masih mengunjungi museum Tuol Sleng dan Choeung Ek pada sisa hari itu dan menyisakan beberapa spot, seperti Russian dan Central Market untuk kunjungan ke Phnom Penh berikutnya. Selalu saja ada alasan untuk datang kembali kan?

3 pemikiran pada “Tempat Wisata Phnom Penh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s