Arsip Tag: Candi Angkor

Dua Dvarpala menjaga Preah Khan

Meniti Misteri Pedang Suci di Candi Preah Khan


Entah sudah berapa kali saya mengunjungi kompleks Candi-candi Angkor di Cambodia, namun karena kecintaan yang dalam pada tumpukan batu yang tak jarang tampak tak beraturan itu, sepertinya saya selalu merasa amazed lalu menggunakan mesin waktu tepat di depan gerbang di tiap candi. Giliran kali ini adalah Candi Preah Khan yang letaknya sekitar 2kilometer di timur laut Angkor Thom.

This slideshow requires JavaScript.

Berbeda dengan kebanyakan orang, supir tuk-tuk menurunkan saya di sisi Barat candi dan menjemput kembali di sisi Timur. Dan mulailah saya menembus hutan Angkor yang sudah terbuka untuk sampai ke candi Preah Khan dan siap menyalakan mesin waktu.

Candi Preah Khan menyambut saya dengan pelintasan lebar dengan pilar-pilar setinggi 2meter berpahat Garuda di tiap sisinya yang menghias kiri kanan jalan, membuat pelintasan tampil memukau. Tergambar imajinasi para pendeta Buddha dengan gumaman doa disertai denting genta berjalan melaluinya di malam hari dengan obor yang menyala di tiap pilar, membuat candi Preah Khan tampil megah dengan suasana magis.

Rangkaian pilar itu berakhir dengan sebuah balustrada berkepala naga di sebelah kiri dan kanan yang badannya disangga oleh para dewa dan asura, sebuah miniatur dari Gerbang Selatan Angkor Thom yang terkenal. Dan seperti candi-candi Khmer lainnya, di kanan kiri balustrada Naga itu terdapat kolam atau saluran air yang mengelilingi candi. Selain memiliki nilai philosofis yang dalam, saluran air itu memberi fungsi pengamanan dan menambah aura sejuk pada candi.

Pintu Gerbang Barat berhiaskan kisah Dewa Wisnu pada pedimen ini, seakan menyambut saya untuk berjalan ke sisi kiri dan kanan sebelum memasuki pintu. Saya seakan diantar untuk melihat Garuda setinggi 5meter yang menghiasi tiap 50meter dinding luar candi. Garuda itu tampak mencengkeram Naga, sebagai simbol, bukan untuk sebuah kemenangan, melainkan lebih pada simbol penguasaan dunia atau bumi (naga) dan surga atau langit (garuda).

Dan mesin waktu membawa saya ke masa keemasan itu. Dia-lah, Jayavarman VII, Sang Maharaja pendiri ribuan candi terkenal di kerajaan Khmer, yang memerintahkan pendirian candi Preah Khan pada tahun 1191 sebagai biara dan sekolah untuk para pendeta Buddha di atas tanah kejayaan terhadap pasukan kerajaan Champa. Untuk mengabadikan kemenangan ini, Sang Raja menorehkan inskripsi candi yang saat ini terkenal sebagai Nagarajayacri, yang pada awalnya berarti Tanah Suci Kemenangan yang beralih makna karena penerjemahan dari bahasa Siam menjadi Negeri Preah Khan atau Negeri Pedang Suci. Yang dimaksud dengan Pedang Suci adalah pedang suci dari abad ke 9 yang dipercaya milik Raja Jayavarman II dan diwariskan kepada raja-raja penggantinya dan merupakan simbol kemaharajaan yang dipuja dalam tradisi Khmer.

Sungguh Sang Maharaja Jayavarman VII tidak kepalang tanggung dalam mendirikan candi dan lingkungannya. Candi Preah Khan, sebagai candi utama, dipisahkan oleh waduk Jayatataka sepanjang 4km dengan kelompok percandian Ta Som dan Neak Pean yang berada di sebelah timurnya, yang keseluruhannya menggambarkan kedalaman makna filosofis selain sebagai dasar dari tata kelola air untuk mendukung kehidupan perkampungan dan lingkungan alam yang berkesinambungan. Juga sebuah tembok luar keliling dibangun dibalik saluran air sepanjang sisi 800 meter dan sisi 700 meter sehingga mencakup wilayah seluas 56 hektar yang terdiri dari hutan dan perkampungan.

This slideshow requires JavaScript.

Dan dalam imajinasi yang terpampang di benak, Raja Jayavarman VII tampil penuh wibawa memerintah kerajaan Khmer dengan pemikiran hebat dan toleransi yang besar, bahkan ruang ibadah yang dibangun dalam candi Preah Khan pun terbagi 3, bagian pusat menjadi tempat peribadatan Buddha dengan ditandai adanya stupa, sedangkan bagi umat beragama Hindu pengikut Wisnu dapat beribadah di bagian Barat dan di bagian Utara untuk pengikut Shiva. Sedangkan bagian Selatan dikhususkan bagi mereka yang memiliki tradisi pemujaan arwah para leluhur.

Menindaklanjuti keinginan dari Sang Maharaja Jayavarman VII untuk menghormati sang ayahanda, Dharanindravarman, para penerus Jayavarman VII mendirikan ruang pemujaan utama kepada Avalokitesvara dalam bentuk Sang Ayah dari Jayavarman VII, dan ruang pemujaan lainnya yang dipenuhi dengan ratusan patung dewa-dewi dengan dengan sesajian keseharian. Penerus Sang Maharaja ini menjadikan candi Preah Khan sebagai istana, terbukti dengan adanya limpahan harta di Candi Preah Khan dalam bentuk emas, perak, permata dan ratusan ribu mutiara termasuk seekor sapi bertanduk emas yang semuanya dipercaya digunakan untuk kesejahteraan seluruh penghuninya.

Terkubur dan terlupakan dalam hutan Angkor hingga abad 20, candi Preah Khan yang dibuat sederhana satu lantai ini, belum direstorasi secara signifikan, kecuali pembebasan lahan. Baru pada tahun 1939 dilakukan restorasi anastilosis sebagian dan penyimpanan patung-patung yang berdiri bebas. Kemudian pada tahun 1991 hingga sekarang organisasi World Monument Fund mulai memelihara candi indah ini.

Mesin waktu mengembalikan saya pada masa kini, mengikuti kaki yang melangkah memasuki bagian dalam Candi Preah Khan melalui gapura Barat yang terdiri dari 3 menara dengan gaya Bayon. Saya menikmati keheningan suasana sambil menikmati mangga manis yang dijual di awal pintu masuk dan membayangkan bahwa proses perdagangan sehari-hari seperti ini pun terjadi juga pada masa kejayaan Candi Preah Khan. Bukankah para pendeta, penari dan penghuni candi juga memerlukan makanan?

Setelah berjalan beberapa menit dalam kerindangan hutan tampaklah bangunan Candi yang dijaga oleh 2 dvarpala berdiri tanpa kepala yang gagah menghunus pedang. Pedang ini mengingatkan pada Pedang Suci Kerajaan (Royal Sacred Sword) yang legendaris. Dimanakah sekarang keberadaan Pedang Suci Kerajaan itu?

Dan seakan telah mendapatkan izin dari kedua Dvarapala, saya melangkah masuk ke dalam dan mendapatkan sebuah pedimen dan lintel cantik teronggok di atas tanah seakan kehilangan bangunan yang perlu dihiasinya. Kaki terus melangkah menikmati ruang-ruang yang dahulu dipenuhi aktivitas keseharian hingga tiba di persimpangan tempat sebuah patung Buddha tanpa kepala. Didekatnya lagi-lagi sebuah lintel teronggok di tanah bersandar dinding ruang dalam candi, mungkin sedang menunggu antrian untuk diletakkan pada tempatnya.

Kaki ini meneruskan langkah menyusuri lorong panjang yang di kiri kanannya berjendela, sepertinya saya mendengar suara denting halus dan doa yang dirapal oleh para pendeta muda yang berkelompok belajar di sudut-sudut ruang. Lagi-lagi imajinasi mempermainkan saya. Lorong itu tampak panjang membuat perspektif yang indah, pintu yang tampak semakin kecil dari kejauhan. Dan setelah didekati ternyata pintu itu memang rendah karena seorang wisatawan Barat harus membungkukkan badannya sedemikian rupa agar dapat melewatinya tanpa kepalanya terbentur. Di atas pintu-pintu yang rendah itu terdapat hiasan-hiasan cantik yang tak bisa dilewatkan begitu saja.

This slideshow requires JavaScript.

Saya mengikuti kaki melangkah hingga sampai ke tempat yang relatif kurang mendapat sinar matahari. Gelapnya lorong membuat saya berhati-hati melangkah jika tidak mau terkilir. Tak sadar saya melangkah lebih dalam hingga memasuki ruang yang tak biasa. Tak ada wisatawan di situ, hanya ada seorang penjaga bersembunyi di sudut yang seakan menuntun saya untuk masuk lebih dalam lagi. Saya mengikutinya dengan diam hingga tiba di sebuah ruang pemujaan. Saya terpesona, karena berada di ruang yang dikenal dengan nama Srei Krup Leak, ruang dua isteri bersaudara dari Jayavarman VII yang bernama Jarayajadevi dan Rajendradevi. Konon, disini tempat para perempuan lokal memohon kesuburan keturunan.

Candi Preah Khan ini serupa dengan Ta Prohm dengan akar-akar pohon fig yang menembus dinding-dinding candi, kadang meruntuhkan atau bahkan menahan bangunan candi. Ada pohon yang sudah mati tetapi akarnya tetap dipertahankan untuk menahan agar bangunan di bawahnya tidak runtuh.

Persimpangan demi persimpangan saya lalui hingga tiba saya keluar ke halaman lagi. Pada dinding samping tampak berhiaskan devata yang dipahat indah. Di sisi yang lain tampak sepasang Lingga Yoni, yang di Cambodia lebih dikenal sebagai representasi dari dewa Shiva.

Tempat saya berdiri saat itu disebut Ruang Penari (Hall of Dancer) dengan hiasan lintel apsara yang sangat indah. Sebuah teras terbuka dengan pilar-pilar tinggi dan imajinasi mempermainkan saya lagi. Sayup-sayup terdengar musik serupa gamelan mengiringi tarian sakral yang dibawakan oleh penari-penari cantik berkain dengan rambut tergerai berhiaskan bunga-bunga. Apsara-apsara makhluk surga itu kian menyihir dalam tarian yang memberikan aura hiburan menyenangkan.

Puas membayangkan tarian sakral yang dibawakan oleh para apsara, saya melangkah ke sisi lain yang disebut dengan House of Fire. Bangunan ini berdiri sendiri sehingga menimbulkan tanya, apakah sebagai tempat singgah hangat yang disediakan untuk istirahat para pengembara ataukah sebuah tempat penyalaan api sakral. Bahkan ada juga bangunan itu merupakan sebuah Dharmasala, tempat berdoa. Walaupun saya lebih condong kepada pilihan terakhir, jawaban itu tetap mengambang di permukaan benak.

Lagi-lagi candi Preah Khan ini menuntun saya secara magis. Dari ketidakjelasan tentang House of Fire, saya termangu di depan sebuah bangunan dua lantai yang cantik yang sama sekali tidak diketahui fungsinya. Saya lebih suka menganggap bangunan cantik 2 lantai ini sebagai icon candi Preah Khan selain patung dvarapala yang menghunus pedang. Sementara bangunan lain hanya terdiri dari satu lantai, mengapa disini terdapat bangunan dua lantai yang berdiri dengan anggunnya? Pastilah sebuah bangunan yang bermakna tinggi. Mesin waktu saya membisikkan bahwa disanalah tadinya tempat penyimpanan Pedang Suci Kerajaan yang legendaris itu.

This slideshow requires JavaScript.

Akhirnya waktu juga yang membawa saya kembali ke jalan keluar. Dan seperti di gerbang sebelumnya, di gerbang timur ini juga terdapat pelintasan lebar yang penuh rumput kehijauan yang terlihat lebih magis dengan monumen-monumen kecil di sebelah kanan kirinya.

Dan diujung pelintasan itu, sebuah saluran air lebar serupa sungai atau waduk yang menjadi tata kelola air untuk lingkungan sekitarnya. Saya duduk di pinggir teras kayu kecil di pinggir danau untuk menikmati sore yang menyenangkan. Jika sekarang saja terasa kehebatannya, saya tak mampu membayangkan betapa hebatnya lingkungan candi Preah Khan pada masa gemilangnya.

Sejarah Awal Kerajaan Cambodia, salah satu yang tertua di dunia


Dengan menggunakan metode Karbon-14, para ahli berhasil mengukur umur peralatan dari batu yang digunakan manusia di dalam sebuah gua di Laang Spean, sebelah barat laut Cambodia, yaitu sejak 6000-7000 tahun SM dan peralatan dari tembikar digunakan sejak 4200 tahun SM (sumber wikipedia)

Peradaban kuno.

Penemuan di atas sepertinya mengamini dugaan bahwa hampir 10 millenium lalu telah terbentuk peradaban manusia yang diperkirakan adalah etnis Khmer yang berasal dari wilayah China dan menjelajah hingga dataran yang kini disebut Cambodia. Selain bukti peralatan dari batu, para ahli arkeologi juga memperkirakan umur dari teknik pengerjaan padi di sawah di Cambodia sekitar 2000 tahun SM. Demikian pula peralatan perunggu yang ditemukan sekitar 1000 tahun setelahnya. Bahkan ditemukan pula bukti bahwa penduduk Cambodia telah tinggal di perkampungan yang berbenteng dan memiliki sentra kegiatan, makan nasi dan ikan. Pada millenium berikutnya, ketika artefak perunggu ditemukan di Kampong Chhnang, di wilayah tengah Cambodia sekarang, membuktikan bahwa saat itu mereka telah memiliki ketrampilan mengolah logam.

Kerajaan Funan (Nokor Phnom)

Oc Eo - Angkor Borei
Oc Eo – Angkor Borei

Hebatnya lagi, berdasarkan hasil penggalian sebuah kota pelabuhan dekat Oc-Eo, Vietnam selatan sekarang ini, terdapat bukti-bukti bahwa peradaban pertama perkotaan Cambodia telah dibangun mencakup wilayah pedalaman daratan dan wilayah pantai, yang saling terhubung melalui kanal-kanal besar. Saat itu mereka telah memiliki keahlian membangun sistem saluran yang luas, panjang dan kompleks, baik sebagai kanal-kanal pengatur air sungai Mekong, maupun sebagai sarana transportasi dari Ibukota ke pelabuhan di daerah pantai. Peradaban hebat ini dikenal oleh orang-orang China saat itu, sebagai Kerajaan Funan Baca lebih lanjut